Semarang, JatengNews.id— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN MIT) ke-22 Posko 11 UIN Walisongo Semarang turut ambil bagian dalam Gerakan Kali Klampok dan Daerah Irigasi Wiyonggo Bersih dan Hijau di Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, pada Jumat (07/08/26).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari aksi kolaboratif untuk menjaga kebersihan sungai, kelancaran irigasi, serta kelestarian lingkungan yang melibatkan pemerintah, pihak swasta, masyarakat, dan kelompok tani.
Gerakan bersih sungai tersebut digagas oleh PT Macroprima Panganutama (Cimory Group) bersama masyarakat dan sejumlah pihak terkait. Aksi pembersihan dilakukan di tiga titik, yakni Kali Jumbleng, Kali Klampok, dan Saluran Bendungan Wiyonggo.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN MIT 22 Posko 11 UIN Walisongo turut terlibat dalam proses pembersihan aliran sungai dan saluran irigasi. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari kontribusi dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan sumber daya air.
Gerakan tersebut memiliki tiga fokus utama. Pertama, mengangkat sampah domestik dan limbah padat yang berpotensi menyumbat aliran air sehingga debit irigasi tetap lancar. Kedua, menjaga fungsi Daerah Irigasi Wiyonggo agar pasokan air menuju lahan pertanian tetap bersih dan terjaga. Ketiga, mendorong kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran irigasi.
Pembersihan sungai dan saluran irigasi juga dinilai memiliki manfaat bagi sektor pertanian. Aliran air yang bersih dan lancar dapat mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian yang bergantung pada Daerah Irigasi Wiyonggo.
Selain itu, pembersihan sampah dan sedimentasi secara berkala dapat membantu mengurangi potensi penyumbatan aliran air yang berisiko menyebabkan luapan saat hujan deras. Lingkungan perairan yang lebih bersih juga diharapkan dapat mendukung kesehatan masyarakat di sekitar aliran sungai.
Kepala Bidang Dinas Lingkungan Hidup, Agung P., mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, kelompok tani, masyarakat, dan komunitas menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian sungai.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dari semua komponen untuk melakukan kegiatan pelestarian lingkungan, salah satunya di Kali Klampok ini. Sudah tiga tahun manfaatnya dirasakan, setelah dibersihkan alirannya menjadi lebih lancar di daerah yang digunakan untuk irigasi,” ujarnya.
Agung berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak hanya berfokus pada Kali Klampok. Menurutnya, pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah.
“Harapannya tidak selesai di sini saja, setiap tahun bisa dilanjutkan dan tidak hanya di daerah ini. Beberapa bulan lalu kami juga berkolaborasi dengan masyarakat peduli sungai di kawasan Karangjati, Ngempon, bersama PT Sido Muncul, dan sekarang bersama PT Macroprima Panganutama. Jadi, pelestarian lingkungan memang tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, baik pemerintah maupun masyarakat, tetapi harus melibatkan kolaborasi semua pihak,” jelasnya.
Camat Pringapus, Slamet Shodiq, S.H., juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi langkah positif dalam menjaga kebersihan dan fungsi Kali Klampok serta Daerah Irigasi Wiyonggo.
Ia menjelaskan, kegiatan bersih sungai sebelumnya pernah dilakukan melalui program Prokasih (Program Kali Bersih) yang disponsori Pemerintah Daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup.
Saat ini, kegiatan tersebut kembali dilaksanakan dengan dukungan pihak swasta melalui PT Macroprima Panganutama (Cimory Group), bersama pemerintah kecamatan, kelurahan, dan masyarakat kelompok tani dari Desa Pringapus serta Pringsari.
“Harapannya jelas, kali ini bersih dan airnya lancar. Sedimennya cukup tinggi, kalau lama tidak dikeruk akan menjadi dangkal. Jadi yang utama adalah pengerukan sedimen, dan yang tidak kalah penting adalah mengajak warga untuk selalu hidup bersih,” tuturnya.
Slamet menambahkan, edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kebersihan sungai. Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai diharapkan tidak lagi membuang sampah sembarangan.
“Melalui pendekatan psikologis seperti ini, diharapkan warga tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai, karena sungai ini adalah warisan untuk generasi mendatang,” lanjutnya.
Keterlibatan mahasiswa KKN MIT 22 Posko 11 UIN Walisongo dalam gerakan tersebut diharapkan dapat menjadi pengalaman sekaligus bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam menjaga lingkungan.
Kolaborasi lintas pihak juga diharapkan terus berlanjut agar kebersihan sungai dan kelancaran irigasi di Kecamatan Pringapus dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN MIT 22 POSKO 11 UIN Walisongo
Editor: R. D. Pramesti





