SEMARANG, Jatengnews.id – Provinsi Jawa Tengah mencatat inflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026, setelah pada April mengalami deflasi 0,03 persen.
Meski terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, inflasi Jawa Tengah masih berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,28 persen (mtm).
Pelaksana Harian Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Anggis Rakhmi, mengatakan tekanan inflasi pada Mei terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Inflasi pada periode laporan dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit yang mengalami gangguan produksi akibat cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tumbuhan, serta kekeringan di sejumlah sentra produksi,” ujarnya Sabtu (06/06/2026).
Sentra produksi cabai di Temanggung serta bawang merah di Pati dan Demak mengalami penurunan produktivitas sehingga mendorong kenaikan harga di pasaran. Kondisi tersebut juga diperkuat oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan musim hajatan.
Selain komoditas hortikultura, harga minyak goreng turut mengalami kenaikan akibat keterbatasan pasokan dan meningkatnya biaya produksi, terutama karena naiknya harga bahan pendukung berupa plastik kemasan.
Meski demikian, tekanan inflasi pangan berhasil tertahan oleh penurunan harga telur ayam ras dan daging ayam ras yang didukung pasokan melimpah di tingkat peternak.
Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi juga disumbang oleh kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan andil 0,06 persen (mtm). Kenaikan harga telepon seluler dipicu meningkatnya biaya komponen elektronik seperti chipset dan memori akibat tingginya permintaan industri kecerdasan buatan (AI).
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut memberikan tekanan inflasi seiring berlanjutnya dampak penyesuaian harga LPG non-subsidi yang dilakukan pada April 2026 mengikuti perkembangan harga energi di pasar internasional.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat deflasi dengan andil minus 0,05 persen. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya harga emas perhiasan sejalan dengan koreksi harga emas global. Kondisi tersebut terjadi akibat kebijakan bank sentral dunia, termasuk The Fed, yang masih mempertahankan suku bunga tinggi sehingga investor beralih ke instrumen berbasis bunga dan melakukan aksi ambil untung.
Secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mengalami inflasi pada Mei 2026. Inflasi tertinggi tercatat di Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang masing-masing mencapai 0,31 persen (mtm), disusul Kabupaten Wonogiri sebesar 0,30 persen dan Purwokerto sebesar 0,28 persen.
Adapun Kota Semarang mencatat inflasi sebesar 0,16 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lainnya di Jawa Tengah.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tertinggi terjadi di Cilacap sebesar 3,22 persen, diikuti Kabupaten Wonogiri 3,02 persen, Kota Tegal 2,90 persen, Purwokerto 2,88 persen, dan Surakarta 2,85 persen. Sementara inflasi tahunan Kota Semarang tercatat sebesar 2,79 persen.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah dan TPID kabupaten/kota se-Jawa Tengah akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas harga.
“Berbagai program pengendalian inflasi akan difokuskan pada upaya menjaga kecukupan pasokan serta kelancaran distribusi barang dan komoditas strategis agar inflasi tetap terkendali dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan, yakni 2,5±1 persen, ” imbuhnya.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara


