SEMARANG, Jatengnews.id – Warga Kampung Gombel Lama, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, mulai mengambil langkah hukum terkait kerusakan rumah yang mereka klaim semakin parah sejak aktivitas pembangunan di kawasan tersebut.
Warga tidak hanya meminta rumah yang mengalami kerusakan diperbaiki. Mereka meminta ganti untung karena khawatir kerusakan kembali terjadi selama proyek pembangunan masih berlangsung.
Pendamping hukum warga sekaligus Koordinator Forum Advokasi Rakyat (FAR), Eko Hariyanto mengatakan, tuntutan tersebut muncul karena warga menilai perbaikan rumah saja belum memberikan kepastian terhadap kondisi bangunan mereka ke depan.
“Warga tidak menginginkan rumahnya hanya diperbaiki. Mereka meminta ganti untung karena khawatir kerusakan akan terus berulang selama proyek masih berlangsung,” kata Eko saat ditemui awak media Jumat (7/8/2026) malam.
Sebelumnya, Jalan Gombel Lama telah dilakukan perbaikan jalan dan pembangunan Pakuwon Mal. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap aktivitas UMKM karena adanya penutupan jalan.
Selain mengganggu aktivitas ekonomi warga, aktivitas alat berat dalam proyek tersebut juga disebut warga berdampak pada sejumlah bangunan rumah di sekitar lokasi.
Eko mengatakan, kekhawatiran warga semakin kuat karena aktivitas pembangunan hingga kini masih berlangsung.
Terlebih, berdasarkan keterangan warga, sejumlah kerusakan mulai terlihat semakin parah sejak proyek memasuki tahap pengeboran pada April 2026.
Sedikitnya 19 rumah warga disebut mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. Kerusakan antara lain berupa retakan pada dinding dan lantai, kusen bergeser, plafon ambrol hingga tanah di sekitar bangunan yang mulai ambles.
Salah satu rumah terdampak berada di RT 06 RW 05, milik Parjono (71). Rumah tersebut kini dipenuhi retakan pada bagian dinding.
Retakan bahkan cukup lebar hingga bisa dimasuki jari tangan orang dewasa. Selain dinding, lantai rumah juga mengalami perubahan bentuk dan menggelembung.
Kerusakan serupa dialami Misiyati (62). Ia mengaku retakan yang sebelumnya hanya berupa garis halus kini semakin melebar. Bagian lantai rumah juga mengalami ambles, sedangkan plafon kamar mandi jebol.
“Dulu memang sudah ada retak, tapi tidak separah sekarang. Setelah ada pembangunan itu, retaknya semakin melebar,” kata Misiyati.
Warga menyebut kerusakan tersebut dirasakan bersamaan dengan aktivitas alat berat di lokasi proyek.
Parjono yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1985 mengaku kerap merasakan getaran ketika alat berat melakukan pengerukan maupun pengeboran.
“Kalau malam bunyinya seperti gempa, rumah terasa bergetar. Tidur jadi tidak tenang, selalu waswas,” ucap Parjono.
Kondisi tersebut membuat warga khawatir terhadap keselamatan keluarga mereka. Apalagi, di lingkungan tersebut terdapat anak-anak dan balita yang turut merasakan dampak kebisingan aktivitas proyek.
“Siang terganggu, malam juga terganggu. Apalagi di sini banyak balita, tidurnya jadi tidak nyaman,” sambungya.
Warga berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada penambalan atau perbaikan bagian rumah yang rusak. Mereka meminta kepastian mengenai keberlanjutan kondisi bangunan selama proyek pembangunan masih berjalan.
Parjono bahkan berharap rumah warga dapat dibeli oleh pihak yang bertanggung jawab sehingga kekhawatiran terhadap kemungkinan kerusakan lanjutan dapat dihindari.
“Mending beli sekalian, ganti untung, jadi enggak kepikiran gimana lagi kalau rusak lagi,” harapnya.
Saat ditanya mengenai nominal, Parjono meminta tiga kali lipat dari harga tanah dan bangunan sebagai bentuk ganti untung.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N





