BOYOLALI, Jatengnews.id — Di bawah temaram lampu Gedung Muzdalifah, Embarkasi Solo, seorang perempuan lansia duduk tegap di atas kursi rodanya. Namanya Maliyah, usianya kini menginjak 75 tahun.
Di tengah hiruk-pikuk keberangkatan kloter pertama jemaah haji Jawa Tengah, Selasa (21/4/2026) malam, sorot matanya menyimpan binar yang sulit dijelaskan perpaduan antara haru, rindu, dan rasa syukur yang tumpah.
Bagi warga Margasari, Kabupaten Tegal ini, perjalanan ke Baitullah bukanlah sekadar memenuhi rukun Islam kelima. Ini adalah akhir dari penantian panjang selama 14 tahun, sekaligus pemenuhan janji yang ia rajut bersama mendiang suaminya belasan tahun silam.
Perjalanan Maliyah menuju keberangkatan tahun ini tidaklah mulus. Hanya beberapa hari sebelum jadwal terbang, fisiknya sempat tumbang. Ia harus menjalani opname di rumah sakit pada hari Senin akibat kondisi kesehatan yang menurun. Kabar itu sempat menyisipkan kekhawatiran: apakah ia akan gagal berangkat lagi?
“Senin kemarin sempat opname. Tapi alhamdulillah, Allah beri kesembuhan. Tadi dicek kesehatan lagi, hasilnya sudah bagus,” ujar Maliyah dengan suara yang masih terdengar sedikit parau namun penuh semangat.
Ketangguhan fisiknya seolah dipicu oleh kerinduan yang sudah melampaui batas. Bagi Maliyah, sakit di tubuhnya tak sebanding dengan keinginan untuk segera bersujud di depan Kakbah.
Ada luka lama yang ia bawa dalam koper keberangkatannya. Empat atau lima tahun lalu, sang suami yang setia menabung bersamanya sejak awal pendaftaranberpulang ke Rahmatullah. Kursi di sampingnya yang seharusnya terisi oleh sosok pendamping hidup, kini kosong.
“Dulu daftar berdua dengan suami. Tapi Bapak sudah meninggal beberapa tahun lalu,” kenangnya singkat.
Meski langkahnya kini tak lagi didampingi sang suami, Maliyah tak sendiri. Sang menantu setia mendampinginya, mendorong kursi roda melewati lorong-lorong embarkasi, memastikan ibu mertuanya itu bisa menunaikan rukun-rukun haji dengan nyaman.
Maliyah adalah satu dari 1.706 jemaah prioritas lansia dari Jawa Tengah yang berangkat tahun ini. Ia menjadi simbol bahwa keterbatasan fisik dan usia bukanlah penghalang ketika panggilan suci sudah datang.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Kusminar, mengakui bahwa jemaah seperti Maliyah mendapatkan perhatian khusus melalui asesmen medis yang ketat. Semangat para lansia ini pula yang mendorong panitia untuk bekerja ekstra dalam memastikan mereka tetap sehat hingga kembali ke tanah air. (01).



