SEMARANG, Jatengnews.id – Suasana Pasar Johar, Semarang, tampak berbeda pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ratusan pedagang, pelanggan, hingga masyarakat ikut memeriahkan Karnaval Pasar Johar bertajuk “Budaya Indonesia” yang digelar di Hall Pasar Johar Tengah, Senin (17/8/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB itu menjadi salah satu agenda tahunan pedagang Pasar Johar sejak kawasan tersebut selesai direnovasi. Selain menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan, karnaval juga menjadi sarana mempererat kebersamaan sekaligus menghidupkan kembali geliat Pasar Johar.
Koordinator panitia Karnaval Pasar Johar, Saltut Asyaruddin Chanif Putra, mengatakan kegiatan tersebut kini telah menjadi agenda rutin sekaligus salah satu ikon di kawasan Johar Tengah.
“Sejak berdirinya Johar Tengah setelah direnovasi, kami dari panitia memang mengadakan karnaval. Dari tahun ke tahun pasti ada karnaval dan diikuti seluruh pedagang,” kata Putra.
Tahun ini menjadi pelaksanaan keempat Karnaval Pasar Johar. Antusiasme peserta pun terus meningkat. Sekitar 280 orang tercatat mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Peserta tidak hanya berasal dari kalangan pedagang. Sejumlah pelanggan dan pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas perdagangan di Pasar Johar juga turut ambil bagian.
“Kami ingin semuanya bisa terlibat. Kalau ada supporting yang memadai, kami akan mengajak keseluruhan bagi siapa saja yang mau ikut,” ujarnya.
Beragam kostum mewarnai jalannya karnaval. Peserta diberikan kebebasan untuk berkreasi sesuai tema budaya Indonesia. Panitia juga mengangkat unsur adat Papua sebagai salah satu representasi kekayaan budaya Nusantara.
Peserta kemudian berkeliling kawasan Pasar Johar. Rute tersebut dipilih agar kemeriahan tidak hanya terpusat di satu titik, tetapi dapat dirasakan oleh para pedagang dan pengunjung di berbagai bagian pasar.
“Kami ingin seluruh Pasar Johar mengikuti karnaval ini, menyatukan satu visi dan misi. Bentuk keguyuban itu penting dalam acara seperti ini,” kata Putra.
Semangat kemerdekaan terlihat dari keterlibatan lintas generasi. Pedagang tua dan muda hingga anak-anak larut dalam suasana meriah. Mereka tampil dengan kostum beragam sembari mengikuti rangkaian karnaval di tengah aktivitas perdagangan.
Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hiburan dan penampilan seni. Panitia juga menyiapkan berbagai hadiah bagi peserta melalui doorprize.
Hadiah yang disiapkan antara lain dispenser, magic com, kompor gas, kipas angin, peralatan masak, sembako, uang tunai, hingga berbagai hadiah lainnya. Panitia juga memberikan penghargaan Best Costume dengan hadiah uang tunai Rp200 ribu.
Menurut Putra, pemberian doorprize menjadi salah satu cara untuk meningkatkan antusiasme peserta sekaligus menjaga agar kegiatan tersebut terus dinantikan setiap tahun.
“Harapannya, ke depan para pedagang selalu menantikan acara ini. Kami mengusahakan peserta yang ikut karnaval dan mendapatkan kupon semuanya bisa mendapatkan hadiah,” tuturnya.
Namun, di balik semarak perayaan kemerdekaan, kegiatan tersebut juga membawa pesan lebih besar, yakni mendorong Pasar Johar kembali ramai dan menjadi pilihan masyarakat untuk berbelanja.
Putra mengakui pasar tradisional menghadapi tantangan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Perkembangan perdagangan daring membuat masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus datang langsung ke pasar.
“Dari segi ekonomi masih standar. Maka dari itu kami dari panitia bagaimana caranya pasar itu bisa menjadi ramai lagi dengan mengadakan event-event atau acara yang bisa mengundang warga Semarang, supaya nantinya ada greget di Johar,” jelasnya.
Menurutnya, perkembangan transaksi online merupakan bagian dari perubahan zaman yang tidak mungkin dihindari. Karena itu, pasar tradisional perlu meresponsnya dengan menghadirkan inovasi dan menciptakan pengalaman yang tidak didapatkan masyarakat ketika berbelanja secara daring.
“Kalau online kita harus mengikuti era zaman sekarang. Tapi semuanya kembali, kita butuh support dari beberapa pihak untuk menyatukan satu visi,” ujarnya.
Ia berharap Pasar Johar tidak hanya dipandang sebagai lokasi transaksi jual beli, tetapi juga sebagai ruang publik yang mampu mempertemukan masyarakat, membangun interaksi sosial, serta menjadi bagian penting dari kehidupan warga Kota Semarang.
Semangat mengikuti karnaval juga ditunjukkan para pedagang senior. Salah satunya Ngatini, pedagang pakaian di Pasar Johar yang telah berusia 68 tahun.
Ngatini tampil mengenakan busana pengantin Jawa. Ia bahkan menyiapkan sendiri riasan dan penampilannya untuk mengikuti karnaval.
Keterlibatan Ngatini menjadi gambaran bahwa semangat merayakan kemerdekaan dan menjaga kebersamaan di Pasar Johar tidak mengenal batas usia.
Bagi para pedagang, Karnaval Pasar Johar bukan sekadar perayaan tahunan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk bertemu, bersilaturahmi, memperkuat rasa memiliki terhadap pasar, sekaligus mengirimkan pesan bahwa pasar tradisional masih memiliki tempat penting di tengah perubahan zaman.
Dengan semangat kebersamaan tersebut, para pedagang berharap geliat Pasar Johar semakin kuat. Bukan hanya ramai saat ada kegiatan khusus, tetapi juga kembali menjadi salah satu pusat perdagangan dan ruang interaksi masyarakat Semarang setiap hari.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara



