Lautan Warga Warnai Sedekah Bumi Desa Pecuk, KKN UIN Walisongo Soroti Kekompakan 11 RT

Tradisi Sedekah Bumi Desa Pecuk dimeriahkan karnaval, rebutan gunungan hasil tani, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Demak, JatengNews.id- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 7 turut memeriahkan tradisi Sedekah Bumi Desa Pecuk, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, pada Rabu (06/05/2026).

Tradisi tahunan yang diikuti seluruh warga dari 11 RT tersebut berlangsung meriah melalui karnaval budaya, rebutan gunungan hasil tani, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen.

Sebagai desa yang sebagian besar wilayahnya merupakan lahan pertanian, masyarakat Desa Pecuk menjadikan Sedekah Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Tradisi ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong warga.

Rangkaian kegiatan Sedekah Bumi tahun ini diawali dengan karnaval keliling desa yang diikuti masyarakat dari 11 RT. Warga secara mandiri menghias lingkungan masing-masing dengan bendera warna-warni serta gunungan hasil tani yang menjadi daya tarik utama sepanjang rute karnaval.

Mahasiswa KKN Posko 7 turut mengikuti persiapan kegiatan sejak pagi hari di Masjid Al-Istiqomah. Iring-iringan peserta kemudian bergerak menyusuri jalan desa menuju kediaman Kepala Desa sebagai titik akhir kegiatan karnaval.

Banser juga ikut terlibat dalam pengamanan dan pengaturan jalannya acara agar tetap tertib dan lancar.

Semangat kebersamaan warga terlihat dari antusiasme masyarakat dalam mempersiapkan berbagai rangkaian acara. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa terlibat aktif memeriahkan tradisi tahunan tersebut.

Selain karnaval, Sedekah Bumi Desa Pecuk juga dimeriahkan dengan makan bersama warga, penampilan drum band, atraksi barongan, hingga tradisi rebutan gunungan hasil tani yang dipusatkan di halaman kediaman Kepala Desa.

Tradisi rebutan gunungan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan warga. Gunungan yang berisi hasil bumi diperebutkan masyarakat karena dipercaya membawa keberkahan dan rezeki.

Kepala Desa Pecuk, H. Ery Susilo, mengatakan bahwa Sedekah Bumi merupakan tradisi turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian yang diperoleh.

“Sedekah bumi ini adalah acara tahunan sebagai bentuk sesembahan makanan hasil pertanian — dari bumi untuk kita,” ujarnya.

Memasuki sore hingga malam hari, rangkaian acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga dini hari. Pertunjukan tersebut turut dihadiri oleh Camat setempat dan disaksikan ratusan warga dari berbagai kalangan usia.

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 7 menilai tradisi Sedekah Bumi di Desa Pecuk tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempererat kerukunan antarwarga.

Kekompakan 11 RT dalam mempersiapkan acara menunjukkan kuatnya budaya gotong royong yang masih terjaga di tengah masyarakat desa.

Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. Dian Pramesti

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN