Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Mahasiswa KKN UNDIP Bangun Insinerator di Desa Sembojo

Melalui program kerja multidisiplin, mahasiswa membangun insinerator sederhana di Tempat Penampungan Sementara (TPS) RT 04 RW 02, Dukuh Gamblok, Desa Sembojo.

BATANG, Jatengnews.id — Persoalan sampah masih menjadi tantangan lingkungan yang dihadapi masyarakat Desa Sembojo, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang.

Pengelolaan sampah rumah tangga yang belum merata membuat sebagian warga masih memilih membakar sampah secara terbuka untuk mengurangi penumpukan.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan alternatif pengelolaan sampah yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui program kerja multidisiplin, mahasiswa membangun insinerator sederhana di Tempat Penampungan Sementara (TPS) RT 04 RW 02, Dukuh Gamblok, Desa Sembojo.

Fasilitas tersebut diperkenalkan dan mulai dimanfaatkan masyarakat pada 12 Agustus 2026. Kehadiran insinerator diharapkan dapat membantu penanganan sampah di sekitar TPS sekaligus menjadi langkah awal menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata dan berkelanjutan.

Gagasan pembangunan insinerator muncul setelah mahasiswa melakukan pengamatan serta pendataan mengenai kondisi pengelolaan sampah di Desa Sembojo. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa pengelolaan sampah belum berjalan secara merata di seluruh wilayah desa.

Sebagian lingkungan telah memiliki upaya pengelolaan secara mandiri. Namun, di wilayah lainnya masih terdapat keterbatasan dalam pengumpulan maupun penanganan sampah rumah tangga.

TPS RT 04 RW 02 kemudian dipilih sebagai lokasi pembangunan karena dinilai dapat menjadi salah satu titik pengelolaan sampah bagi masyarakat di sekitarnya.

Sebelum pembangunan dimulai, mahasiswa melakukan koordinasi dengan perangkat desa, pengurus RT, dan masyarakat. Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan warga.

Mahasiswa juga melakukan penyesuaian konstruksi berdasarkan kondisi di lapangan. Setelah pembangunan selesai, dilakukan pengecekan dan uji coba untuk memastikan kondisi ruang pembakaran serta aliran udara pada insinerator berjalan sesuai kebutuhan.

Evaluasi tersebut menjadi bagian penting sebelum fasilitas diperkenalkan kepada masyarakat.

Kepala Desa Sembojo, Casmudi, menyambut baik pembangunan fasilitas tersebut. Menurutnya, sampah masih menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian di wilayah Desa Sembojo.

“Sampah memang masih menjadi salah satu permasalahan utama di Desa Sembojo. Dengan adanya insinerator ini, kami berharap masyarakat punya alternatif dalam mengelola sampah,” ujar Casmudi.

Ia menilai keberadaan fasilitas tersebut perlu diikuti keterlibatan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Warga juga diharapkan turut menjaga fasilitas sekaligus mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah.

Hal senada disampaikan Ketua RT 04 RW 02, Toradi. Ia mengatakan keberadaan insinerator cukup membantu masyarakat, khususnya dalam menangani persoalan sampah di sekitar TPS.

“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya insinerator ini. Selama ini sampah memang menjadi masalah di lingkungan kami. Harapannya, fasilitas ini bisa digunakan bersama dan dirawat oleh warga supaya manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Meski menghadirkan fasilitas pembakaran, mahasiswa KKN UNDIP menegaskan bahwa insinerator bukan diperuntukkan bagi seluruh jenis sampah.

Pemilahan tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah. Sampah yang masih dapat digunakan kembali, didaur ulang, maupun memiliki nilai ekonomi perlu dipisahkan terlebih dahulu.

Dengan demikian, tidak semua sampah berakhir di ruang pembakaran. Masyarakat tetap didorong untuk mengurangi timbulan sampah dan melakukan pemilahan sejak dari rumah.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Program ini mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengurangi serta mengelola sampah.

Selain itu, program tersebut turut mendukung SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penataan pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat.

Pembangunan fasilitas ini juga mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pasalnya, prosesnya melibatkan mahasiswa KKN, perangkat desa, pengurus RT, dan masyarakat, mulai dari koordinasi hingga pembangunan.

Peresmian pada 12 Agustus 2026 menjadi penanda dimulainya pemanfaatan insinerator di TPS RT 04 RW 02 Dukuh Gamblok.

Bagi mahasiswa KKN, program tersebut tidak sekadar menghasilkan sebuah fasilitas, tetapi juga menjadi pengalaman dalam mengidentifikasi persoalan lingkungan dan merancang solusi berdasarkan kondisi masyarakat.

Rangkaian kegiatan dilakukan mulai dari pengamatan kondisi sampah, penentuan lokasi, koordinasi dengan pemangku kepentingan, pembangunan, hingga uji coba fasilitas bersama warga.

Setelah masa KKN berakhir, keberlanjutan fasilitas menjadi tanggung jawab bersama. Perangkat desa dan pengurus lingkungan diharapkan dapat ikut memantau pemanfaatannya, sementara masyarakat berperan menjaga fasilitas serta membiasakan pemilahan sampah dari rumah.

Dengan demikian, insinerator tidak berhenti sebagai hasil program KKN, tetapi dapat terus dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah di lingkungan RT 04 RW 02.

Melalui pembangunan insinerator sederhana tersebut, mahasiswa KKN Tim II UNDIP berupaya menghadirkan alternatif penanganan sampah yang sesuai dengan kondisi Desa Sembojo. Keberadaan fasilitas ini menjadi salah satu langkah awal dalam menata pengelolaan sampah di sekitar TPS sekaligus mendorong kesadaran dan keterlibatan warga dalam menjaga kebersihan lingkungan.




Penulis : Tim Mahasiswa KKN

Editor    : Alif Nazzala Rizqi

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN