SEMARANG, Jatengnews.id – Baru-baru ini, media sosial diramaikan dengan kabar kecelakaan yang dialami mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Kejadian tersebut kemudian dikaitkan dengan pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau yang biasa dikenal dengan ospek.
Kecelakaan tersebut terjadi pada 12 Agustus 2026. Dalam kejadian itu, mahasiswa bernama Rivaldo Aulia Reza (18) meninggal dunia.
Peristiwa yang dialami Rivaldo kemudian menuai sorotan dari sejumlah orang tua mahasiswa baru (maba) Unnes. Mereka mempertanyakan jadwal pelaksanaan ospek yang mengharuskan mahasiswa berangkat sejak dini hari.
Berdasarkan informasi dari salah satu orang tua maba Unnes, Suhono, kegiatan ospek berlangsung selama empat hari, yakni mulai 11 hingga 14 Agustus 2026.
“Hari pertama itu harus sampai di lokasi pukul 04.00 WIB, hari kedua 03.00 WIB, hari ketiga 07.30 WIB, dan hari keempat 04.30 WIB,” kata Suhono saat dikonfirmasi Jatengnews.id, Jumat (14/8/2026).
Sementara itu, kecelakaan yang dialami Rivaldo terjadi pada hari kedua pelaksanaan ospek. Pada hari tersebut, para maba diwajibkan sudah berada di kampus pada pukul 03.00 WIB.
Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan dugaan kelelahan yang dialami korban hingga mengalami kecelakaan tunggal.
Bagi Suhono, waktu keberangkatan yang sangat pagi sebenarnya bukan menjadi persoalan apabila hal tersebut bertujuan membentuk kedisiplinan dan karakter mahasiswa.
“Untuk disiplin pada instruksi juga dapat membiasakan bangun pagi,” ucapnya.
Meski demikian, Suhono mengakui adanya sejumlah kritik dari orang tua yang anaknya diharuskan berangkat ke kampus sejak dini hari.
“Cuma secara umum dan beberapa teman yang anaknya juga maba di sana menyatakan sudah tidak zaman di era sekarang. Ada juga yang keberatan harus ngekostkan (mencarikan kos harian) untuk anak karena jaraknya lumayan jauh dan tidak boleh membawa motor sendiri,” jelasnya.
Meski tidak mempermasalahkan jadwal tersebut secara keseluruhan, Suhono tetap menyoroti waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan waktu salat Subuh. Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi perhatian mengingat mayoritas mahasiswa beragama Islam.
“Kalau anak saya, saya pesani apa pun yang terjadi tetap cari tempat untuk salat meski sendiri,” katanya.
“Tapi secara umum anak saya tak tanya, kacau saat salat Subuh,” sambungnya.
Sementara itu, pihak kampus saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa berbagai kritik yang disampaikan akan menjadi bahan evaluasi. (01).
Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin





