Saat Karier Tak Lagi Jadi Segalanya: Belajar dari Jeda Seorang Zara Adhisty

Penulis: Nada Khalisha Luthan, Mahasiswi Semester 4 Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Administrasi, Jurusan Administrasi Negara.

KEPUTUSAN Zara Adhisty untuk mundur sejenak dari hingar bingar dunia hiburan mendadak jadi buah bibir. Di tengah puncak popularitas dan karier yang kian bersinar, aktris muda ini justru memilih menepi demi pemulihan kesehatan. Ia bahkan mengambil langkah drastis dengan meninggalkan sinetron utamanya, Beri Cinta Waktu.

Bagi sebagian orang, keputusan ini mengejutkan. Selama ini, dunia kerja telanjur identik dengan tuntutan untuk terus produktif dan bergerak maju tanpa henti. Berhenti—meski hanya sementara—sering kali dicap sebagai sebuah kemunduran. Namun, bagi Generasi Z, paradigma usang itu mulai runtuh.

Kini, bekerja bukan lagi sekadar perlombaan mengejar posisi, pundi-pundi rupiah, atau validasi atas kesibukan. Anak muda mulai menyadari bahwa kesehatan fisik dan mental adalah aset yang tak ternilai. Mengambil jeda bukan lagi tanda menyerah, melainkan strategi untuk bertahan dalam jangka panjang (sustainability).

Langkah Zara adalah cermin nyata dari pergeseran pola pikir tersebut. Di bawah tekanan industri hiburan yang melelahkan, ia memilih untuk mendengarkan alarm dari tubuhnya sendiri. Ini membuktikan bahwa saat ini, menjaga diri sama krusialnya dengan menjaga karier.

Fenomena ini melampaui batas panggung hiburan. Di berbagai sektor, pekerja mulai menggugat budaya kerja yang menuntut produktivitas tanpa batas. Tekanan untuk selalu “siaga” dan berkembang dalam tempo singkat telah memicu kelelahan massal (burnout).

Hal ini selaras dengan tren quiet quitting. Meski istilahnya terdengar seperti “mundur diam-diam”, esensinya adalah bekerja sesuai porsi tanpa memikul beban di luar kewajiban utama. Banyak pekerja muda kini merasa bahwa hidup tidak seharusnya habis hanya untuk urusan kantor.

Wajah Baru Kesuksesan

Jika generasi terdahulu memuja jabatan tinggi dan kerja keras tanpa henti sebagai simbol keberhasilan, Generasi Z memiliki definisi sukses yang berbeda: keseimbangan hidup, fleksibilitas, dan kewarasan mental. Ambisi itu tetap ada, namun bentuknya telah bertransformasi.

Perubahan ini tentu menjadi rapor merah sekaligus tantangan bagi organisasi. Sistem kerja yang eksploitatif perlahan mulai ditinggalkan. Karyawan kini tak hanya melihat angka di atas slip gaji, tetapi juga mempertimbangkan kualitas hidup dan lingkungan kerja yang mereka dapatkan.

Pada akhirnya, keputusan Zara Adhisty menyadarkan kita semua bahwa hidup bukanlah balapan tanpa henti. Kadang, berani untuk berhenti sejenak adalah cara terbaik agar kita bisa melangkah lebih jauh di masa depan. (01).

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN