SEMARANG, Jatengnews.id – Permainan tradisional yang selama ini lekat dengan kearifan lokal masyarakat kembali dihidupkan sebagai bagian dari pembelajaran literasi anak usia dini.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) memberdayakan pendidik KB-TK Bahrul Khair Zeet Gee, Kota Semarang, untuk mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam pembelajaran sebagai strategi memperkuat literasi awal sekaligus melestarikan budaya.
Program bertajuk “Pemberdayaan Pendidik PAUD Berbasis SDGs melalui Permainan Tradisional sebagai Akselerasi Literasi Awal Menuju Asta Cita” tersebut dilaksanakan pada tahun pendanaan 2026. Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program ini berangkat dari sejumlah tantangan yang dihadapi mitra dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini. Berdasarkan pemetaan awal, praktik pembelajaran masih cenderung berorientasi pada metode hafalan atau drill dan belum optimal dalam memanfaatkan potensi lingkungan maupun kearifan lokal. Di sisi lain, kemampuan literasi awal anak juga masih perlu diperkuat.
Ketergantungan anak terhadap perangkat dan aktivitas digital menjadi tantangan lain yang perlu direspons dengan menghadirkan alternatif kegiatan belajar yang menarik, aktif, dan bermakna. Dalam konteks tersebut, tim pengabdian menawarkan permainan tradisional sebagai pendekatan pembelajaran yang dekat dengan dunia anak sekaligus berpotensi mengembangkan berbagai aspek perkembangan.
Permainan tradisional tidak sekadar ditempatkan sebagai aktivitas rekreatif, tetapi diintegrasikan secara terencana ke dalam pembelajaran literasi awal. Melalui permainan, anak dapat belajar bahasa, berkomunikasi, mengikuti aturan, bekerja sama, serta mengembangkan berbagai keterampilan melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan dan budaya mereka.
Pelaksanaan program menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan pendidik sebagai mitra aktif dalam setiap tahapan kegiatan.
Program diawali dengan sosialisasi dan pemetaan kebutuhan bersama kepala sekolah serta para pendidik. Pada tahap ini, tim dan mitra mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran sekaligus memetakan jenis permainan tradisional yang relevan untuk diterapkan di lingkungan PAUD.
Tahap berikutnya berupa workshop peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Para pendidik mendapatkan pelatihan penggunaan modul pembelajaran “Literasi Berbasis SDGs melalui Permainan Tradisional”, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan permainan tradisional, serta simulasi praktik pembelajaran berbasis permainan.
Melalui kegiatan tersebut, pendidik tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga berlatih merancang pengalaman belajar yang menghubungkan literasi, perkembangan anak, dan budaya lokal. Dengan demikian, permainan tradisional dapat digunakan secara lebih terarah sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar kegiatan pengisi waktu.
Inovasi lain yang dihadirkan dalam program ini adalah Pojok Literasi Budaya, yakni ruang belajar ramah anak yang dilengkapi dengan Alat Permainan Edukatif (APE) berbasis kearifan lokal. Berbagai APE permainan tradisional disiapkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret bagi anak.
Pojok Literasi Budaya diharapkan menjadi ruang yang memungkinkan anak berinteraksi secara langsung dengan permainan, simbol, bahasa, cerita, dan aktivitas budaya. Dengan pendekatan tersebut, literasi tidak hanya dikenalkan melalui lembar kerja atau kegiatan membaca dan menulis secara formal, tetapi juga dikembangkan melalui pengalaman bermain yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Selain menyediakan sarana pembelajaran, tim pengabdian juga melakukan pendampingan in-class untuk memastikan pendidik mampu menerapkan rancangan pembelajaran yang telah disusun. Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam proses penguatan kapasitas pendidik agar praktik pembelajaran berbasis permainan tradisional dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Dosen PGPAUD FIPP UNNES, Salma Aulia Khosibah, M.Pd, selaku narasumber, menyampaikan bahwa permainan tradisional memiliki potensi besar dalam menguatkan literasi awal anak karena mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan bermakna.
“Permainan tradisional bukan hanya warisan budaya, tetapi juga media belajar yang sangat kaya. Di dalamnya ada bahasa, aturan, interaksi sosial, hingga nilai-nilai karakter yang sangat penting untuk perkembangan literasi anak usia dini,” ujarnya.
Secara lebih luas, program ini dirancang untuk berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera. Penguatan pembelajaran berbasis bermain juga ditempatkan dalam konteks Asta Cita, khususnya upaya membangun sumber daya manusia yang berkualitas sekaligus memperkuat kebudayaan dan kedaulatan budaya bangsa.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan mitra PAUD menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Pendidik tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai aktor utama yang diharapkan mampu melanjutkan praktik pembelajaran berbasis permainan tradisional secara mandiri setelah program berakhir.
Aspek keberlanjutan juga menjadi bagian integral dari kegiatan. Modul pembelajaran dapat dimanfaatkan sebagai panduan bagi pendidik, sementara Pojok Literasi Budaya diharapkan terus digunakan sebagai ruang belajar anak. Tim juga mendorong agar pembelajaran berbasis permainan tradisional dapat menjadi bagian dari praktik rutin di KB-TK Bahrul Khair Zeet Gee.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas pendidik dan penyediaan fasilitas pembelajaran. Lebih dari itu, permainan tradisional diharapkan menjadi jembatan antara kearifan lokal dan kebutuhan pendidikan anak masa kini.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran dapat berlangsung secara aktif, menyenangkan, dan kontekstual, sekaligus memperkuat identitas budaya anak sejak usia dini. Penguatan literasi awal pun tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pada pengalaman belajar yang mendukung perkembangan sosial, emosional, kesehatan, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya.
Upaya ini menjadi bagian dari investasi pendidikan anak usia dini dalam menyiapkan generasi berkualitas menuju Generasi Emas 2045, dengan menjadikan bermain sebagai ruang belajar yang bermakna sekaligus sarana untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya kepada anak sejak usia dini. (01).
Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara



