Djumari Tak Pernah Cerita soal Kebaikannya, Keluarga Baru Mengetahuinya Setelah Ia Pergi

Setelah Djumari meninggal dunia, keluarganya justru menemukan sisi lain dari sosok yang selama ini mereka kenal sebagai pribadi pendiam

SEMARANG, Jatengnews.id – Bagi keluarga, Djumari bin Amin bukan lelaki yang gemar bercerita tentang dirinya.

Ia lebih banyak diam dan menjalani hari-harinya tanpa banyak penjelasan. Bahkan ketika melakukan sesuatu untuk orang lain, Djumari tidak terbiasa menceritakan kebaikan itu kepada keluarganya.

Karena itulah, setelah Djumari meninggal dunia, keluarganya justru menemukan sisi lain dari sosok yang selama ini mereka kenal sebagai pribadi pendiam.

Salah satunya tentang sedekah.

Anak ketiganya, Yeni Nuraini (44), baru mengetahui bahwa ayahnya rutin bersedekah setelah melihat percakapan di WhatsApp milik Djumari.

Tidak banyak yang bisa diketahui keluarga tentang aktivitas tersebut.

Kepada siapa bantuan diberikan, seberapa sering dilakukan, dan dalam bentuk apa, sebagian besar tetap menjadi sesuatu yang tidak pernah diceritakan Djumari.

“Kalau mau melakukan apa pun enggak pernah bilang-bilang. Jadi hanya Bapak dan Allah yang tahu,” kata Yeni saat ditemui di rumah duka, Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu (12/8/2026) sore.

Bagi Yeni, hal tersebut seolah menggambarkan karakter ayahnya sejak dulu.

Djumari tidak terbiasa mencari pujian.

Ia melakukan sesuatu karena memang ingin melakukannya, bukan agar diketahui orang lain.

“Memang segala sesuatunya dilakukan hanya sendiri dan Allah yang Maha Mengetahui,” ujarnya.

Lelaki yang Lebih Banyak Diam

Djumari lahir pada 6 Juni 1950.

Di mata Yeni, sifat pendiam merupakan salah satu karakter yang paling melekat pada ayahnya.

Namun, diam bukan berarti Djumari tidak memiliki banyak kegiatan.

Justru setelah pensiun dari PLN, hari-harinya di rumah dipenuhi berbagai aktivitas yang membuatnya tetap sibuk.

Ia senang membongkar barang-barang elektronik yang rusak.

Televisi, peralatan rumah tangga, hingga berbagai perangkat elektronik lainnya kerap menjadi bahan yang diperiksa dan diperbaikinya.

“TV yang rusak, barang-barang elektronik yang rusak suka dibenerin sama Bapak,” kata Yeni.

Bagi keluarganya, Djumari seperti memiliki dunia kecilnya sendiri.

Ia bisa berlama-lama di rumah mengutak-atik perangkat elektronik tanpa merasa bosan.

“Bapak memang enggak bisa diam. Bukan keluar rumah, tapi di dalam rumah dan mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan elektronik. Itu hobinya dan passion-nya,” ujar Yeni.

Kegemarannya tersebut bahkan membuat Yeni melihat ayahnya sebagai sosok yang memiliki jiwa inovator.

Salah satu yang pernah dibuat Djumari adalah perangkat sederhana untuk membantu mengendalikan aliran air PAM dari jarak tertentu.

Bagi orang lain mungkin terlihat sebagai pekerjaan kecil.

Namun bagi Djumari, membuat atau memperbaiki sesuatu menjadi cara untuk tetap produktif setelah pensiun.

Pagi Masih Berkomunikasi dengan Cucu

Tidak ada firasat yang dirasakan keluarga bahwa Sabtu, 8 Agustus 2026, akan menjadi hari terakhir Djumari.

Sejak pagi, ia masih menjalani aktivitas seperti biasa.

Djumari bahkan sempat berkomunikasi dengan cucunya.

Sore harinya, ia kembali melakukan rutinitas yang sudah biasa dijalaninya: pergi ke Masjid Nurul Huda, Jalan Wismasari, Ngaliyan, menggunakan sepeda listrik.

Ia kemudian mengikuti salat Magrib dan tadarus Al-Qur’an bersama jamaah.

Tidak lama setelah itu, sekitar pukul 18.35 WIB berdasarkan rekaman kamera CCTV masjid, Djumari mengalami kondisi yang membuat tubuhnya akhirnya terjatuh.

Yeni yang saat itu masih berada di Bandung tidak menyangka kabar yang datang kemudian adalah kabar kepergian ayahnya.

Terlebih, dalam rekaman CCTV, Djumari sebenarnya sempat menunjukkan beberapa gerakan tubuh yang menurut Yeni menandakan dirinya mulai merasa tidak nyaman.

Namun, seperti kebiasaannya selama ini, Djumari tidak banyak mengeluh.

“Kalau misalnya dilihat di videonya memang ada beberapa gestur Bapak yang sudah mulai enggak nyaman. Tapi Bapak tetap enggak bicara, tetap diam saja,” tutur Yeni.

Tak lama setelah itu, Djumari terjatuh.

Ia meninggal dunia setelah salat Magrib ketika mengikuti tadarus Al-Qur’an di masjid.

Kabar tersebut terasa begitu mendadak bagi keluarga.

Tidak ada percakapan terakhir yang terasa seperti pesan perpisahan.

Tidak ada tanda yang diketahui keluarga bahwa perjalanan Djumari akan berakhir malam itu.

Ia hanya menjalani hari seperti biasa.

Sabar, Tulus, dan Tak Pamrih

Di balik karakter pendiam tersebut, Yeni mengenang ayahnya sebagai sosok yang sabar dan tulus.

Ia mengatakan Djumari tidak suka mengharapkan imbalan atas sesuatu yang dikerjakannya.

“Masyaallah, Bapak itu orang yang sabar, tulus, ikhlas kalau dalam bekerja, dalam melakukan sesuatu hal itu enggak pamrih,” kata Yeni.

Sifat tersebut, menurut Yeni, terlihat dalam banyak hal.

Djumari tidak banyak bicara mengenai apa yang telah dilakukannya.

Termasuk ketika membantu orang lain.

Bahkan soal sedekah, keluarga baru mengetahui setelah ia meninggal.

Temuan itu membuat Yeni semakin memahami bahwa selama ini ada bagian dari kehidupan ayahnya yang memang tidak pernah ia ceritakan.

Ada kebaikan yang sengaja tidak dipamerkan.

Ada bantuan yang diberikan tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Dan ada banyak hal yang mungkin hanya diketahui oleh Djumari dan Tuhan.

Wajah Terakhir yang Tak Terlupakan

Namun, di antara seluruh kenangan tentang ayahnya, ada satu momen yang paling membekas bagi Yeni: ketika melihat wajah Djumari untuk terakhir kali.

Ia melihat wajah ayahnya tampak berbeda.

“Masyaallah, benar-benar seperti cerah, terang, bersih banget, putih bersih,” tuturnya.

Menurut Yeni, perubahan tersebut terasa semakin jelas karena warna kulit ayahnya sehari-hari bukan termasuk yang berkulit putih.

Tetapi ketika melihat jenazahnya, ia justru melihat wajah Djumari tampak tenang dan cerah.

Perasaan Yeni bercampur antara kehilangan dan kelegaan.

Kehilangan karena sosok yang selama ini menjadi ayahnya telah pergi.

Namun juga lega karena ia merasa ayahnya meninggalkan dunia dalam keadaan yang baik.

“Sedih sekaligus lega. Karena Bapak meninggal dalam kondisi yang sebaik-baiknya,” kata Yeni.

Djumari kemudian dimakamkan pada Minggu pagi, sehari setelah meninggal dunia.

Bagi keluarganya, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang seorang ayah yang pendiam.

Ada sosok pensiunan yang tidak betah diam, menghabiskan waktu dengan memperbaiki barang elektronik.

Ada lelaki yang memiliki rasa ingin tahu dan kreativitas untuk membuat berbagai perangkat sederhana.

Ada seorang ayah yang tetap menjalani rutinitasnya hingga usia senja.

Dan ada kebaikan-kebaikan yang baru diketahui setelah kepergiannya.

Mungkin memang begitulah cara Djumari menjalani hidup.

Tidak banyak bicara.

Tidak banyak bercerita.

Tidak sibuk menunjukkan apa yang telah dilakukan.

Ia membiarkan perbuatannya berjalan dalam diam.

Hingga setelah ia pergi, keluarganya perlahan menemukan bahwa di balik sosok lelaki pendiam itu, ternyata tersimpan begitu banyak cerita yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. (01).

Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN