SEMARANG, Jatengnews.id – Maraknya pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Jawa Tengah dalam beberapa pekan terakhir memunculkan kekhawatiran masyarakat terkait potensi blackout. Namun, Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kondisi yang terjadi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai blackout.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengatakan pemadaman yang dilakukan PLN saat ini justru merupakan upaya untuk mencegah terjadinya blackout atau kolapsnya sistem kelistrikan secara menyeluruh.
“Kalau disebut blackout, itu kurang tepat. Ini kan terkontrol dan memang disengaja untuk dimatikan agar mencegah blackout. Kalau blackout, artinya sistem kelistrikan sudah kolaps,” kata Deon kepada Jatengnews.id pada Kamis (18/6/2026) malam.
Menurutnya, dalam sistem kelistrikan, pasokan dan konsumsi listrik harus selalu berada dalam kondisi seimbang.
Ketika kemampuan pembangkit menurun sementara permintaan listrik tetap tinggi, operator sistem harus melakukan pengurangan beban melalui pemadaman terbatas di sejumlah wilayah.
“Kalau permintaan listrik melebihi kemampuan suplai, frekuensi jaringan bisa turun dan berpotensi memicu proteksi otomatis pada infrastruktur listrik. Kalau itu terjadi secara berantai, sistem bisa mengalami blackout,” ujarnya.
Deon menjelaskan, PLN saat ini menghadapi situasi di mana sejumlah pembangkit, khususnya PLTU berbahan bakar batu bara, tidak dapat beroperasi secara optimal akibat gangguan pasokan bahan bakar.
Kondisi tersebut memaksa PLN melakukan manajemen beban secara terbatas guna menjaga stabilitas sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali).
Ia juga menyoroti posisi Jawa Tengah yang menjadi bagian dari sistem kelistrikan terintegrasi Jawa-Bali. Meski memiliki pembangkit sendiri, kebutuhan listrik di Jawa Tengah terus meningkat seiring pertumbuhan kawasan industri.
“Jawa Tengah demand listriknya semakin tinggi. Karena sistemnya saling terhubung, maka gangguan pada pembangkitan di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lainnya,” jelasnya.
Deon menegaskan, blackout merupakan kondisi yang sangat dihindari karena kerugian yang ditimbulkan sangat besar, baik bagi masyarakat maupun operator listrik.
“Listrik mati dalam skala besar bisa menghentikan aktivitas ekonomi. Bagi PLN sendiri, memulihkan pembangkit termal seperti PLTU juga membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar,” katanya.
Ia mencontohkan peristiwa blackout di Jawa pada 2019 dan di Sumatera beberapa waktu lalu yang dipicu gangguan transmisi dan menyebabkan sistem kelistrikan mengalami kolaps.
Meski demikian, ia menilai kasus di Jawa Tengah saat ini memiliki penyebab yang berbeda karena lebih berkaitan dengan kemampuan pembangkit dalam beroperasi secara optimal.
“Sejauh yang terlihat saat ini, penyebabnya berbeda dengan blackout 2019. Yang sekarang lebih kepada pembangkit yang tidak bisa beroperasi maksimal sehingga perlu dilakukan pengelolaan beban agar sistem tetap aman,” tandasnya.
Penulis : Muhammad Kamal
Editor : Alif Nazzala Rizqi


