Sedekah Laut di Mushola Apung Bahrus Surur, KKN UIN Walisongo Turut Lestarikan Tradisi Nelayan Berahan Wetan

Tradisi tahunan nelayan Dusun Menco diisi khataman Al-Qur’an, tahlilan, dan makan bersama sebagai bentuk syukur atas hasil laut.

Demak, JatengNews.id – Tradisi Sedekah Laut kembali digelar oleh para nelayan Dusun Menco, Desa Berahan Wetan, Kabupaten Demak yang diikuti mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 16, pada Rabu (6/5/2026).

Kegiatan budaya tahunan tersebut berlangsung khidmat di Mushola Apung Bahrus Surur dengan rangkaian khataman Al-Qur’an, tahlilan, manaqiban, hingga makan bersama sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut yang diperoleh para nelayan.

Tradisi dimulai selepas salat Dzuhur hingga menjelang Ashar. Setelah rangkaian doa bersama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan salat berjamaah dan hidangan makanan nampan yang dinikmati bersama oleh masyarakat nelayan dan tamu yang hadir.

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 16 turut berkolaborasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Kehadiran mahasiswa KKN menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus dukungan terhadap pelestarian tradisi lokal di Desa Berahan Wetan.

Mahasiswa KKN ikut berpartisipasi dalam khataman Al-Qur’an dengan membaca surat Ad-Dhuha hingga An-Nas, kemudian mengikuti tahlil dan doa khataman bersama warga.

Kepala Madrasah Diniyah setempat, Haidar, menjelaskan bahwa tradisi sedekah laut bukanlah kegiatan membuang makanan ke laut, melainkan bentuk syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diterima para nelayan setiap hari.

“Tradisi sedekah laut kui ora guwak ndas kebo neng laut yo ora guwak sego neng laut tapi kito kudu biso bersyukur atas rezekine Gusti Allah sing bendino awakdewe ntuk iwak,” ujar Haidar.

Menurutnya, rasa syukur diwujudkan melalui khataman Al-Qur’an, tahlilan, manaqiban, dan makan bersama agar rezeki yang diperoleh menjadi lebih berkah serta mempererat hubungan antarwarga.

Selain menjadi tempat ibadah, Mushola Apung Bahrus Surur juga memiliki fungsi penting bagi kehidupan para nelayan. Salah satu tokoh nelayan setempat menyebut mushola tersebut menjadi tempat singgah sekaligus tempat berkumpul para nelayan saat melaut.

“Mushola apung iki digawe kanggo wong nelayan kui iso beribadah setiap waktunya lan ieng karo penciptane,” ungkap salah satu tokoh nelayan.

Keberadaan mushola apung dinilai sangat membantu para nelayan dalam menjalankan ibadah di tengah aktivitas mencari ikan. Pada malam hari, mushola tersebut juga menjadi tempat istirahat dan ruang kebersamaan antar nelayan.

Melalui tradisi Sedekah Laut ini, masyarakat berharap nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi tahunan tersebut juga menjadi simbol kuatnya hubungan masyarakat pesisir dengan nilai religius dan budaya lokal yang tetap terjaga hingga kini.

Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. Dian Pramesti

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN