Gubernur Ahmad Luthfi Dorong WCD 2026 Ubah Perilaku Kelola Sampah

persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan bersih-bersih atau mengandalkan pemerintah.

SEMARANG, Jatengnews.id – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong World Cleanup Day (WCD) 2026 menjadi momentum untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.

Menurut Luthfi, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan bersih-bersih atau mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumber menjadi kunci utama.

“Persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Harus ada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia usaha, sampai lembaga pendidikan,” ujar Luthfi saat menerima audiensi pengurus WCD Jawa Tengah di kantornya, Selasa (11/8/2026).

Ia meminta pemerintah kabupaten/kota menyesuaikan sistem pengelolaan sampah dengan kondisi masing-masing daerah. Sejumlah wilayah seperti Cilacap dan Banyumas telah mengembangkan pengolahan sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF).

Sementara itu, Kota Semarang, Pekalongan, dan Tegal didorong memperkuat pengelolaan sampah secara terpadu.

Luthfi juga berharap WCD dapat memperluas gerakannya dengan melibatkan bupati, wali kota, komunitas, sekolah, kampus, hingga masyarakat.

“Harapannya nanti bisa menjangkau lebih banyak daerah dan melibatkan bupati, wali kota, serta seluruh stakeholder,” katanya.

Leader WCD Jawa Tengah Septiany Punti Dewi mengatakan, rangkaian WCD 2026 akan berlangsung pada 17 Agustus hingga 28 Oktober. Tahun ini merupakan pelaksanaan WCD yang kedelapan di Jawa Tengah dengan tema “Bebersih Pemuda-Pemudi untuk Memerdekakan Sampah”.

Septiany menyebut Jawa Tengah selama ini menjadi daerah dengan jumlah relawan WCD terbanyak. Dukungan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor keberhasilan tersebut.

“Jadi, kami tidak hanya melakukan kegiatan satu hari. Kami juga melakukan pendampingan dan edukasi ke kampus, sekolah, serta desa-desa,” ujarnya.

Salah satu program yang dijalankan adalah Zero Waste School di Kabupaten Kudus. Program tersebut menyasar siswa dan guru untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah sejak lingkungan sekolah.

Koordinator Program WCD Jawa Tengah Purnawirawan mengatakan, guru memiliki peran penting karena dapat menjadi teladan bagi siswa dalam membangun kebiasaan mengurangi dan memilah sampah.

“Harapannya, kebiasaan tersebut kemudian diterapkan di rumah,” katanya.

WCD juga telah mendampingi penerapan konsep zero waste di perguruan tinggi. Salah satu kampus yang didampingi mampu menekan residu hingga sekitar 10 persen dari total sampah pada 2024 dan mencapai kondisi zero waste pada 2025.

Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dipilah dan dijual. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk membantu pemberian beasiswa mahasiswa.

Capaian tersebut menunjukkan pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial.

Melalui WCD 2026, gerakan pengelolaan sampah di Jawa Tengah diharapkan berkembang dari aksi bersih-bersih menjadi perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten mulai dari rumah, sekolah, kampus, desa, hingga lingkungan masyarakat.

Penulis : Jaka N

Editor : Shodiqin

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN