Ubah Galon Bekas Jadi Akuaponik, Mahasiswa KKN Undip Dorong Ketahanan Pangan Warga Desa Gentan

Sistem akuaponik mengintegrasikan budidaya ikan atau akuakultur dengan tanaman hidroponik dalam satu sistem yang saling mendukung.

SUKOHARJO, Jatengnews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) 2026 Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, mendorong ketahanan pangan masyarakat melalui inovasi akuaponik berbasis pemanfaatan limbah plastik.

Program pemberdayaan masyarakat yang digelar di RT 03 RW 05 Desa Gentan pada Jumat, 7 Agustus 2026, tersebut memanfaatkan galon bekas berkapasitas 15 liter sebagai media budidaya ikan lele dan tanaman kangkung. Inovasi ini menjadi solusi sederhana bagi warga yang ingin menghasilkan pangan secara mandiri meski memiliki keterbatasan lahan.

Kegiatan tersebut digagas oleh empat mahasiswa Undip dari berbagai bidang keilmuan, yakni Manajemen Sumber Daya Perairan, Arsitektur, Manajemen, dan Gizi. Program juga melibatkan partisipasi aktif ibu-ibu RT 03 RW 05 Desa Gentan.

Sistem akuaponik mengintegrasikan budidaya ikan atau akuakultur dengan tanaman hidroponik dalam satu sistem yang saling mendukung. Selain menghasilkan sumber pangan, inovasi tersebut sekaligus menjadi upaya pemanfaatan kembali sampah plastik agar memiliki nilai guna.

Program ini turut mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 2 tentang Tanpa Kelaparan (Zero Hunger), tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta tujuan 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Rangkaian kegiatan diawali dengan demonstrasi pembuatan akuaponik oleh Joshua Hendrison Siregar, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip.

Joshua memperagakan pemanfaatan galon bekas sebagai wadah budidaya. Bagian bawah galon digunakan untuk memelihara ikan lele, sedangkan bagian atas dimanfaatkan sebagai media tanam kangkung.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah plastik masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang produktif. Harapannya warga bisa menerapkan sistem ini di rumah meskipun memiliki lahan yang terbatas,” ujar Joshua.

Melalui praktik tersebut, warga tidak hanya diperkenalkan pada teknik akuaponik, tetapi juga diajak melihat peluang pemanfaatan barang bekas menjadi sarana produksi pangan yang sederhana dan bernilai ekonomis.

Dari aspek tata ruang, Nisrina Zain, mahasiswa Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Undip, memberikan edukasi mengenai penempatan instalasi akuaponik yang optimal.

Nisrina memperkenalkan analisis tapak melalui sun path diagram dan bioclimatic design untuk membantu warga menentukan lokasi yang tepat. Materi tersebut disampaikan menggunakan poster visual yang memuat panduan tata letak akuaponik.

Warga diberikan pemahaman mengenai penempatan instalasi agar tetap ergonomis, rapi, dan efisien dalam penggunaan ruang. Selain itu, aspek pencahayaan alami juga diperhatikan agar tanaman memperoleh sinar matahari yang cukup dan kondisi ikan tetap terjaga.

Dengan pendekatan tersebut, keberadaan akuaponik diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai sarana produksi pangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penataan lingkungan rumah yang tetap menarik secara visual.

Potensi ekonomi dari akuaponik turut diperkenalkan oleh Abiy Zaky Abdurrahman, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip.

Zaky memberikan edukasi mengenai analisis kelayakan usaha sederhana, mulai dari modal awal, biaya operasional, potensi pendapatan, hingga pentingnya melakukan pencatatan keuangan.

“Sistem akuaponik ini sebenarnya punya potensi ekonomi yang cukup menjanjikan kalau dikelola dengan sungguh-sungguh. Modalnya relatif kecil dan hasil panennya bisa dikonsumsi sendiri ataupun dijual,” ujar Zaky.

Melalui leaflet yang dibagikan kepada warga, mahasiswa menjelaskan bahwa hasil budidaya lele dan kangkung dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Jika produksi dikembangkan, hasil panen juga dapat menjadi peluang usaha rumah tangga.

Kenalkan Olahan Nugget Lele untuk Tingkatkan Gizi Keluarga

Aspek pemenuhan gizi menjadi bagian penutup dari rangkaian program. Hana Aulia Pangesti, mahasiswa Program Studi Gizi, Fakultas Kedokteran Undip, memberikan edukasi mengenai kandungan gizi ikan lele sekaligus memperkenalkan diversifikasi pangan melalui demonstrasi pembuatan nugget lele.

Dengan menggunakan media leaflet, Hana menjelaskan manfaat ikan lele sebagai salah satu sumber protein dan pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam untuk mendukung pola gizi seimbang.

Demonstrasi tersebut mendapat respons positif dari ibu-ibu warga. Nugget lele yang dihasilkan dinilai menarik dari segi penampilan maupun rasa.

“Nugget lelenya enak, baru tahu kalau lele bisa dibuat nugget, nanti mau coba buat di rumah,” ungkap salah satu warga.

Melalui kegiatan tersebut, warga tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai budidaya ikan dan tanaman, tetapi juga mendapatkan inspirasi untuk mengolah hasil panen menjadi makanan yang lebih beragam dan disukai keluarga.

Program akuaponik berbasis galon bekas ini diharapkan dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Gentan. Dengan memadukan aspek lingkungan, pangan, ekonomi, tata ruang, dan gizi, inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong kemandirian pangan sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi rumah tangga secara berkelanjutan.




Penulis   : Tim Mahasiswa KKN

Editor      : Alif Nazzala Rizqi

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN