SEMARANG, Jatengnews.id – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menghadirkan kampanye budaya bertajuk Wastra Culture.
Kampanye ini bertujuan mengajak generasi muda untuk lebih mengenal, mencintai, dan bangga menggunakan wastra Indonesia melalui pendekatan yang kreatif, edukatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui kolaborasi dengan UMKM lokal Ratimaya, Wastra Culture memperkenalkan batik dan tenun dengan tampilan yang lebih segar dan modern tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah membawa batik keluar dari ruang formal dan menghadirkannya langsung di tengah masyarakat. Tim Wastra Culture ingin menunjukkan bahwa batik dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan serta tetap terlihat menarik bagi generasi muda.
Kampanye ini diawali di kawasan Car Free Day Simpang Lima Semarang. Di tengah aktivitas olahraga dan rekreasi masyarakat, para peserta tampil mengenakan berbagai kreasi busana berbahan batik yang sederhana namun menarik perhatian.
Respons masyarakat pun cukup positif. Banyak pengunjung yang memperhatikan, bertanya, hingga mengabadikan momen tersebut. Dari kegiatan ini terlihat bahwa batik masih memiliki daya tarik yang kuat ketika ditampilkan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perjalanan kampanye kemudian berlanjut ke Kota Lama Semarang. Dengan latar bangunan-bangunan heritage yang menjadi ikon kota, para peserta memadukan wastra dengan gaya kasual modern. Perpaduan tersebut menghadirkan pesan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan.
Kegiatan berikutnya digelar di Grand Maerakaca Semarang, salah satu destinasi wisata edukasi budaya di Jawa Tengah. Di lokasi ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada berbagai kreasi penggunaan kain batik, tetapi juga diajak memahami makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Tim Wastra Culture menunjukkan bagaimana selembar kain dapat diubah menjadi berbagai model busana tanpa perlu dipotong maupun dijahit. Konsep ini menjadi daya tarik tersendiri karena menunjukkan fleksibilitas wastra Indonesia yang dapat disesuaikan dengan berbagai gaya dan kebutuhan.
Puncak kegiatan berlangsung dalam rangkaian Dies Natalis ke-39 Universitas Semarang (USM). Momentum tersebut dimanfaatkan untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa dan masyarakat umum.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya melihat berbagai kreasi wastra, tetapi juga berkesempatan mencoba langsung cara mengenakan kain batik dengan gaya yang lebih kreatif dan modern. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap budaya lokal.
Menurut tim Wastra Culture, tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada minat generasi muda terhadap budaya, melainkan bagaimana budaya tersebut diperkenalkan dengan cara yang relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Melalui rangkaian kegiatan di Simpang Lima, Kota Lama, Grand Maerakaca, hingga Dies Natalis USM, Wastra Culture berupaya menunjukkan bahwa batik tidak harus terbatas pada ruang formal. Batik dapat hadir di ruang publik, tempat wisata, lingkungan kampus, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. (01).
Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara


