BOYOLALI, Jatengnews.id — Sejarah desa tidak selalu tersimpan dalam arsip maupun dokumen resmi. Sebagian jejaknya justru hidup dalam ingatan masyarakat, cerita antargenerasi, serta berbagai peninggalan yang masih dapat ditemukan hingga kini.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN-R Tim II Universitas Diponegoro (Undip) 2026 menghadirkan “Jejak Desa Genengsari”, sebuah pojok informasi sejarah yang dirancang untuk mengenalkan perjalanan dan perkembangan Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali.
Program monodisiplin tersebut digagas oleh Annida Amirotus Sholihah, mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Undip. Informasi mengenai sejarah Desa Genengsari dihimpun, disusun, kemudian dikemas dalam bentuk papan informasi agar dapat dibaca dengan mudah oleh masyarakat maupun pengunjung Balai Desa.
“Jejak Desa Genengsari” hadir untuk menjawab kebutuhan terhadap informasi sejarah desa yang selama ini belum terdokumentasi dan tersaji secara sistematis. Padahal, Desa Genengsari memiliki perjalanan panjang dengan berbagai perubahan yang turut membentuk kondisi desa seperti saat ini.
Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan tersebut adalah pembangunan Waduk Kedung Ombo pada dekade 1980-an. Pembangunan waduk tidak hanya mengubah kondisi geografis wilayah, tetapi juga membawa perubahan terhadap permukiman, lahan pertanian, persebaran penduduk, hingga perkembangan administratif desa.
Perubahan tersebut turut memengaruhi wilayah yang sebelumnya terdiri atas kebayanan Genengsari, Grogol, Sarean, dan Karang. Seiring perkembangan wilayah dan munculnya permukiman baru, struktur kawasan Desa Genengsari kemudian mengalami berbagai penyesuaian.
Berbagai informasi tersebut dirangkum dalam papan “Jejak Desa Genengsari” dengan tampilan yang informatif dan mudah dipahami.
Papan tersebut memuat gambaran sejarah desa, peta wilayah, perjalanan perubahan kawasan, serta informasi mengenai lima dusun yang saat ini menjadi bagian dari Desa Genengsari, yakni Genengsari, Grogol, Balirejo, Salamsari, dan Ngargotirto.
Tidak hanya membahas perubahan wilayah, “Jejak Desa Genengsari” juga mengangkat sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah dan berada dalam ingatan kolektif masyarakat.
Beberapa di antaranya adalah Sendang Jajar, Sumur Tumpang, Gunung Tugel, dan Makam Ngawen. Keberadaan berbagai tempat tersebut menjadi bagian dari jejak perjalanan masyarakat dan perkembangan wilayah Desa Genengsari.
Kekayaan lokal juga diperkenalkan melalui informasi mengenai tradisi dan kesenian masyarakat, salah satunya Reog Turangga Muda.
Dengan demikian, informasi yang ditampilkan tidak hanya berfokus pada kronologi sejarah, tetapi juga memperlihatkan keterkaitan antara perubahan wilayah, kehidupan masyarakat, serta warisan budaya yang masih dikenal hingga sekarang.
Dalam proses penyusunannya, informasi sejarah diperoleh melalui wawancara dengan sejumlah warga dan tokoh masyarakat dari berbagai wilayah di Desa Genengsari.
Sumber lisan tersebut kemudian dipadukan dengan sumber tertulis serta peta lama untuk membantu merekonstruksi perkembangan wilayah desa dari masa ke masa.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena sebagian sejarah lokal masih tersimpan dalam ingatan masyarakat. Melalui proses penggalian informasi secara langsung, cerita-cerita yang sebelumnya tersebar dapat dihimpun menjadi sebuah informasi yang lebih terstruktur.
Setelah melalui proses penyusunan dan perancangan, papan informasi “Jejak Desa Genengsari” diserahkan kepada Pemerintah Desa Genengsari pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Penyerahan berlangsung di Balai Desa Genengsari dan diterima oleh Sekretaris Desa.
Kehadiran program tersebut mendapat sambutan positif dari perangkat desa. Selain menjadi media informasi bagi masyarakat, dokumentasi sejarah dinilai dapat membantu memperkuat pemahaman mengenai identitas dan perjalanan wilayah Desa Genengsari.
Melalui “Jejak Desa Genengsari”, informasi sejarah yang sebelumnya tersebar dalam ingatan masyarakat dan berbagai sumber diharapkan dapat menjadi lebih mudah diakses.
Keberadaan papan informasi ini juga diharapkan mampu menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal sejarah lingkungan tempat mereka tinggal, termasuk berbagai perubahan yang pernah dialami masyarakat Desa Genengsari.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN Undip dari bidang sejarah dengan mengimplementasikan ilmu akademik untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Tidak sekadar menghasilkan produk fisik, “Jejak Desa Genengsari” menjadi upaya untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat agar tidak berhenti sebagai cerita lisan, tetapi dapat dikenali dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Dengan hadirnya pojok informasi tersebut, sejarah Desa Genengsari diharapkan semakin dekat dengan masyarakat. Sebab, di balik perkembangan desa saat ini terdapat perjalanan panjang tentang perubahan wilayah, perpindahan masyarakat, serta upaya membangun kembali kehidupan setelah berbagai perubahan besar di masa lalu.
“Jejak Desa Genengsari” pun tidak sekadar menjadi papan informasi di ruang pelayanan desa, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap desa memiliki cerita dan identitas yang layak untuk dikenang, dipelajari, serta diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





