Yayasan Persadani Gelar Sarasehan Korban Ekstremisme, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Toleransi

Kegiatan tersebut mengusung tema "Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Masyarakat Inklusif dan Toleran"

SEMARANG, Jatengnews.id – Yayasan Persadani Kota Semarang menggelar kegiatan Sarasehan Korban Ekstremisme pada 20-21 Juni 2026 di Hotel Amanda Hill, Bandungan, Kabupaten Semarang.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Masyarakat Inklusif dan Toleran”. Melalui sarasehan ini, Yayasan Persadani bersama Pemerintah Kota Semarang berupaya memperkuat peran keluarga dalam menghadapi berbagai dampak ekstremisme sekaligus membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang yang diwakili Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik, Fatkhurohman, SE., MM., menyampaikan dukungan penuh kepada para peserta untuk membangun keluarga yang tangguh dan mandiri.

Menurutnya, pemerintah terus berupaya memberikan pendampingan melalui berbagai program pembinaan dan pemberdayaan ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Pemerintah memberikan dukungan penuh kepada teman-teman dalam mewujudkan keluarga yang tangguh, termasuk melalui berbagai upaya peningkatan ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, Pembina Yayasan Persadani yang juga Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Najahan Musyafak, MA., menekankan pentingnya tiga nilai utama yang menjadi fokus kegiatan, yakni ketahanan keluarga, sikap inklusif, dan toleransi.

Ia menjelaskan bahwa keluarga merupakan pondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa. Karena itu, sikap saling menghargai, terbuka terhadap perbedaan, dan menjalin toleransi perlu ditanamkan sejak lingkungan keluarga.

“Tiga poin utama yang perlu diperkuat adalah keluarga sebagai pondasi utama dalam membangun keutuhan bangsa, sikap inklusif dengan bergandengan tangan bersama, serta menjalin toleransi antar sesama,” jelasnya.

Melalui diskusi panel yang berlangsung interaktif, para peserta diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang terbuka, saling merangkul, dan menghargai perbedaan demi menjaga perdamaian, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta juga mendapatkan berbagai materi, mulai dari kesetaraan gender hingga hukum pidana. Selain itu, kegiatan diisi dengan tadabbur alam dan berbagai permainan yang bertujuan mempererat silaturahmi serta membangun kebersamaan antarpeserta. (01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN