Yori Pusparani Bekali Mahasiswa DKV SCU Jadi Freelancer di Era AI

Di hadapan para mahasiswa, Yori mengajak peserta untuk terus mengembangkan dan memperbarui kemampuan, khususnya di bidang desain

SEMARANG, Jatengnews.id – Dalam rangkaian Dies Natalis ke-18, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Soegijapranata Catholic University (SCU) menggelar berbagai kegiatan kreatif di Uptown Mall Semarang, Jumat (22/5/2026).

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian mahasiswa adalah Creative Sharing yang menghadirkan dosen Universitas Budi Luhur, Yori Pusparani, S.Ds., M.Ds., Ph.D., sebagai narasumber.

Di hadapan para mahasiswa, Yori mengajak peserta untuk terus mengembangkan dan memperbarui kemampuan, khususnya di bidang desain. Dalam sesi berbagi tersebut, ia menyoroti masih banyak mahasiswa yang bingung menentukan arah karier setelah lulus, termasuk ketika memilih menjadi freelancer. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar freelancer pemula adalah menentukan harga jasa desain.

“Tadi kami menjelaskan kepada teman-teman bahwa ada dua metode dalam menentukan harga, yaitu berdasarkan proses dan investasi. Memang ini bukan formula baku, tetapi setidaknya bisa menjadi gambaran bagi mahasiswa dalam menentukan nilai desain yang mereka buat,” ujar Yori, yang juga merupakan dosen DKV Universitas Budi Luhur Jakarta.

Ia menambahkan, penentuan harga juga perlu mempertimbangkan siapa klien atau konsumen yang dihadapi. Karena itu, mahasiswa perlu memahami cara menentukan harga jasa secara tepat, khususnya bagi mereka yang baru memulai karier sebagai freelancer.

Saat disinggung mengenai tantangan dunia desain di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), Yori menilai bahwa desainer tidak bisa lepas dari kemajuan teknologi. Namun, AI menurutnya hanya sebatas alat bantu, sedangkan hasil akhir tetap ditentukan oleh kreativitas manusia.

“AI itu hanya tool. Sisanya tetap kita yang menentukan hasil akhirnya. Jadi kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada AI. Kalau ingin menjadi freelancer, manfaatkan AI sebagai alat bantu, sementara kreativitas tetap berasal dari diri sendiri dalam mengerjakan proyek,” jelasnya.

Terkait peluang desainer di tengah gempuran AI, Yori menilai semuanya bergantung pada konsumen yang dihadapi. Menurutnya, desainer juga perlu memberikan edukasi kepada klien mengenai kelebihan dan kekurangan penggunaan AI dalam proses desain.

“Desainer itu bukan sekadar tukang desain. Kita juga harus bisa memetakan cara kerja dan menunjukkan apa yang benar-benar kita kerjakan. Bagi saya, peluang di bidang desain masih sangat terbuka meskipun ada AI,” katanya.

Yori menambahkan, jika desainer mampu memanfaatkan teknologi dengan baik, proses pekerjaan akan menjadi lebih cepat dan efisien. Selain itu, AI juga dapat membantu memberikan lebih banyak referensi yang kemudian bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan kreatif.

Ia berharap kegiatan sharing tersebut dapat membantu mahasiswa memahami kemampuan yang dimiliki dan terus mengasah pengalaman. “Jadi teman-teman harus bisa mengenali dan menjual kemampuan diri mereka. Karena ketika kita menjual diri, yang dijual bukan hanya hasil desain, tetapi juga pelayanan, komunikasi, dan profesionalisme dalam bekerja,” pungkasnya.

Sementara itu, mewakili Kaprodi DKV SCU, Sekretaris Program Studi DKV SCU, Agnes Indah Suciani Kristanti, S.Ds., M.I.Kom., menjelaskan bahwa perayaan Dies Natalis ke-18 tahun ini dikemas lebih meriah melalui rangkaian acara bertajuk “Paradays”. Meski hari ulang tahun DKV sebenarnya jatuh pada 15 Mei, perayaan baru digelar pada Jumat (22/5/2026) menyesuaikan agenda tahunan tersebut.

Menurut Agnes, Paradays menjadi momentum besar karena menggabungkan berbagai program kerja mahasiswa, mulai dari creative sharing, workshop, pameran karya, hingga reuni alumni. Salah satu kegiatan yang berlangsung adalah Creative Sharing bersama Yori Pusparani yang membahas peningkatan kompetensi mahasiswa di bidang desain dan industri kreatif.

“Kami sengaja menghadirkan praktisi maupun dosen dari luar kampus agar mahasiswa mendapatkan wawasan baru dari dunia industri dan pengalaman profesional,” ujarnya.

Selain creative sharing, kegiatan juga diisi workshop bersama alumni yang membahas dunia kerja dan perkembangan industri kreatif. Agnes mengatakan pihaknya mulai memperkuat hubungan dengan alumni agar dapat terus berkolaborasi dalam berbagai kegiatan kampus.

“DKV itu bukan sekadar menggambar. Kami ingin masyarakat memahami bahwa Desain Komunikasi Visual adalah tentang bagaimana merancang pesan komunikasi kepada target audiens melalui visual,” jelasnya.

Dalam rangkaian Paradays tahun ini, DKV SCU juga menggelar lomba film nasional yang baru pertama kali dimasukkan dalam agenda Dies Natalis. Peserta berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Tegal, dan Semarang. Nantinya, karya para finalis akan diputar bersamaan dengan film karya mahasiswa DKV SCU.

Tak hanya itu, mahasiswa juga memamerkan berbagai karya seperti desain karakter, tipografi, fotografi, hingga novel grafis. Agnes menyebut pameran tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk lebih percaya diri dan bangga terhadap karya mereka sendiri.

“Kami ingin mahasiswa merasakan bahwa karya yang dibuat dengan maksimal layak diapresiasi dan dipamerkan kepada publik,” katanya.

Selain perayaan Dies Natalis, kegiatan ini juga menjadi penanda satu tahun perpindahan kampus DKV SCU ke kawasan BSB Semarang. Dalam kesempatan tersebut, kampus turut memperkenalkan sejumlah ruang kreatif baru yang digunakan mahasiswa untuk proses pembelajaran dan pengembangan prototipe karya.

Agnes menambahkan, saat ini pihak kampus juga tengah menjajaki kerja sama dengan Pasar Modern BSB sebagai bagian dari pengembangan kolaborasi DKV SCU dengan pelaku UMKM dan industri kreatif. (01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN