Dari Pekarangan Jadi Produk Bernilai, KKN Undip Dampingi Warga Tingkir Tengah Kembangkan Chewvera

Chewvera dikembangkan dengan konsep berbeda dari permen pada umumnya. Kadar gula sengaja ditekan karena produk tersebut diarahkan sebagai pangan fungsional, bukan sekadar camilan manis.

SALATIGA, Jatengnews.id – Mahasiswa Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (Undip) mendorong inovasi pangan berbasis potensi lokal melalui pengembangan Chewvera, permen kunyah berbahan lidah buaya dengan kadar gula rendah.

Program tersebut dilaksanakan bersama ibu-ibu anggota Kelompok Pekarangan Pangan Lestari (P2L) RW 6, Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Kamis (13/8/2026).

Tak hanya mengembangkan produk, mahasiswa KKN Undip juga memberikan pendampingan mengenai branding, perhitungan harga pokok produksi, hingga pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB). Langkah ini dilakukan agar produk yang dihasilkan warga memiliki identitas yang lebih kuat dan berpeluang dipasarkan secara lebih luas, termasuk ke toko oleh-oleh.

Chewvera dikembangkan dengan konsep berbeda dari permen pada umumnya. Kadar gula sengaja ditekan karena produk tersebut diarahkan sebagai pangan fungsional, bukan sekadar camilan manis.

“Kalau permennya terlalu manis, manfaat lidah buayanya jadi percuma. Kami ingin orang membeli Chewvera karena sehatnya, bukan karena manisnya,” ujar anggota Tim II KKN Undip dari Program Studi Teknologi Pangan, Aqeela Nashwa.

Menurut Aqeela, kadar gula yang lebih rendah sekaligus menjadi nilai pembeda bagi Chewvera di tengah banyaknya produk permen yang sudah beredar.

“Permen manis sudah terlalu banyak di pasaran, jadi gulanya sengaja kami turunkan supaya Chewvera punya pembeda, apalagi kalau nanti benar-benar masuk toko oleh-oleh,” katanya.

Pendampingan mahasiswa tidak berhenti pada pengembangan formula. Tim KKN juga membantu kelompok P2L RW 6 membangun identitas merek agar produk yang sebelumnya hanya dikenal sebagai permen lidah buaya memiliki citra produk yang lebih profesional.

Materi branding disampaikan melalui poster yang dilengkapi kode QR. Kode tersebut mengarahkan peserta menuju laman profil Chewvera di chewvera.vercel.app, yang memuat identitas merek, keunggulan produk, serta informasi kandungan.

Dengan konsep tersebut, peserta dapat mengakses kembali materi dan informasi produk kapan saja tanpa harus bergantung pada catatan selama kegiatan berlangsung.

Untuk mendukung keberlanjutan usaha, mahasiswa KKN Undip juga memberikan pemahaman mengenai perhitungan harga pokok produksi. Materi ini diharapkan membantu kelompok menentukan harga jual berdasarkan biaya produksi secara lebih terukur.

Selain aspek harga, legalitas usaha turut menjadi perhatian. Tim KKN menjelaskan pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai salah satu langkah awal bagi kelompok yang ingin mengembangkan usaha secara lebih serius.

Pengurusan NIB dapat dilakukan tanpa biaya melalui sistem Online Single Submission (OSS). Legalitas tersebut nantinya dapat menjadi bagian dari persiapan untuk mengurus berbagai perizinan lain yang diperlukan ketika produk pangan hendak dipasarkan lebih luas.

Mahasiswa juga menekankan bahwa penguatan merek, kemasan, perhitungan biaya, dan legalitas perlu berjalan beriringan agar Chewvera tidak hanya menjadi produk hasil pelatihan, tetapi memiliki peluang untuk berkembang menjadi usaha masyarakat.

Saat ini, bahan baku lidah buaya untuk produksi Chewvera masih diperoleh dari luar. Pasalnya, tanaman lidah buaya yang mulai dibudidayakan di pekarangan RW 6 belum memasuki masa panen.

Pemerintah Kelurahan Tingkir Tengah berharap budidaya lidah buaya tersebut dapat terus dikembangkan dan meluas ke warga di luar RW 6. Jika budidaya berjalan optimal, ketersediaan bahan baku lokal diharapkan dapat meningkat sekaligus membantu menekan biaya produksi.

Pengembangan tersebut sejalan dengan semangat program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang mendorong masyarakat, khususnya kelompok perempuan, memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman.

Selain memenuhi kebutuhan pangan, pemanfaatan hasil pekarangan juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi sehingga berpotensi menambah pendapatan rumah tangga.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan gantungan kunci dari tutup botol plastik bekas.

Materi tersebut sebelumnya belum sempat dipraktikkan dalam lokakarya pengelolaan sampah karena keterbatasan waktu. Dalam kegiatan kali ini, peserta berkesempatan mengolah langsung tutup botol plastik menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna.

Chewvera dan gantungan kunci hasil praktik selanjutnya diperkenalkan kepada Lurah Tingkir Tengah beserta jajaran di kantor kelurahan. Produk tersebut menjadi gambaran langsung mengenai hasil kreativitas dan pendampingan yang dilakukan bersama masyarakat.

Kasi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Tingkir Tengah, Hanyk Setiyani, S.Sos., mengapresiasi kegiatan yang melibatkan mahasiswa KKN, warga, dan Rumah Dilan Tingkir Tengah tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN bersama warga dan Rumah Dilan Tingkir Tengah. Kegiatan ini tidak sekadar memberikan keterampilan membuat permen aloe vera dan gantungan kunci dari tutup botol air mineral, tetapi juga mengajarkan bagaimana bahan yang sederhana dan selama ini dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujarnya.

Menurut Hanyk, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mendorong kreativitas dan kemandirian masyarakat.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena mendorong kreativitas, kemandirian, sekaligus pemberdayaan masyarakat yang bisa terus dikembangkan melalui Rumah Dilan dan bisa menjadi produk kreatif maupun potensi usaha yang mendukung perekonomian masyarakat,” tambahnya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Drs. Suroto, M.Pd.

Melalui pendampingan tersebut, Chewvera diharapkan tidak berhenti sebagai produk hasil pelatihan. Dengan merek, kemasan, serta pengetahuan dasar mengenai harga dan legalitas yang telah diperkenalkan, produk tersebut diharapkan dapat kembali diproduksi dalam skala lebih besar ketika tanaman lidah buaya di pekarangan RW 6 memasuki masa panen.

Inovasi ini sekaligus menjadi contoh bagaimana potensi pekarangan, kreativitas warga, dan pendampingan mahasiswa dapat dipadukan untuk menciptakan produk lokal yang memiliki nilai tambah dan peluang ekonomi bagi masyarakat.



Penulis   : Tim Mahasiswa KKN

Editor      : Alif Nazzala Rizqi

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN