Karnaval Ogoh-Ogoh Semarang Digelar, Ini Jalur Alternatif dan Parkirnya

Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak memarkir kendaraan di sepanjang rute pawai. Sebagai gantinya, telah disiapkan sejumlah kantong parkir resmi di titik strategis.

SEMARANG, Jatengnews.id – Pawai Ogoh-Ogoh yang menjadi bagian dari Karnaval Seni Budaya Lintas Agama pada Minggu (26/4/2026) diprediksi akan menyedot antusiasme besar dari masyarakat.

Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung dan menjaga kelancaran arus kendaraan, Pemerintah Kota Semarang telah menyiapkan rekayasa lalu lintas yang mulai diberlakukan sejak pukul 13.00 WIB.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan bahwa sejumlah ruas jalan utama akan ditutup sementara karena menjadi jalur utama iring-iringan pawai yang melibatkan berbagai elemen budaya dan kesenian dari berbagai daerah.

“Rute pawai melintasi pusat kota, dari Balai Kota hingga Simpang Lima. Karena itu, penutupan jalur protokol tidak bisa dihindari. Namun, kami sudah menyiapkan skema pengalihan agar lalu lintas tetap berjalan,” jelasnya.

Pengalihan arus dari arah utara akan dilakukan melalui Simpang Eka Karya dan Bundaran Hotel Siliwangi, terutama bagi kendaraan yang menuju kawasan Tugu Muda. Sementara itu, kendaraan dari arah Jalan Thamrin dan Fatima Zahra akan diarahkan ke jalur alternatif untuk menghindari kepadatan di Jalan Pandanaran.

Selain itu, kepadatan juga diprediksi terjadi di sekitar Simpang Pandanaran 1 dan akses menuju Simpang Lima. Untuk kendaraan dari arah selatan, khususnya dari Polda Jateng, akan diarahkan untuk berputar di Bundaran Air Mancur Pahlawan guna menjaga sterilitas area Lapangan Pancasila selama acara berlangsung.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak memarkir kendaraan di sepanjang rute pawai. Sebagai gantinya, telah disiapkan sejumlah kantong parkir resmi di titik strategis.

Untuk area awal pawai, tersedia parkir di DP Mall, Gedung Parkir Balai Kota, SMA 3 Semarang, dan Museum Mandala Bhakti. Sementara itu, di area akhir pawai, pengunjung dapat memanfaatkan lahan parkir di eks Gama Plaza serta area belakang Masjid Baiturrahman.

Pawai tahun ini mengangkat tema harmoni dan toleransi dengan semangat “Memayu Hayuning Bhawono, Memayu Hayuning Sesami, dan Memayu Hayuning Diri.” Peserta yang terlibat pun beragam, mulai dari komunitas lintas agama hingga kelompok seni seperti Beleganjur dari Yogyakarta, serta kesenian lokal seperti Rebana, Angklung, Barongsai, dan Warak Ngendog.

Acara ini juga menjadi bagian dari perayaan capaian Kota Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia, dan akan ditutup dengan pertunjukan Sendratari Legenda Rawa Pening di kawasan Simpang Lima.

“Masyarakat kami undang untuk hadir bersama keluarga menikmati kemeriahan ini. Namun tetap jaga ketertiban dan kebersihan agar acara berjalan lancar,” tutup Agustina. (ADV)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN