Belajar Menyapa ala Jepang, Siswa Wonosegoro Praktik Aisatsu hingga Tiga Jenis Ojigi

Siswa juga belajar menggunakan ungkapan “Watashi no namae wa...” untuk memperkenalkan nama dalam bahasa Jepang.

BOYOLALI, Jatengnews.id — Sapaan sederhana seperti “Hajimemashite” menjadi pengalaman baru bagi siswa kelas XII SMAN 1 Wonosegoro, Kabupaten Boyolali.

Melalui kegiatan sosialisasi bahasa dan budaya Jepang, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) mengajak para siswa mengenal bahasa, tata krama, budaya, hingga peluang pendidikan di Negeri Sakura, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan dikemas secara interaktif sehingga siswa tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan langsung bahasa dan budaya Jepang. Mulai dari mengenal sistem tulisan, mengucapkan kosakata sederhana, memperkenalkan diri, hingga mempraktikkan tata krama melalui gerakan membungkuk atau ojigi.

Materi diawali dengan pengenalan tiga jenis huruf dalam bahasa Jepang, yakni Hiragana, Katakana, dan Kanji. Mahasiswa menjelaskan karakteristik serta fungsi masing-masing huruf dalam sistem penulisan bahasa Jepang. Siswa kemudian diperkenalkan dengan kotoba atau kosakata sederhana sekaligus cara pengucapannya.

Pembelajaran semakin menarik ketika mahasiswa mengenalkan aisatsu, yakni ungkapan salam atau sapaan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Aisatsu menjadi bagian penting dalam interaksi karena berkaitan erat dengan kesopanan ketika menyapa, berkenalan, maupun berkomunikasi.

Salah satu ungkapan yang diperkenalkan adalah “Hajimemashite” yang digunakan ketika pertama kali berkenalan. Siswa juga belajar menggunakan ungkapan “Watashi no namae wa…” untuk memperkenalkan nama dalam bahasa Jepang.

Setelah mendapatkan penjelasan, siswa langsung diajak mempraktikkan aisatsu. Mereka mencoba memperkenalkan diri menggunakan ungkapan yang telah dipelajari. Suasana kegiatan berlangsung antusias karena siswa dapat berinteraksi langsung dan mencoba menggunakan bahasa Jepang dalam situasi sederhana.

Pengenalan bahasa kemudian dilanjutkan dengan materi budaya, khususnya ojigi. Dalam budaya Jepang, ojigi merupakan gerakan membungkukkan badan yang digunakan sebagai bentuk penghormatan, salam, ucapan terima kasih, maupun permintaan maaf.

Mahasiswa memperkenalkan tiga jenis ojigi beserta situasi penggunaannya. Para siswa kemudian mempraktikkan gerakan tersebut secara langsung sehingga dapat memahami bahwa penggunaan bahasa Jepang tidak terlepas dari tata krama dan sikap hormat.

Salah satu siswa kelas XII, Putri Ardiansyah, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Seru, kita jadi lebih mengenal bahasa Jepang lebih dalam. Mulai dari budayanya yang kita nggak tahu,” ujarnya.

Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Perpaduan antara penyampaian materi dan praktik membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus membantu siswa memahami penggunaan bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Tak hanya mengenalkan bahasa dan budaya, mahasiswa KKN Tim II Undip juga memberikan wawasan mengenai peluang pendidikan di Jepang. Siswa kelas XII mendapatkan informasi mengenai program beasiswa Monbukagakusho (MEXT) serta sejumlah peluang beasiswa lainnya.

Informasi tersebut diharapkan dapat membuka wawasan siswa mengenai berbagai pilihan pendidikan setelah menyelesaikan jenjang SMA. Dengan mengenalkan peluang studi di luar negeri sejak dini, siswa diharapkan dapat mulai mempersiapkan diri sesuai dengan minat dan cita-cita masing-masing.

Kegiatan sosialisasi ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Edukasi bahasa asing, pengenalan budaya internasional, serta informasi mengenai akses pendidikan menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dan kesempatan belajar bagi generasi muda.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada teori. Dari mengenal Hiragana, Katakana, dan Kanji, mempelajari kotoba, mempraktikkan aisatsu, hingga mencoba tiga jenis ojigi, siswa SMAN 1 Wonosegoro memperoleh pengalaman untuk mengenal Jepang secara lebih dekat.

Dari sebuah salam sederhana, siswa belajar lebih dari sekadar bahasa. Mereka juga diajak memahami budaya, tata krama, serta peluang pendidikan yang ada di baliknya. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi siswa untuk semakin terbuka terhadap bahasa asing, keberagaman budaya, dan berbagai kesempatan pendidikan di masa depan.



Penulis   : Tim Mahasiswa KKN

Editor      : Alif Nazzala Rizqi

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN