Kisah Djumari, Jamaah Pendiam yang Menutup Usia Saat Membaca Al-Qur’an di Masjid

Dengan sepeda motor listriknya, lelaki kelahiran 6 Juni 1950 itu datang untuk menjalankan rutinitas yang sudah lama dijalaninya

SEMARANG, Jatengnews.id – Sabtu malam biasanya menjadi waktu bagi Djumari bin Amin untuk kembali ke Masjid Nurul Huda, Jalan Wismasari, Ngaliyan, Kota Semarang.

Dengan sepeda motor listriknya, lelaki kelahiran 6 Juni 1950 itu datang untuk menjalankan rutinitas yang sudah lama dijalaninya. Shalat Magrib berjamaah, kemudian duduk bersama jamaah lain untuk mengikuti pengajian Al-Qur’an.

Begitu pula pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Malam itu, sekitar 12 jamaah laki-laki mengikuti pengajian rutin selepas salat Magrib. Mereka membaca Al-Qur’an secara bergiliran, seperti kegiatan yang biasa dilakukan setiap Sabtu malam.

Tidak ada yang menyangka, malam tersebut akan menjadi kali terakhir Djumari duduk bersama mereka.

Pria 73 tahun itu meninggal dunia tidak lama setelah menyelesaikan gilirannya membaca Al-Qur’an.

Tubuhnya tiba-tiba terbaring ke belakang.

Jamaah yang berada di sekitarnya segera memberikan pertolongan. Seorang dokter juga dipanggil untuk memastikan kondisinya.

Namun, Djumari telah meninggal dunia.

Bagi Rosyidi (75), teman sekaligus saksi mata, peristiwa tersebut meninggalkan kesan yang begitu kuat.

“Setiap ada ngaji pasti ikut. Aktif orangnya,” kata Rosyidi saat ditemui usai salat Ashar, Rabu (12/8/2026).

Hadir Hampir di Setiap Pengajian

Rosyidi yang juga merupakan takmir Masjid Nurul Huda mengenal Djumari sebagai sosok yang tidak banyak bicara.

Ia lebih sering diam, tetapi kehadirannya di masjid hampir selalu ada ketika kegiatan keagamaan digelar.

“Lebih banyak pendiam dia. Ya, sama-sama pensiunan. Jadi, orang ngaji hampir semua pensiunan,” ujar Rosyidi.

Pengajian Sabtu malam memang menjadi salah satu kegiatan rutin di Masjid Nurul Huda. Kegiatan tersebut khusus diikuti jamaah laki-laki dan biasanya dihadiri sekitar 12 hingga 15 orang.

Pengajian dimulai setelah salat Magrib dan berlangsung hingga menjelang salat Isya.

Djumari termasuk jamaah yang rajin mengikutinya.

Usianya yang semakin lanjut tidak membuat kebiasaan tersebut hilang.

Ia masih datang sendiri menggunakan sepeda motor listrik.

Sebelum kondisi fisiknya menurun karena usia, Djumari bahkan pernah aktif menjadi imam salat Magrib dan Isya.

Namun, keterbatasan fisik kemudian membuatnya tidak lagi menjalankan peran tersebut.

Meski begitu, kebiasaannya datang ke masjid tetap dipertahankan.

Ia tidak lagi berdiri di depan sebagai imam, tetapi tetap berada di antara jamaah sebagai orang yang mengikuti salat dan pengajian.

Malam yang Berubah Menjadi Perpisahan

Pada malam terakhir itu, suasana pengajian berlangsung seperti biasa.

Satu per satu jamaah mendapat giliran membaca Al-Qur’an.

Djumari pun mengambil bagiannya.

Tidak lama setelah menyelesaikan bacaan, tubuhnya tiba-tiba terbaring ke belakang.

Jamaah yang berada di dekatnya langsung bergerak memberikan pertolongan.

Suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi kepanikan.

Seorang dokter kemudian dipanggil untuk memastikan kondisi Djumari.

Namun, upaya tersebut tidak mengubah keadaan.

Djumari meninggal dunia di masjid, setelah salat Magrib dan ketika mengikuti kegiatan yang selama ini rutin dilakukannya.

Momen tersebut kebetulan terekam kamera CCTV masjid.

Rekaman itu kemudian diunggah oleh anak Djumari ke media sosial. Video tersebut memperlihatkan suasana ketika Djumari masih mengikuti kegiatan mengaji bersama jamaah lainnya.

Unggahan itu kemudian menarik perhatian warganet.

Bagi orang yang tidak mengenalnya, rekaman tersebut mungkin hanya memperlihatkan sebuah peristiwa kematian.

Namun bagi jamaah Masjid Nurul Huda, sosok dalam rekaman itu adalah teman yang selama bertahun-tahun mereka temui dalam kegiatan keagamaan.

Kehilangan yang Menyisakan Rasa Iri

Kepergian Djumari membuat jamaah Masjid Nurul Huda merasa kehilangan.

Rosyidi pun merasakan hal yang sama.

Namun, di balik kesedihan tersebut, muncul perasaan lain yang ia sebut sebagai rasa iri dalam arti positif.

“Merasa kehilangan dan ngiri. Mudah-mudahan saya bisa seperti itu,” kata Rosyidi.

Bukan tanpa alasan ia memiliki perasaan tersebut.

Menurut Rosyidi, Djumari meninggal ketika sedang menjalankan dua aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya: salat dan mengaji.

Ia datang ke masjid seperti biasanya.

Menunaikan salat Magrib.

Kemudian duduk bersama jamaah untuk membaca Al-Qur’an.

Hingga akhirnya, aktivitas itu menjadi bagian dari akhir perjalanan hidupnya.

Bagi Rosyidi, cara Djumari menghabiskan waktu terakhirnya itulah yang paling membekas.

Ia bahkan masih mengingat wajah Djumari ketika jenazah hendak dimakamkan.

Menurut Rosyidi, wajah Djumari terlihat ceria ketika kain kafannya dibuka.

“Kesannya memang tanda-tanda husnul khotimah itu jelas sekali,” ujarnya.

Pernyataan tersebut merupakan kesan pribadi Rosyidi setelah melihat kondisi jenazah sahabatnya.

Kursi yang Kini Tak Lagi Ditempati

Djumari kemudian dimakamkan pada Minggu pagi, sehari setelah meninggal dunia.

Selama tujuh hari setelah kepergiannya, keluarga dan jamaah menggelar tahlilan di rumah Djumari.

Namun, kehidupan di Masjid Nurul Huda tetap berjalan.

Pengajian Selasa pagi tetap digelar. Kegiatan itu diikuti jamaah laki-laki dan perempuan dan dapat dihadiri sekitar 50 orang.

Pengajian Sabtu malam juga tetap berlangsung seperti biasa.

Belasan jamaah kembali berkumpul setelah salat Magrib. Mereka membaca Al-Qur’an secara bergiliran, meneruskan rutinitas yang sudah berjalan selama ini.

Hanya saja, ada satu orang yang tidak lagi duduk bersama mereka.

Bagi Rosyidi dan jamaah lainnya, kepergian lelaki 73 tahun itu bukan sekadar kehilangan seorang teman mengaji.

Mereka kehilangan sosok yang selama bertahun-tahun hadir tanpa banyak bicara.

Seorang jamaah yang tetap berusaha datang ke masjid meski usia dan kondisi fisik mulai membatasi.

Seorang lelaki yang pada malam terakhirnya masih melakukan hal yang selama ini menjadi kebiasaannya: salat dan membaca Al-Qur’an bersama jamaah.

Kini, mungkin yang tersisa adalah ingatan tentang suara bacaan Al-Qur’an, lingkaran kecil jamaah selepas Magrib, dan sepeda motor listrik yang dahulu membawanya menuju masjid.

Djumari datang seperti biasa pada malam itu.

Tak seorang pun tahu bahwa pengajian tersebut akan menjadi pengajian terakhirnya.

Dan bagi jamaah Masjid Nurul Huda, itulah kenangan yang akan terus melekat tentang seorang lelaki pendiam yang hampir selalu hadir—hingga akhirnya menutup usia di tempat yang selama ini ia datangi untuk beribadah. (01).

Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN