BOYOLALI, Jatengnews.id – Perundungan antarsiswa masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius di lingkungan sekolah. Tidak hanya berdampak pada kondisi sosial, bullying juga dapat memengaruhi rasa aman dan kondisi psikologis siswa.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Universitas Diponegoro (Undip) memberikan edukasi Psychological First Aid (PFA) kepada guru SDN 2 Jerukan, Desa Jerukan, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan yang diberikan oleh mahasiswa KKN-R Undip, Hanifa Salsabila, tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapan guru dalam memberikan pertolongan pertama psikologis kepada siswa yang mengalami perundungan.
Melalui edukasi ini, para guru dibekali pemahaman mengenai langkah awal yang dapat dilakukan ketika menemukan siswa yang menjadi korban bullying. Materi PFA menitikberatkan pada pentingnya memberikan respons yang tepat, mulai dari mendengarkan siswa dengan empati, menciptakan rasa aman, hingga menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan.
Kepala SDN 2 Jerukan, Nurdiana Agustiningsih, S.Pd.SD., M.M., mengatakan persoalan perundungan antarsiswa masih menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi pihak sekolah.
“Permasalahan pembullyan antar siswa masih sering terjadi di sekolah,” ujar Nurdiana.
Melihat kondisi tersebut, edukasi PFA dinilai penting agar guru memiliki bekal dalam menghadapi siswa yang mengalami perundungan. Guru tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan konflik antara pelaku dan korban, tetapi juga perlu memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis siswa yang terdampak.
Hanifa menjelaskan, guru memiliki posisi strategis dalam memberikan pertolongan pertama karena menjadi salah satu pihak yang dekat dengan keseharian siswa di lingkungan sekolah.
“Guru memang bukan psikolog, tetapi guru dapat menjadi pihak pertama yang memberikan dukungan kepada siswa ketika mengalami perundungan. Karena itu, penting bagi guru untuk mengetahui bagaimana cara merespons, mendengarkan, dan memberikan rasa aman kepada korban,” jelas Hanifa.
Dalam edukasi tersebut, guru juga diajak memahami bahwa penanganan kasus perundungan tidak cukup hanya dengan menegur atau memberikan sanksi kepada pelaku. Korban membutuhkan ruang yang aman untuk bercerita serta dukungan agar tidak merasa disalahkan atas kejadian yang dialaminya.
Pendekatan yang empatik menjadi salah satu bagian penting dalam PFA. Dengan respons yang tepat, siswa diharapkan lebih terbuka dalam menyampaikan pengalaman dan kondisi yang dirasakan sehingga guru dapat menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Salah satu guru SDN 2 Jerukan, Gangsaro Sandra Aziz, S.Pd., mengapresiasi edukasi yang diberikan mahasiswa KKN-R Undip tersebut.
“Terima kasih sudah memberitahukan dan mengedukasi. Dengan adanya edukasi ini, guru jadi tahu pertolongan pertama yang dapat dilakukan saat terdapat siswa yang terkena perundungan,” ungkap Gangsaro.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan guru SDN 2 Jerukan dalam menghadapi kasus perundungan di lingkungan sekolah. Selain mampu memberikan dukungan psikologis awal, guru juga diharapkan dapat mengenali kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dengan melibatkan pihak yang memiliki kompetensi khusus.
Melalui edukasi Psychological First Aid, mahasiswa KKN-R Undip turut mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang siswa. Peran guru sebagai pihak yang memberikan respons awal pun diharapkan semakin kuat dalam mencegah dampak perundungan terhadap kondisi psikologis anak.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





