27 C
Semarang
, 13 Maret 2026
spot_img

Aksi Solidaritas di Semarang Soroti Eskalasi Konflik Iran dan Israel

Amerika Serikat, sekutu utama Israel, juga memiliki hubungan yang tegang dengan Iran sejak Revolusi Iran 1979.

SEMARANG, Jatengnews.id – Ratusan orang berkumpul di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng) di Semarang pada Jumat (13/3/2026). Mereka membawa bendera Palestina, poster bertuliskan “Free Palestine”, dan spanduk yang mengecam Israel serta Amerika Serikat.

Aksi yang mereka sebut Demo Al Quds 2026 itu bukan sekadar demonstrasi solidaritas untuk Palestina. Isu yang diangkat jauh lebih luas: meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Mereka juga menyinggung kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang bagi sebagian kelompok dianggap sebagai figur politik sekaligus spiritual.

Seorang anggota Dewan Pembina Aliansi Nasional Anti Zionis, yang menjadi salah satu penggerak aksi Miqdad Turkan mengatakan, serangan itu terjadi ketika proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung.

“Penyerangan itu terjadi di tengah negosiasi. Ini yang membuat banyak orang marah karena dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap proses diplomasi,” katanya saat ditemui di sela-sela aksi.

Bagi kelompok ini, kematian Khamenei tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga memicu reaksi emosional di kalangan umat Islam yang melihatnya sebagai tokoh ulama dan pemimpin spiritual.

“Beliau bukan sekadar pemimpin negara. Ia juga seorang ulama besar,” kata dia.

Ketegangan antara Iran dan Israel sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun. Rivalitas dua negara itu sering memuncak melalui perang bayangan, serangan siber, operasi intelijen, hingga konflik melalui kelompok proksi di kawasan.

Amerika Serikat, sekutu utama Israel, juga memiliki hubungan yang tegang dengan Iran sejak Revolusi Iran 1979.

Konflik yang melibatkan tiga kekuatan ini kerap memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas.

Kritik untuk Pemerintah Indonesia

Selain menyoroti konflik Timur Tengah, massa juga melontarkan kritik kepada pemerintah Indonesia.

Mereka menyinggung langkah Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang dinilai perlu mempertegas posisi politik luar negeri Indonesia di tengah ketegangan global.

Menurut mereka, Indonesia seharusnya kembali pada prinsip politik luar negeri bebas aktif yang tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun.

Dalam orasinya, salah satu tokoh aksi bahkan membandingkan situasi tersebut dengan diplomasi era presiden pertama Indonesia, Sukarno.

Ia menyebut nama Sukarno masih dihormati di sejumlah negara Timur Tengah karena sikap politik Indonesia yang tegas pada masa awal kemerdekaan.

“Indonesia harus kembali menjadi bangsa yang benar-benar nonblok. Kalau kita berpihak, kita akan kehilangan kehormatan di mata dunia,” ujarnya.

Tradisi Yaumul Quds

Para penyelenggara mengatakan aksi tersebut merupakan bagian dari peringatan tahunan Yaumul Quds.

Yaumul Quds adalah hari solidaritas internasional untuk Palestina yang diperingati oleh sejumlah kelompok Muslim di berbagai negara.

Momentum ini biasanya menyoroti status Yerusalem dan Masjid Al Aqsa yang menjadi pusat konflik Israel Palestina.

“Setiap tahun kami memperingati Yaumul Quds karena Masjid Al Aqsa masih berada di bawah kekuasaan Israel,” kata salah satu pengurus aksi.

Namun situasi tahun ini berbeda. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat isu yang dibawa massa menjadi lebih luas daripada sekadar Palestina.

Seruan Boikot Produk

Dalam aksi tersebut, sebagian orator juga kembali menggaungkan kampanye boikot terhadap produk yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Israel.

Meski begitu, mereka mengakui bahwa gerakan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh mayoritas masyarakat.

“Boikot sudah lama dilakukan. Tapi memang tidak semua masyarakat peduli dengan isu ini,” kata seorang peserta aksi. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN