SEMARANG, Jatengnews.id — Publik kini tidak lagi memandang seni hanya sebagai karya visual atau pertunjukan semata. Seni telah beralih fungsi menjadi medium untuk membaca perubahan sosial, membangun empati, dan merumuskan model pengelolaan budaya yang partisipatif.
Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam Festival GULA yang berlangsung pada 11–14 Mei 2026 di Tan Art Space. Menggunakan pendekatan Arts-Based Research, festival ini menyajikan diantaranya, Residensi seniman dan riset partisipatif. Arsip bergerak dan panggung seni inklusif dan Kolaborasi aktif dengan ekosistem masyarakat gunung, pesisir, dan perkotaan.
Praktisi seni, Muhammad Salafi Handoyo, menjelaskan bahwa Festival GULA lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan seni sebagai ruang refleksi atas dinamika sosial masyarakat.
“Fokus kami bukan sekadar menghasilkan karya. Seniman harus merekam realitas sosial dan mengalami langsung kehidupan masyarakat, lalu menerjemahkannya menjadi pengetahuan bersama,” ujar Salafi di TAN Art Space, Kamis (14/5/2026).
Melalui pendekatan Arts-Based Research, seniman melampaui proses estetika untuk melakukan refleksi kritis terhadap lingkungan sosial dan ruang publik. Dalam festival ini, para seniman tinggal bersama keluarga asuh di tiga wilayah, lereng gunung, pesisir, dan perkotaan. Salafi memosisikan ketiga wilayah tersebut sebagai ruang diskursif yang menyimpan memori kolektif, tradisi, serta strategi bertahan hidup masyarakat.
Ketua Pelaksana Festival GULA, Ari Eko Budiyanto, merancang seluruh rangkaian kegiatan sebagai laboratorium hidup. Tujuannya adalah mengamati cara masyarakat merespons perubahan dan membangun pola konservasi budaya yang relevan.
Festival ini menggerakkan dua instrumen simbolik dainataranya, “Mantra Batin”: Merepresentasikan harapan masyarakat dan “Tapak Temu Laku”: Menjadi bentuk realisasi perilaku sosial.
“Tujuan kami sederhana: agar masyarakat gunung, laut, maupun kota bisa saling mengenal dan saling menguatkan,” kata Ari. Ia juga menekankan pentingnya distribusi pengetahuan melalui arsip, dokumentasi, tulisan, hingga media digital. Menurutnya, arsip adalah ingatan kolektif dan nurani peradaban, bukan sekadar dokumen mati.
Ketua AECI Satya Nirmana Foundation, Singgih Adhi Prasetyo, menyebut festival ini sebagai upaya membangun pola kerja seni yang transdisipliner dan berkelanjutan. Singgih mendorong seni untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat dan terlibat langsung dalam, persoalan ruang publik, pendidikan kolektif dan pemberdayaan komunitas.
“Kami tidak hanya ingin membangun festival tahunan, tetapi menciptakan model pengelolaan kebudayaan yang berbasis kolaborasi,” pungkasnya. (01).


