SEMARANG, Jatengnews.id – Senyum Suharti tak henti mengembang saat memasuki Gedung Serba Guna (GSG) Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Rabu (11/3/2026) siang.
Janda dua anak itu tampak sedikit gugup, namun matanya tampak berbinar layaknya melihat secercah harapan untuk Lebaran 2026.
Siang itu, ia datang untuk menerima pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) dari penghasilan Desa, dari Wisata Kali Kesek yang telah ada sejak tahun 2022.
Dibenak Suharti, sepeti sudah melihat anaknya yang berusia 16 tahun dan 19 tahun berjalan mengenekan baju baru pada hari Raya Idul Fitri.
“Seneng, bisa buat beliin baju anak,” kata perempuan berbaju biru dongker dangan kertas foto copy Kartu Keluarga (KK) ditangannya tersebut.
Sejak adanya wisata Kali Kesek di desa Sriwulan, Suharti sudah mendapatkan THR tiga kali.
Tak hanya untuk kebutuhan baju lebaran anak, Suharti juga berencana menggunakannya untuk belanja kebutuhan lebaran lainya.
“Ya buat belanja sepeti jajan, beras juga,” tuturnya sambil tertawa bahagia karena sebentar lagi menerima uang tunai.
THR yang diberikan kepada Suharti ini, bukan karena dia bekerja di wisata Kali Kesek, namun memang karena kebijakan desa.
“Ini dapatnya dari pemerintah desa. Kalau saya kerjanya menjahit di rumah,” ungkapnya aktivitas sehari-harinya.
“Saya endak (tidak), saya menjahit saja,” tutur perempuan berusia 51 tahun tersebut dengan nada malu-malu.
Adanya wisata Kali Kesek, bagi Suharti sudah seperti secercah harapan baru untuk desanya. Kampung menjadi ramai, hingga ekonomi menjadi meningkat.
Dalam lubuk hatinya, masih ada satu mimpi yang ia dambakan, yakni melihat anaknya yang baru lulus SMA bisa kuliah.
Ucapan terimakasih juga muncul dari warga lain, Khozin, pria berusia 43 tahun. Ia merasa bangga bisa menjadi warga Sriwulan, Kecamatan Limbangan.
“Mungkin hanya di desa ini yang bisa memberikan tunjangan kepada warganya sebesar itu,” kata Khozin yang juga ikut menjadi tim keamanan di wisata Kali Kesek (Linmas).
“Saya kadang ikut untuk hari-hari tertentu saja. Saya kan Linmas (Perlindungan Masyarakat),” sambungnya.
Sebagai seorang kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab anak satu, dirinya mengaku tidak ingin menikmati uang tersebut untuk dirinya sendiri.
“Mungkin sebagain untuk orang tua, karena saya masih punya orang tua,” ucapnya dengan nada terburu-buru karena ingin segera masuk GSG Desa Sriwulan.
Sebelum adanya THR tersebut, ia mengaku lebaran menjadi momen yang berat karena harus menghitung dan mencari pemasukan tambahan untuk merayakannya.
“Tapi adanya ini jadi lebih santai kalau mau beli apa-apa,” ujar pria yang seharinya bekerja serabutan tersebut.
“Saya jadi berani beli baju lebaran, tapi tetap prioritas orang tua dulu,” tambahnya.
Adanya THR ini, kiranya menjadi pengisi kantong yang sebelumnya kosong.
*PAD Bumdes Capai Rp 5,6 Miliar Setahun*
Semenjak adanya wisata di Desa Sriwulan seperti Kali Kesek, dirasa menjadi penyuntik terbesar Pendapatan Asli Desa dari Badan Usaha Milik Desa (PAD Bumdes) di Sriwulan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
Selama setahun 2025, PAD Bumdes Sriwulan mencapai, Rp 5,6 miliar. Angka tersebut, dari wisata Kali Kesek sendiri mencapai Rp 1,4 miliar, dimana tahun sebelumnya 2024 Rp 1 miliar.
Kepala Desa Sriwulan, Sulistyo mengaku, dari penghasilan Kali Kesek tersebut diberikan untuk memberikan THR kepada warganya yang berprofesi sebagai buruh senilai Rp 255 juta.
“Kalau yang menerima THR ini ada 255 KK, per KK menerima Rp 1.000.000,” kata Sulistyo saat ditemui di kantornya.
Angka tersebut merupakan seluruh warga yang ada di Desa Sriwulan. Sehingga pihak penerima tidak ada kriteria apapun dan dibagi THR dengan nominal sama semua.
“Ini ada peningkatan sedikit. Sebelumnya, pertama itu rp 500 ribu, terus tahun kemarin Rp 700 ribu, ini naik sedikit,” imbunya mendetailkan THR yang dikeluarkan desa pertahunnya.
Inisiasi THR ini, katanya berawal dari saran sesepuh desa supaya uang yang ada di PAD Bumdes bisa di arahkan kepada masyarakat.
“Sebenarnya ini untuk pendidikan juga bisa, kesehatan juga bisa, dan pembangunan,” jelasnya.
PAd Bumdes Sriwulan sendiri, berasal dari persewaan pertanian, koperasi simpan pinjam (namun bukan berupa uang), persewaan gedung dan destinasi wisata.
“Memang yang agak banyak menghasilkan uang ya dibidang wisata,” ungkapnya.
“Tahun ini sedang disiapkan perkembangan di pengelolaan sampah juga,” tambahnya.
*Wisata Viral Warga Semangat*
Meskipun angka pemasukan dari wisata Kali Kesek cukup tinggi, namun dirinya mengaku, angka yang masuk ke desa belum sampai separuhnya karena harus dikembalikan untuk perawatan dan pengembangan destinasinya.
Dalam ingatan Sulistyo, warga sempat hampir menyerah dan enggan melanjutkan membuka desa wisata Kali Kesek. Namun karena pengunjung terus berdatangan dan sempat viral, sehingga masyarakat kembali bersemangat.
“Pendirian 2022 awal itu masih ragu-ragu, kita dulu belum punya inisiatif seperti itu dan hanya berniat memperbaiki irigasi di wilayahnya,” ungkapnya.
Saat pembangunan tersebut, ia mengungkapkan bahwa mulanya hanya taman kecil dengan tulisan Kali Kesek.
Namun karena menjadi viral dan pengunjung datang terus berkembang, maka fasilitas mengikuti. Sepeti parkir yang sebelumnya hanya di jalan, kemudian dibuatkan tempat. Termasuk fasilitas peristirahatan.
“Rata-rata hariannya itu 1.500 mencapai 2.000 pengunjung, kalau week end bisa sampai 4.000,” sebutnya.
“Tahun baru kemarin itu sampai 10 ribuan pengunjun,” katanya suasana Kali Kesek saat Libur panjang.
Dari angka tersebut, dirinya mengungkapkan bahwa tiket masuk wisata Kali Kesek hanya Rp 2.000 per orangnya, belum untuk menaiki wahana seperti kolam renang, kereta, naik kuda dan petualangan jeep.
Adapun untuk khusus momen lebaran tahun 2026 ini, pihaknya bakal menaikan tiket masuk menjadi Rp 5.000 karena untuk pengganti warga yang seharusnya mudik harus mengelola wisata.
Adanya wisata ini, para warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani dan buruh pabrik, kini mereka yang sebelumnya buruh banyak yang beralih ikut di wisata.
“Untuk pengurus yang mengelola sekitar 30 an, namun ada juga warga yang jualan dan ikut markiri gitu,” pungkasnya. (03)



