SEMARANG, Jatengnews.id – Perayaan Hari Tari Dunia 2026 di Kota Semarang berlangsung meriah dengan konsep pertunjukan maraton selama 24 jam penuh. Ratusan penari dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara ambil bagian dalam acara yang digelar di halaman Hotel Front One HK Resort.
Kegiatan ini dimulai sejak Jumat sore dan dijadwalkan berakhir pada Sabtu sore, menghadirkan pertunjukan tari tanpa henti sebagai bentuk perayaan seni dan budaya. Sebanyak 17 sanggar turut berpartisipasi, dengan peserta yang berasal dari Semarang, Kabupaten Semarang, Yogyakarta, Kediri, serta daerah lainnya. Selain itu, seorang penari dari Jepang juga ikut meramaikan panggung internasional tersebut.
Acara dibuka oleh Sanggar Kusma Wira Tama bersama Sanggar Tari Juju, yang kemudian dilanjutkan oleh puluhan kelompok tari lainnya. Tahun ini, durasi pertunjukan diperpanjang menjadi 24 jam, meningkat dari pelaksanaan tahun sebelumnya yang hanya berlangsung selama 12 jam.
Secara keseluruhan, terdapat sekitar 84 penampil dari dalam negeri yang menampilkan beragam tarian tradisional Indonesia, khususnya tari khas Jawa. Tema “Berkreasi, Berkarya, Bersama” diangkat sebagai semangat utama, dengan peserta yang berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Pelatih Sanggar Tari Juju, Desti Herdiana, mengungkapkan bahwa pihaknya menampilkan beberapa kelompok dengan jenis tarian berbeda. “Hari ini kami membawa tiga kelompok, yakni Tari Kelinci, Tari Nusantara, dan Tari Denok Semarang. Besok juga ada tiga kelompok lagi. Untuk anak-anak usia 5 sampai 7 tahun, persiapannya cukup singkat, hanya beberapa kali latihan,” jelasnya.
Ia berharap perayaan Hari Tari Dunia ke depan dapat digelar lebih besar dan semakin meriah, sehingga mampu menarik lebih banyak partisipasi.
Sementara itu, Ketua panitia Mochamad Fajri Fadhilah menyebut bahwa peningkatan durasi menjadi 24 jam merupakan upaya pengembangan acara. “Kami ingin memberikan ruang lebih luas bagi para penari untuk tampil dan berekspresi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun sempat direncanakan dua penari dari luar negeri, hanya satu yang dapat hadir karena kendala penerbangan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan ekosistem seni tari di Semarang dan daerah lain terus berkembang, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi para penari untuk berkarya dan tampil di panggung yang lebih luas. (03)



