SEMARANG, Jatengnews.id – ASUS Indonesia resmi memperkenalkan ASUS ExpertBook Ultra sebagai laptop bisnis flagship yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan para eksekutif tingkat tinggi (C-level executives) dan pendiri bisnis (business founder).
Adapun, perangkat ini diklaim menghadirkan perpaduan teknologi mutakhir dari sisi performa, keamanan, hingga daya tahan dalam desain yang sangat tipis dan ringan.
Head of Public Relations ASUS Indonesia, Muhammad Firman, mengatakan ASUS ExpertBook Ultra menjadi representasi laptop bisnis generasi terbaru yang membawa konsep The Flagship of The Industry.
“ASUS Indonesia dengan bangga menghadirkan ASUS ExpertBook Ultra. Laptop flagship yang ditujukan spesifik untuk C-level executives dan business founder ini merupakan laptop bisnis thin and light pertama dengan seluruh kelebihan komputasi,” ujar Muhammad Firman, Rabu (24/06/2026).
Menurutnya, ASUS ExpertBook Ultra merangkum berbagai teknologi terkini mulai dari perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sistem keamanan (security), hingga ketahanan (durability) dalam bodi yang ringkas.
Laptop tersebut memiliki ketebalan mulai dari 1,09 cm dengan bobot mulai dari 0,99 kilogram. Meski mengusung desain ultra tipis, ASUS tetap mempertahankan pengalaman mengetik yang nyaman dengan sensasi tactile.
Tak hanya mengandalkan desain, ASUS ExpertBook Ultra juga membawa sejumlah fitur premium. Laptop ini menggunakan panel Tandem OLED, yang disebut sebagai salah satu teknologi layar terbaik di industri saat ini. Selain itu, perangkat ini dilengkapi sistem audio enam speaker dengan konfigurasi dual-magnetic woofer serta dua dedicated tweeter.
Konfigurasi audio tersebut dirancang untuk menghadirkan suara dengan bass lebih dalam dan detail yang lebih kaya, sehingga mendukung kebutuhan profesional saat melakukan presentasi, konferensi daring, maupun menikmati konten multimedia.
Dari sisi kontrol, ASUS ExpertBook Ultra menghadirkan haptic touchpad dengan enam sensor. Teknologi ini memberikan pengalaman penggunaan menyerupai tombol fisik melalui permukaan sentuh berbahan kaca yang halus.
Dalam sektor performa, ASUS ExpertBook Ultra menjadi laptop bisnis pertama di Indonesia yang menggunakan prosesor Intel Core Ultra X7 Series 3. Dukungan teknologi pendinginan ExpertCool Pro memungkinkan perangkat bekerja stabil hingga tingkat daya (TDP) 50 Watt.
Kemampuan tersebut membuat laptop ini mampu menghadirkan performa komputasi dan grafis yang lebih tinggi dibandingkan laptop ultra tipis pada umumnya, sekaligus mendukung kemampuan kecerdasan buatan (AI on-device) yang lebih aman dan menyeluruh.
Muhammad Firman menambahkan, ASUS ExpertBook Ultra dirancang untuk menjawab kebutuhan bisnis modern yang membutuhkan perangkat dengan mobilitas tinggi namun tetap memiliki kemampuan maksimal.
“Dengan seluruh teknologi terbaik yang ada saat ini, ASUS ExpertBook Ultra membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin dengan ruang yang super terbatas tapi fitur yang disematkan tidak terbatas. Make the impossible, possible,” katanya.
Melalui peluncuran ini, ASUS Indonesia mengajak para pengguna bisnis untuk melihat langsung kemampuan ASUS ExpertBook Ultra, mulai dari performa, fitur keamanan, hingga inovasi desain yang ditawarkan untuk mendukung produktivitas profesional masa kini.
Firman menjelaskan, teknologi AI pada perangkat laptop dan PC sebenarnya sudah tersedia pada produk-produk terbaru. Namun, tantangan saat ini bukan pada teknologi, melainkan ketersediaan komponen pendukungnya.
“Prosesor terbaru maupun VGA terbaru sebenarnya sudah sangat mendukung AI. Tetapi produsen semikonduktor saat ini lebih banyak memasok kebutuhan untuk data center AI, sehingga komponen untuk consumer electronics mengalami shortage,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, harga laptop dengan spesifikasi yang sama mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Firman memperkirakan kenaikan harga bisa mencapai sekitar 50 persen dibandingkan produk dengan spesifikasi serupa pada 2025.
“Misalnya dulu laptop Core i3 dengan harga sekitar Rp6 jutaan, sekarang untuk spesifikasi yang sama bisa mencapai Rp8 jutaan,” ungkapnya.
Ia bahkan menyebut, jika kondisi pasokan chip belum membaik, selisih harga produk yang sama antara 2025 dan akhir 2026 berpotensi semakin besar, tergantung kondisi pasar dan ketersediaan komponen.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara


