Hendardji Soepandji Nilai Semarang sebagai Kota Modern yang Tetap Berakar pada Budaya di Era Kepemimpinan Wali Kota Agustina

Hendardji menambahkan, arah pembangunan Semarang yang mengedepankan harmoni budaya menjadi modal penting bagi kota untuk terus berkembang.

JAKARTA, Jatengnews.id – Kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dinilai berhasil memperkuat wajah Kota Semarang sebagai daerah yang terus berkembang tanpa kehilangan jati diri budaya.

Ketua Umum Pawon Semar, Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr. Hendardji Supandji, menyebut kemajuan dan keharmonisan masyarakat Semarang semakin terlihat melalui berbagai upaya pelestarian budaya.

Hal tersebut disampaikan Hendardji saat menghadiri Gelar Seni dan Budaya Kota Semarang bertajuk Harmoni Semarang di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (21/6/2026).

Menurut Hendardji, di bawah kepemimpinan Agustina Wilujeng, Semarang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan kota, penguatan budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.

“Kota Semarang terus berkembang menjadi kota yang maju, namun tetap menjaga identitas budayanya. Seni dan budaya tumbuh, masyarakat hidup rukun dalam keberagaman,” ujar Hendardji.

Ia menilai komitmen Agustina dalam memberi ruang bagi seniman, budayawan, dan komunitas menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Semarang. Berbagai kegiatan kebudayaan yang digelar pemerintah kota turut memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya.

Dalam acara tersebut, Agustina menegaskan bahwa budaya menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan Kota Semarang. Menurutnya, Semarang sejak awal lahir dari keberagaman budaya yang berpadu dan membentuk karakter masyarakat hingga saat ini.

“Semarang adalah kota yang lahir dari perjumpaan berbagai budaya. Ada budaya Jawa, Tionghoa, Arab, dan berbagai budaya Nusantara yang hidup berdampingan. Keberagaman ini menjadi kekuatan kita dalam membangun kota,” kata Agustina.

Melalui pertunjukan Harmoni Semarang, masyarakat diajak menyaksikan perjalanan panjang kota, mulai dari kehidupan masyarakat, sejarah perjuangan Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga tradisi Dugderan sebagai simbol persatuan warga lintas agama dan budaya.

Agustina mengatakan, keberadaan tradisi seperti Dugderan menjadi bukti bahwa masyarakat Semarang mampu menjadikan perbedaan sebagai energi positif untuk membangun kebersamaan.

“Budaya tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu. Budaya harus menjadi kekuatan yang menghidupkan kreativitas, memperkuat persatuan, dan mendukung kemajuan kota,” tegasnya.

Hendardji menambahkan, arah pembangunan Semarang yang mengedepankan harmoni budaya menjadi modal penting bagi kota untuk terus berkembang.

Ia berharap semangat pelestarian budaya yang terus diperkuat di era kepemimpinan Agustina dapat menjadi fondasi bagi Semarang sebagai kota yang maju, inklusif, dan tetap memiliki karakter.

Penulis  : Alif Nazzala Rizqi

Editor     : Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN