BANJARNEGARA, Jatengnews.id — Singkong yang selama ini kerap dipandang sebagai pangan alternatif setelah nasi, kini mulai menunjukkan potensinya sebagai komoditas bernilai tinggi.
Di tangan pelaku usaha lokal, ubi kayu diolah menjadi modified cassava flour (mocaf) yang mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Pelaku usaha mocaf asal Banjarnegara, Riza Azyumardi Azra, mengatakan dirinya mulai menekuni usaha pengolahan tepung singkong sejak 2015. Saat itu, ia prihatin karena harga singkong petani hanya dihargai sekitar Rp200 per kilogram.
“Awalnya saya ingin membantu petani singkong agar hasil panennya memiliki nilai jual lebih baik. Sekarang alhamdulillah permintaan mocaf terus meningkat,” ujar Riza saat ditemui di gerai Rumah Mocaf, Kamis (14/5/2026).
Melalui usaha yang dirintisnya, Riza menyerap hasil panen petani dari berbagai wilayah Banjarnegara untuk diolah menjadi tepung mocaf dan berbagai produk turunan non-gluten. Produk tersebut di antaranya chocolate chips, chiffon cake, selondok, tepung roti, tepung berbumbu, hingga gula cair.
Dalam sebulan, produksi mocaf untuk pasar domestik mencapai 30 hingga 40 ton. Produk tersebut dipasarkan melalui toko retail, penjualan daring, hingga pesanan pribadi.
“Untuk pasar luar negeri, kami pernah mengirim produk ke Oman, Turki, dan Malaysia. Saat ini juga ada permintaan dari China,” katanya.
Menurut Riza, produk berbahan mocaf memiliki prospek besar karena dinilai lebih sehat dan cocok dikonsumsi penderita celiac maupun alergi gandum. Ia berharap tepung mocaf dapat masuk dalam program nasional, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami berharap tepung lokal mendapat dukungan subsidi agar bisa bersaing dengan tepung gandum yang saat ini masih mendominasi pasar,” tambahnya.
Sementara itu, petani singkong Desa Parakan, Kecamatan Purwanegara, Latif, mengaku kondisi petani kini jauh lebih baik sejak berkembangnya industri mocaf di Banjarnegara.
“Dulu kami kesulitan menjual singkong, bahkan harus mencari pembeli sampai luar kota. Sekarang harga singkong sudah lebih dari Rp1.000 per kilogram,” ujarnya.
Ia menjelaskan, petani di desanya mampu menghasilkan sekitar 21 ton singkong per tahun dari lahan seluas 1 hingga 2 hektare. Untuk penjualan tepung mocaf, pihaknya rutin bekerja sama dengan Rumah Mocaf dengan kapasitas 10 hingga 15 ton per bulan.
“Kami berharap tepung mocaf semakin dikenal masyarakat luas dan bisa menjadi kebanggaan pangan lokal Indonesia,” kata Latif.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong pengembangan pangan lokal berbahan singkong. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, sejak 2022 produk turunan tepung lokal seperti mi mocaf, beras jagung, dan beras singkong telah dimasukkan sebagai bagian cadangan pangan pemerintah selain beras.(02)


