UNGARAN, Jatengnews.id – Pemanfaatan lahan terbatas di kawasan permukiman dapat menjadi peluang untuk mengembangkan kegiatan budidaya ikan.
Hal tersebut diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 26 Universitas Diponegoro melalui sosialisasi dan praktik urban akuakultur di Perumahan Delta Asri RW 15, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Kegiatan yang berlangsung pada 26 Juli 2026 tersebut diikuti anggota Karang Taruna RW 15. Program ini bertujuan mengenalkan konsep urban akuakultur melalui Budikgalon atau Budidaya Ikan dalam Galon sebagai alternatif sederhana bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan.
Program tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro. Kegiatan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan di bidang budidaya perikanan secara langsung kepada masyarakat.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh Eka Syiva Auliya mengenai urban akuakultur. Materi mencakup pengertian, manfaat, potensi, hingga berbagai tantangan yang perlu diperhatikan dalam penerapannya di lingkungan permukiman.
Peserta kemudian diperkenalkan dengan Budikgalon sebagai metode budidaya ikan menggunakan wadah sederhana. Sistem tersebut dinilai dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan ruang terbatas di sekitar rumah untuk kegiatan produktif.
Penyampaian materi juga dikemas secara interaktif melalui diskusi. Peserta mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai cara penerapan Budikgalon, termasuk aspek pemeliharaan ikan dan kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan Budikgalon. Peserta diperlihatkan secara langsung tahapan budidaya, mulai dari penggunaan wadah, penebaran benih, pemberian pakan, pemeliharaan ikan, hingga pengelolaan kualitas air.
Praktik tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai penerapan urban akuakultur dengan peralatan yang relatif sederhana. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga pengalaman mengenai proses budidaya ikan dalam wadah terbatas.
“Urban akuakultur melalui Budikgalon cukup menarik karena bisa menjadi alternatif pemanfaatan lahan di pekarangan serta sistemnya juga sederhana dan tidak membutuhkan lahan yang luas,” ujar Dimas, Ketua Karang Taruna RW 15.
Senada dengan hal tersebut, Felisya Putri, salah satu anggota Karang Taruna RW 15, menilai Budikgalon dapat menjadi pilihan bagi masyarakat perkotaan yang ingin melakukan budidaya ikan tetapi terkendala keterbatasan lahan.
“Budikgalon mempermudah masyarakat kota untuk melakukan budidaya ikan karena tidak membutuhkan lahan yang luas, sehingga dapat menjadi alternatif bagi yang memiliki keterbatasan lahan,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat selama rangkaian kegiatan berlangsung. Selain mengikuti materi, peserta juga aktif dalam sesi diskusi dan praktik sehingga mendapatkan pengalaman baru mengenai metode budidaya ikan yang dapat diterapkan di lingkungan tempat tinggal.
Program urban akuakultur ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 2 atau Zero Hunger melalui pemanfaatan budidaya ikan sebagai salah satu alternatif sumber pangan. Kegiatan tersebut juga berkaitan dengan SDGs 11 atau Sustainable Cities and Communities, terutama dalam mendorong pemanfaatan lahan terbatas di kawasan permukiman secara produktif.
Melalui sosialisasi dan praktik Budikgalon, mahasiswa KKN-T IDBU 26 Undip berharap peserta dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk mengembangkan budidaya ikan secara mandiri.
Pemanfaatan wadah sederhana menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk memulai kegiatan budidaya. Budikgalon diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat RW 15 untuk memanfaatkan ruang yang tersedia sekaligus mengenal alternatif penyediaan sumber pangan dari lingkungan sekitar.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





