SEMARANG, Jatengnews.id – Sebanyak 35 stan pameran memamerkan hasil proyek mahasiswa, mulai dari strategi komunikasi, konsep visual, hingga media kampanye yang dirancang berdasarkan hasil riset terhadap SMA Kristen Widya Wacana Solo.
Pameran tersebut merupakan bagian dari kegiatan Studio DKV Terpadu yang digelar mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Sugijapranata Catholic University (SCU) di Kampus BSB Semarang, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan ini menampilkan karya mahasiswa dari dua mata kuliah, yakni Studio Integrated Marketing Communication (IMC) dan Studio New Media, yang mengusung pendekatan pembelajaran berbasis proyek.
Dosen Koordinator Mata Kuliah Studio DKV Terpadu SCU, Louis Cahyo Kumolo Buntaran, S.Ds., M.M., mengatakan proyek yang dipamerkan bukan sekadar tugas perkuliahan, melainkan mengangkat studi kasus nyata (real case) yang dikerjakan bersama mitra.
“Di DKV ada mata kuliah teori dan mata kuliah studio yang berbasis proyek. Pada semester ini kami menggabungkan pameran Studio IMC dan Studio New Media. Khusus Studio IMC, mahasiswa mengerjakan studi kasus nyata bersama SMA Kristen Widya Wacana Solo,” ujarnya.
Menurut Louis, proyek tersebut berawal dari penelitian dosen DKV SCU mengenai brand assessment. Hasil penelitian menunjukkan SMA Kristen Widya Wacana memiliki berbagai potensi yang belum tersampaikan secara optimal kepada masyarakat.
Berangkat dari hasil riset tersebut, mahasiswa ditugaskan menyusun strategi kampanye komunikasi untuk memperkuat citra sekolah sekaligus mengenalkan berbagai program unggulan kepada calon peserta didik dan orang tua.
Setiap kelompok mengusung tema berbeda, mulai dari penguatan humas sekolah, lingkungan belajar, prestasi akademik dan nonakademik, hingga pengembangan komunitas sekolah. Pendekatan kampanye yang ditawarkan pun beragam, seperti penyelenggaraan kompetisi antarsiswa, penguatan personal branding, hingga kampanye digital yang menyasar calon siswa dengan minat di bidang kreatif.
“Promosi konvensional saat ini sudah kurang efektif. Karena itu mahasiswa kami ditantang membuat kampanye yang lebih kreatif, relevan, dan dekat dengan karakter masyarakat saat ini,” katanya.
Seluruh hasil karya yang dipamerkan selanjutnya akan dipresentasikan kepada pihak SMA Kristen Widya Wacana. Sekolah kemudian akan memilih sedikitnya satu konsep kampanye yang dinilai paling realistis untuk diterapkan sebagai media promosi.
Dalam proses penilaian, aspek yang diperhatikan tidak hanya kualitas desain visual, tetapi juga kekuatan strategi komunikasi, efektivitas pesan, kreativitas, serta kelayakan implementasi berdasarkan anggaran dan sumber daya yang dimiliki sekolah.
Sementara itu, Dosen Koordinator Mata Kuliah Studio New Media SCU, Peter Ardhianto, S.Sn., M.Sn., Ph.D., mengatakan kolaborasi DKV SCU dengan SMA Kristen Widya Wacana telah berlangsung sekitar empat tahun dan terus memberikan dampak positif.
“Setiap tahun pihak sekolah merasa puas dengan kolaborasi ini karena memberikan manfaat nyata. Sekolah memperoleh alternatif strategi komunikasi, sementara mahasiswa mendapatkan pengalaman mengerjakan proyek bersama klien secara langsung,” ujarnya.
Peter menambahkan, model pembelajaran serupa juga telah diterapkan pada sejumlah sekolah lain, salah satunya SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan industri kreatif.
“Melalui proyek ini, mahasiswa tidak hanya belajar menghasilkan karya desain, tetapi juga memahami proses riset, penyusunan strategi, presentasi kepada klien, hingga menerima masukan secara profesional sebagaimana yang akan mereka hadapi di dunia kerja,” tambahnya.
Salah satu mahasiswa DKV SCU, Karen Christella Sudarto, mengaku proyek tersebut memberikan pengalaman baru karena mahasiswa dituntut berpikir layaknya konsultan komunikasi.
“Kami mendapat tantangan baru, yaitu bagaimana mempromosikan SMA Kristen Widya Wacana melalui berbagai program unggulannya. Kami tidak hanya membuat visual promosi, tetapi juga menyusun dokumen konsep kampanye (concept book) yang berisi latar belakang, analisis, Unique Selling Proposition (USP), strategi komunikasi, strategi media, hingga perancangan setiap elemen visual. Jadi, kami tidak hanya merancang desain, tetapi juga memikirkan bagaimana pesan tersebut dapat dikomunikasikan secara efektif kepada target audiens,” tuturnya.
Karen berharap media promosi yang dirancang mahasiswa dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai program unggulan SMA Kristen Widya Wacana.
“Semoga semakin banyak siswa SMP maupun orang tua yang mengenal SMA Kristen Widya Wacana dan tertarik melanjutkan pendidikan di sana,” katanya.
Ia juga berharap pengalaman mengerjakan proyek berbasis kasus nyata tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa ketika memasuki dunia profesional.
“Melalui proyek ini kami belajar menangani studi kasus nyata. Kami tidak hanya dituntut mampu membuat media promosi yang menarik secara visual, tetapi juga menyusun strategi komunikasi yang tepat sehingga solusi yang kami tawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan klien,” pungkasnya. (01).
Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara


