Pemprov Jateng Gandeng 50 Kampus, Hasil Riset Jadi Dasar Kebijakan Publik

Melalui kerja sama tersebut, hasil penelitian kampus tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai landasan dalam penyusunan kebijakan publik.

SEMARANG, Jatengnews.id  – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mendukung pembangunan daerah berbasis riset dan inovasi.

Melalui kerja sama tersebut, hasil penelitian kampus tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai landasan dalam penyusunan kebijakan publik.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan sinergi antara pemerintah dan dunia pendidikan menjadi salah satu strategi dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Saat ini, Pemprov Jateng telah menjalin kerja sama dengan sekitar 50 perguruan tinggi di wilayah tersebut.

“Kami sampaikan bahwa MoU sudah kita lakukan dengan 43 kampus, dan sekarang mungkin sudah 50-an kampus di Jawa Tengah yang menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yasin saat menjadi narasumber dalam LKMM-TM 2026 di Universitas Dian Nuswantoro, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, nota kesepahaman bukanlah tujuan akhir dari sebuah kerja sama. Yang terpenting adalah implementasi program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami menganggap MoU bukan tujuan. Yang lebih penting adalah tindak lanjutnya. Sebuah program dan kebijakan harus didasari kajian, penelitian, dan literasi keilmuan,” tegasnya.

Berbagai kolaborasi telah diwujudkan dalam sejumlah program strategis. Bersama Universitas Diponegoro, Pemprov Jateng mengembangkan teknologi desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar guna membantu masyarakat pesisir yang terdampak rob dan krisis air bersih.

Selain itu, kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret dilakukan dalam upaya penanganan dan pengelolaan Rawa Pening. Sejumlah perguruan tinggi lainnya juga terlibat dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang diarahkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

Sementara itu, kolaborasi dengan Udinus menghasilkan berbagai program pemberdayaan, termasuk hibah produk air minum kemasan Toyaku dan edukasi gerakan stop boros pangan.

“Masukan-masukan dari kampus dan mahasiswa inilah yang kita ambil untuk menjadi sebuah kebijakan di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” kata Gus Yasin.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya menyikapi perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara bijak. Menurutnya, teknologi memang memberikan kemudahan, namun tidak boleh mengurangi budaya belajar dan kemampuan berpikir kritis masyarakat.

“AI itu kecerdasan sebuah program. Jangan sampai masyarakat yang menciptakan AI justru berkurang kecerdasannya karena merasa semuanya sudah mudah,” pungkasnya.

Penulis : Jaka N

Editor : Shodiqin

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN