SEMARANG, Jatengnews.id – Karnaval budaya di Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (23/8/2026) siang, tidak sekadar menjadi ajang bagi warga untuk memamerkan kreativitas.
Di tengah iring-iringan peserta, kritik terhadap korupsi justru menjadi salah satu pesan yang paling mencolok. Hampir setiap kelompok yang mewakili RT menyelipkan pesan antikorupsi melalui kostum maupun poster yang mereka bawa.
Salah satu kelompok bahkan menggambarkan koruptor sebagai tikus. Para peserta mengenakan kostum tikus dengan pakaian menyerupai jas, lengkap dengan koper berisi uang dan emas.
Gambaran tersebut menjadi simbol koruptor yang mengambil uang dan kekayaan untuk kepentingan pribadi.
Pesan serupa juga muncul dalam berbagai poster yang dibawa warga. Di antaranya bertuliskan, “Stop Korupsi” dan “Berani Korupsi Dihukum Mati.”
Kritik tersebut disampaikan di tengah suasana karnaval yang berlangsung meriah. Warga mengenakan beragam kostum dan membawa berbagai properti kreatif sepanjang kegiatan.
Lurah Jatirejo, Ramadhan Eko Hariyono, mengatakan seluruh RT di wilayahnya ikut ambil bagian dalam karnaval tersebut.
“Pesertanya ada dari 14 RT itu mengikuti semuanya. Kita mempunyai 4 RW dan 14 RT, dan semuanya mengikuti kegiatan Karnaval Budaya pada hari ini,” kata Ramadhan saat ditemui di sela-sela karnaval berlangsung.
Menurut dia, karnaval memberikan ruang bagi warga untuk menyampaikan berbagai pesan, termasuk kritik terhadap pemerintah dan isu korupsi.
Bagi Ramadhan, kritik dari masyarakat bukan sesuatu yang harus dihindari pemerintah. Sebaliknya, kritik menunjukkan bahwa masyarakat turut mengawasi jalannya pemerintahan.
“Kalau masyarakat kritis seperti itu, kami malah sangat senang. Artinya, masyarakat mengawasi kita, maka kita harus bekerja dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Karnaval Jatirejo tahun ini mengangkat sejumlah tema. Selain pesan antikorupsi, warga juga menampilkan kreativitas yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan pemanfaatan bahan daur ulang.
Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui kostum, properti, maupun penampilan masing-masing kelompok RT.
Sejumlah warga terlihat mengenakan kostum yang dibuat dari bungkus mi instan, dedaunan, dan berbagai bahan daur ulang lainnya.
“Ada tentang ketahanan pangan, ada kreativitas dengan menggunakan bahan daur ulang, dan juga ada kritik antikorupsi,” kata Ramadhan.
Ia menilai keberagaman pesan yang disampaikan warga menunjukkan bahwa karnaval bukan sekadar kegiatan hiburan.
Di ruang publik seperti karnaval, warga dapat menyampaikan keresahan dan pandangan mereka dengan cara yang kreatif sekaligus mudah dilihat masyarakat.
Selain karnaval, Kelurahan Jatirejo juga menggelar pasar murah yang dilaksanakan bersama KKM Kelurahan Jatirejo.
Bagi warga, pesan antikorupsi yang dibawa dalam arak-arakan tersebut menjadi bagian dari perayaan sekaligus pengingat bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya menjadi urusan aparat penegak hukum.
Pesan itu juga dapat muncul dari ruang-ruang sederhana di tengah masyarakat, bahkan dari sebuah karnaval kampung. (01)
Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin





