Sumanto Jadi Motor Pelestarian Budaya, Seniman Merasa Punya Rumah Berkarya

Kegiatan budaya tidak hanya bersifat seremoni, tetapi juga mampu melahirkan regenerasi seniman muda agar warisan budaya tetap hidup dan berkembang

KARANGANYAR, Jatengnews.id – Komitmen Ketua DPRD Jateng Sumanto dalam melestarikan seni budaya daerah kembali mendapat apresiasi dari para pelaku seni di Kabupaten Karanganyar.

Melalui berbagai pagelaran rutin yang melibatkan seniman lokal, Sumanto dinilai berhasil menghadirkan ruang berkumpul sekaligus panggung ekspresi bagi para pelaku budaya tradisional.

Apresiasi tersebut disampaikan Ketua Paguyuban Dalang Karanganyar, Ki Sulardiyanto Pringgo Carito saat Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon Gatotkaca Sungging di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar, belum lama ini. Kegiatan selapanan yang digelar Sumanto kali ini juga dimeriahkan penampilan Grup Dangdut Klasik Dejavu asal Desa Suruh.

“Ini ada seniman dalang, karawitan, pesinden, campursari, dan seniman dangdut berkumpul di Kabupaten Karanganyar. Mohon doa restu semoga para seniman terus semangat nguri-uri budaya,” ujarnya.

Pentas Wayang Kulit dengan Lakon Gatotkaca Sungging di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Foto : Dok DPRD Jateng)
Pentas Wayang Kulit dengan Lakon Gatotkaca Sungging di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Foto : Dok DPRD Jateng)

Menurut Ki Sulardiyanto, dukungan dari wakil rakyat sangat berarti bagi keberlangsungan kesenian daerah di tengah arus modernisasi. Kehadiran wadah bersama bagi para seniman dianggap mampu memperkuat solidaritas sekaligus menjaga eksistensi budaya lokal.

“Selama ini para seniman bergerak sendiri-sendiri. Dengan adanya perhatian dan fasilitasi dari Pak Manto, kami merasa lebih diperhatikan dan punya ruang untuk terus berkarya,” katanya.

Ia menyebut, Sumanto setidaknya telah 31 kali menggelar pagelaran wayang kulit di Karanganyar. Bahkan dalam peringatan Hari Wayang Nasional dan Hari Wayang Dunia, pertunjukan digelar hingga 36 jam dan 28 jam nonstop.

“Dua tahun lalu Pak Manto menggelar pagelaran wayang 36 jam nonstop. Tahun lalu 28 jam dalam rangka Hari Wayang Nasional. Bahkan Pak Manto kami nobatkan menjadi Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar,” tandasnya.

Ki Sulardiyanto menambahkan, pagelaran tersebut juga menjadi ajang berkumpulnya para dalang se-Kabupaten Karanganyar. Dari total 94 anggota paguyuban, sekitar 40 dalang masih aktif berkesenian hingga saat ini.

Kepala Desa Suruh, Gunowo, turut mengapresiasi kepedulian Sumanto terhadap pelestarian budaya tradisional. Ia berharap kegiatan serupa terus digelar agar kesenian daerah tetap lestari dan dapat dinikmati generasi mendatang.

“Pentas kesenian seperti ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memberikan tuntunan bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Sumanto mengaku senang dapat terus bersilaturahmi dengan para pelaku seni tradisional melalui pagelaran wayang kulit yang rutin digelar setiap 35 hari sekali.

“Kali ini semakin meriah dengan adanya pentas dari Grup Dangdut Jadul Dejavu. Mudah-mudahan ke depan makin dikenal masyarakat,” katanya.

Ia juga membuka kesempatan bagi berbagai kelompok seni lain untuk tampil dan memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas.

“Sebelumnya ada grup campursari tampil di sini, setelah itu sebulan bisa pentas sampai 40 kali. Ke depan kalau ada grup keroncong atau Koes Plus-an juga silakan tampil,” paparnya.

Menurut Sumanto, pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan daerah. Wayang, karawitan, hingga kesenian rakyat lainnya merupakan identitas masyarakat yang harus dijaga bersama.

Ia berharap kegiatan budaya tidak hanya bersifat seremoni, tetapi juga mampu melahirkan regenerasi seniman muda agar warisan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. (ADV)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN