SEMARANG, Jatengnews.id – Warga yang bermukim di sekitar Jalan Gombel Lama, Tinjomoyo, Banyumanik, Kota Semarang harus mengelus dada setiap hari. Sejak perbaikan jalan dimulai, kondisi lingkungan mereka berubah total, membawa sederet dampak buruk bagi kehidupan sehari-hari.
Penutupan akses jalan sementara menjadi pukulan telak bagi sektor ekonomi lokal. Sejumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) milik warga mendadak sepi pembeli akibat kehilangan akses arus lalu lintas yang biasanya ramai.
Dampak proyek tidak hanya memukul roda ekonomi, tetapi juga mengancam fisik hunian warga. Aktivitas alat berat yang menancapkan paku bumi di area proyek memicu getaran hebat yang merusak bangunan sekitar.
Seorang warga RT 06/RW 05 yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa rumahnya mengalami keretakan yang kian parah.
“Sebelumnya memang sudah ada retakan karena lokasi ini berada di area tanah bergerak, tapi belum seberapa. Setelah ada proyek ini, retakannya tambah melebar. Bahkan pintu rumah saya sampai tidak bisa ditutup,” keluhnya.
Meski kondisi kerusakan tersebut sudah disurvei dan difoto oleh perwakilan pihak proyek, kejelasan mengenai ganti rugi masih mengambang. Warga mengaku hanya memegang janji lisan.
“Katanya bakal bertanggung jawab, namun tanggung jawab seperti apa kami masih belum tahu. Apakah hanya ditambal-tambal saja atau bagaimana,” lanjutnya.
Secara keseluruhan, ada sekitar enam RT di sepanjang Jalan Gombel Lama yang terdampak langsung oleh proyek ini. Ketua RT 05/RW 05, Teguh Pramono, membenarkan adanya keresahan masif yang dirasakan warganya. Di wilayahnya sendiri, tercatat ada delapan UMKM yang terdampak langsung.
“Kalau resah, semuanya pasti resah. Setiap hari debu bertebaran di jalan, belum lagi kebisingan dari aktivitas kendaraan berat seperti truk molen,” ujar Teguh.
Terkait penurunan omzet yang dialami para pelaku UMKM, Teguh menyebutkan bahwa sejauh ini tidak ada kompensasi berupa uang tunai. Pihak proyek sempat menawarkan solusi alternatif berupa prioritas lapangan kerja bagi warga yang terdampak. Namun, solusi ini dinilai kurang efektif dan salah sasaran.
“Yang terkena imbas memang ditawari pekerjaan di proyek, tetapi ada kriteria khususnya. Sementara pelaku UMKM di sini rata-rata sudah orang tua, jadi jelas tidak bisa ikut bekerja di sana,” pungkas Teguh.
Berdasarkan sosialisasi awal, proyek yang meliputi pembangunan jalan, perbaikan saluran air, dan pembangunan gedung mal ini ditargetkan memakan waktu selama tujuh bulan. Meski warga memahami bahwa proyek ini bertujuan untuk perbaikan wilayah di masa depan, untuk saat ini mereka terpaksa harus terus bertahan di tengah kepungan debu, kebisingan, dan ketidakpastian ekonomi. (01).
Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin


