KARANGANYAR, Jatengnews.id – Tingkat kunjungan wisata di Kabupaten Karanganyar selama periode Lebaran dan libur sekolah 2026 mengalami penurunan signifikan.
Berdasarkan data Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disparpora) Jawa Tengah, Karanganyar kini berada di peringkat ke-25 tingkat kunjungan wisata se-Jawa Tengah dan menempati posisi ketiga di kawasan Solo Raya, turun dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut dinilai tidak terlepas dari kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Dampaknya dirasakan berbagai sektor, mulai dari pariwisata, perhotelan, rumah makan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan wisata.
Ketua DPRD Karanganyar, Bagus Selo, mengatakan melemahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama berkurangnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke berbagai destinasi di Karanganyar.
Menurutnya, perlambatan ekonomi juga dirasakan oleh sejumlah sektor usaha, termasuk industri tekstil dan perdagangan. Karena itu, ia mendorong Pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk memperkuat promosi destinasi wisata agar mampu menarik kembali minat wisatawan.
Selain promosi, pemerintah juga diminta terus meningkatkan kualitas infrastruktur dan amenitas di setiap objek wisata.
“Fasilitas di destinasi wisata Karanganyar sebenarnya sudah cukup baik, namun tetap perlu ditingkatkan agar semakin menarik bagi wisatawan,” ujarnya.
Bagus menjelaskan, penurunan kunjungan wisata berdampak langsung terhadap tingkat hunian hotel, mulai dari penginapan kelas melati hingga hotel berbintang di kawasan Tawangmangu dan Ngargoyoso. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap penerimaan pajak hotel dan restoran.
Meski demikian, kontribusi langsung sektor wisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi objek wisata dinilai tidak terlalu besar karena sebagian besar destinasi wisata di Karanganyar dikelola oleh pihak swasta.
Bahkan, objek wisata andalan seperti Pemandian Sapta Tirta Pablengan tidak sepenuhnya berdiri di atas lahan milik pemerintah daerah sehingga pengembangan infrastrukturnya menjadi lebih terbatas.
“Yang paling terasa sebenarnya adalah efek berganda terhadap perekonomian masyarakat. Ketika wisata sepi, pelaku UMKM, pedagang, hingga usaha jasa di sekitar objek wisata ikut terdampak,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah memperkuat promosi digital, meningkatkan kualitas infrastruktur dan pelayanan, memperbanyak penyelenggaraan event, serta mengembangkan paket wisata terintegrasi agar kunjungan wisatawan kembali meningkat dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Promosi Dinilai Belum Maksimal
Sementara itu, Kepala Desa Tunggulrejo yang juga pengelola wisata BUMDes, Parno Karyo Sumarto, mengungkapkan penurunan kunjungan ke destinasi yang dikelolanya diperkirakan mencapai 40 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan disebabkan kualitas destinasi wisata, melainkan strategi promosi yang belum optimal.
“Expo itu penting, tetapi yang hadir biasanya pelaku wisata. Sementara target wisatawan belum banyak tersentuh,” katanya.
Ia menilai promosi melalui media sosial dan kerja sama dengan influencer jauh lebih efektif untuk menjangkau calon wisatawan. Selain itu, meningkatnya persaingan antardaerah dan semakin mudahnya akses transportasi membuat wisatawan memiliki lebih banyak pilihan destinasi.
Parno berharap pemerintah daerah memperkuat sinergi dengan seluruh pelaku wisata untuk mengembalikan daya tarik pariwisata Karanganyar.
Disparpora Siapkan Strategi Baru
Kepala Disparpora Karanganyar, Yopi Ekojati Wibowo, mengatakan penurunan kunjungan wisata menjadi bahan evaluasi bersama. Pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan kembali jumlah wisatawan.
Salah satu strategi yang akan dijalankan adalah membentuk komunitas wisata berbasis masyarakat di berbagai kawasan wisata, seperti Jenawi, Ngargoyoso, Tawangmangu, hingga Jatiyoso.
“Permasalahan di setiap kawasan sudah kami petakan. Kami juga telah berkomunikasi dengan tokoh masyarakat, Pokdarwis, pengelola pusat oleh-oleh, pelaku wisata jip, hingga pelaku usaha wisata lainnya. Seluruh masukan akan disinergikan untuk menyusun langkah pengembangan yang tepat,” ujarnya.
Yopi menilai penurunan kunjungan tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga karena daya saing destinasi wisata Karanganyar mulai tertinggal dibandingkan daerah lain.
Menurutnya, sejumlah daerah mampu menghadirkan inovasi wisata baru sehingga banyak wisatawan memilih melanjutkan perjalanan ke daerah lain seperti Klaten maupun Yogyakarta.
Karena itu, Disparpora mendorong seluruh pelaku wisata kembali menerapkan prinsip Sapta Pesona, yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, serta memberikan kenangan positif bagi wisatawan.
Selain peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerintah juga mengakui masih terdapat kendala infrastruktur, terutama kemacetan di sejumlah titik yang menghambat akses menuju kawasan wisata.
Meski demikian, persoalan tersebut dinilai hanya terjadi pada beberapa titik bottleneck dan akan terus dibenahi.
Sebagai bagian dari roadmap pengembangan pariwisata, Pemkab Karanganyar juga membentuk empat kelompok kerja, yakni Sport Tourism, Eco Culture Tourism, Wellness Tourism, dan Enthusiast Tourism.
Pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha mampu mengembalikan daya saing pariwisata Karanganyar sehingga jumlah kunjungan wisatawan kembali meningkat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
Penulis : Iwan Iswanda
Editor : Alif Nazzala Rizqi


