Semarang, JatengNews.id- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT UIN Walisongo Semarang Posko 162 berkolaborasi dengan SD Negeri 2 Kebonsari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, menggelar Festival Anak Sholeh, Senin (10/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ajang pencarian bakat sekaligus persiapan siswa menghadapi seleksi Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) tingkat kecamatan.
Festival Anak Sholeh diikuti siswa SD Negeri 2 Kebonsari melalui lima cabang perlombaan keagamaan, yakni azan dan iqamah, praktik wudhu dan salat, hifdzil Qur’an, seni cerita Islami, serta khitobah.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membantu siswa mengembangkan potensi dan keterampilan di bidang keagamaan sekaligus membangun kepercayaan diri sebelum mengikuti kompetisi MAPSI.
Mahasiswa KKN bersama tenaga pendidik SD Negeri 2 Kebonsari turut mendampingi siswa dalam proses persiapan.
Festival Anak Sholeh dibuka melalui apel pagi yang diikuti jajaran dewan guru, mahasiswa KKN UIN Walisongo, dan seluruh peserta didik SD Negeri 2 Kebonsari.
Mewakili Kepala SD Negeri 2 Kebonsari, Khurozi memberikan motivasi kepada siswa agar tidak ragu menunjukkan kemampuan saat mengikuti perlombaan.
“Kegiatan Festival Anak Sholeh ini merupakan seleksi ajang pencarian bakat sebagai persiapan Lomba MAPSI. Tunjukkan bahwa kalian bisa! Ada tiga penyakit mental yang kerap membuat kalian tidak percaya diri dalam berlomba, yaitu rasa ragu, malu, dan takut. Hilangkan itu semua dan tampilkan bakat kalian secara maksimal,” tegasnya.
Ia juga mendorong siswa untuk memiliki mental yang kuat ketika menghadapi kompetisi.
“Saya mewakili guru SD Negeri 2 Kebonsari berharap kalian memiliki mental petarung sejati, karena SD Negeri 2 Kebonsari adalah sekolah yang hebat!” tambahnya.
Latih Kepercayaan Diri dan Sportivitas Siswa
Ketua Pelaksana Festival Anak Sholeh, Alief Sulton Raihan, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, keberanian, dan pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan.
“Kami berharap acara ini bukan sekadar perlombaan, melainkan pengalaman berkesan yang melatih rasa percaya diri, sportivitas, dan keberanian tampil di depan umum,” ungkapnya.
Menurut Alief, pengalaman yang diperoleh siswa melalui festival diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
“Semoga nilai positif dari festival ini terus diterapkan anak-anak, baik di sekolah maupun di rumah, sekaligus menjadi rekam jejak yang bermanfaat dari program KKN kami di SD Negeri 2 Kebonsari,” lanjutnya.
Lima cabang perlombaan yang digelar menjadi wadah bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan masing-masing. Selain sebagai seleksi internal sekolah, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membangun mental kompetitif secara sehat dan sportif.
Lomba MAPSI sendiri menjadi salah satu ajang yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan kemampuan di bidang Pendidikan Agama Islam dan seni Islami. Persiapan sejak tingkat sekolah diharapkan dapat membantu siswa lebih siap menghadapi seleksi di tingkat kecamatan.
Melalui kolaborasi KKN UIN Walisongo Posko 162 dan SD Negeri 2 Kebonsari, Festival Anak Sholeh diharapkan dapat menjadi sarana pengembangan bakat sekaligus pembentukan karakter peserta didik.
Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mematangkan keterampilan dan mental siswa untuk mengikuti Lomba MAPSI serta mendorong lahirnya prestasi di bidang keagamaan.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN Posko 162 UIN Walisongo
Editor: R. D. Pramesti





