Kematian Dr. Myta Aprilia Azmi dan Cermin Pengelolaan SDM Tenaga Kesehatan di Indonesia

Penulis: Najma Nicky, Mahasiswa S1 Program Studi Administrasi Negara Universitas Indonesia

KEMATIAN dokter internship, dr. Myta Aprilia Azmi, menjadi kabar duka yang mengguncang publik Indonesia. Di usia yang masih sangat muda, ia mengembuskan napas terakhir saat menjalani masa pengabdian sebagai dokter magang di salah satu rumah sakit daerah.

Peristiwa tragis ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan rekan sejawat, tetapi juga memicu pertanyaan besar, bagaimana sistem kerja tenaga kesehatan di Indonesia sebenarnya dijalankan? Di tengah tuntutan pelayanan yang terus meningkat, apakah kesejahteraan dan perlindungan tenaga medis benar-benar telah menjadi perhatian utama?

Kasus ini menyita perhatian luas seiring munculnya dugaan bahwa beban kerja yang berlebih menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi kesehatan almarhumah. Meski investigasi resmi masih berjalan, publik mulai menyoroti realitas yang selama ini sering dinormalisasi dalam dunia medis, jam kerja yang panjang, tekanan psikologis yang tinggi, kurangnya waktu istirahat, serta tuntutan profesional yang masif terhadap dokter muda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan tenaga kesehatan tidak sekadar bertumpu pada kemampuan klinis, melainkan berkaitan erat dengan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Dalam sebuah organisasi pelayanan seperti rumah sakit, SDM adalah aset utama yang menentukan kualitas pelayanan. Dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya bukanlah sekadar instrumen pekerja, melainkan individu yang memikul tanggung jawab atas keselamatan nyawa manusia.

Oleh karena itu, pengelolaan tenaga kesehatan sepatutnya dilakukan secara manusiawi, terencana, dan berorientasi pada keberlanjutan kondisi fisik maupun mental. Ketika sistem internship dijalankan tanpa desain pembelajaran yang matang, sistem tersebut justru secara aktif mengikis kapasitas dokter muda yang seharusnya dibangun.

Realitas di lapangan kerap menempatkan dokter internship dalam situasi kerja yang ekstrem. Mereka dituntut beradaptasi kilat dengan lingkungan baru, menangani lonjakan pasien, menjalani jadwal kerja yang tidak menentu, hingga mengelola tekanan emosional saat menghadapi pasien kritis.

Di sinilah paradoks MSDM terjadi: semua pihak sepakat bahwa pelatihan dan pengembangan itu penting, tetapi pada praktiknya, hal tersebut jarang menjadi prioritas utama. Akibatnya, alih-alih mendapatkan bimbingan dan pengembangan kompetensi, dokter internship justru langsung dibebani tanggung jawab klinis secara penuh.

Setiap organisasi wajib memastikan bahwa beban kerja yang diberikan masih berada dalam batas kemampuan manusiawi. Beban kerja yang melampaui kapasitas dalam jangka panjang pasti memicu kelelahan fisik dan mental (burnout).

Dalam dunia medis, kondisi ini tidak hanya membahayakan tenaga kesehatan, tetapi juga mengancam keselamatan pasien. Rumah sakit sebagai institusi pelayanan publik harus mampu menciptakan ekosistem kerja yang seimbang antara produktivitas dan pemulihan kesehatan pekerjanya.

Status dokter internship sebagai pembelajar tidak boleh dijadikan legitimasi untuk mengeksploitasi tubuh mereka melampaui batas wajar. Budaya kerja yang mengagungkan kelelahan sebagai bentuk dedikasi adalah kekeliruan sistemis yang mengaburkan batas antara pengembangan diri dan eksploitasi. Di sisi lain, muncul paradoks sekunder: semakin tinggi tanggung jawab kerja yang dibebankan, semakin sedikit waktu yang tersisa bagi mereka untuk belajar dan berkembang.

Selain masalah beban kerja, kompetensi tenaga medis sering kali direduksi sebatas kemampuan akademik dan keterampilan klinis semata. Padahal, kompetensi yang utuh juga mencakup kesiapan mental, manajemen stres, dan ketahanan emosional.

Aspek-aspek ini tidak dapat dipisahkan, sebab kompetensi teknis yang tinggi sekalipun akan terdegradasi saat seseorang mengalami burnout berkepanjangan. Kualitas hidup pekerja (quality of work life) yang buruk akan menghambat pertumbuhan kompetensi.

Fenomena burnout di kalangan tenaga medis sebenarnya bukanlah isu baru. Banyak dokter muda mengeluhkan kurang tidur, tekanan kerja yang konstan, hingga minimnya waktu untuk merawat diri. Sayangnya, lingkaran setan ini sering kali dianggap sebagai “risiko profesi” yang lumrah. Jika dibiarkan terus-menerus, normalisasi ini akan membawa dampak buruk jangka panjang bagi individu maupun sistem kesehatan nasional secara keseluruhan.

Sebagai dokter yang baru memasuki dunia profesional, mereka membutuhkan proses adaptasi yang sehat melalui pendampingan (mentorship), evaluasi berkala, dan lingkungan kerja yang suportif. Tanpa dukungan psikologis dan pengawasan yang memadai, tekanan yang bertubi-tubi justru akan menurunkan performa dan kompetensi yang mereka miliki.

Momentum Refleksi dan Evaluasi Sistemik

Kematian dr. Myta harus menjadi momentum refleksi bersama bahwa tenaga kesehatan juga manusia yang membutuhkan perlindungan. Selama ini, publik gencar menuntut pelayanan medis yang prima, cepat, dan selalu sigap, namun abai terhadap pemenuhan hak-hak dasar pekerjanya.

Logika evaluasi program yang sehat seharusnya mengukur keberhasilan sistem pembinaan dari peningkatan kompetensi dan dampak nyatanya pada pelayanan. Ketika indikator keberhasilan hanya diukur lewat presensi dan kelulusan administratif, evaluasi tersebut sebenarnya sedang menyembunyikan kegagalan sistem.

Oleh karena itu, pemerintah bersama institusi kesehatan wajib mengevaluasi total program internship. Meskipun program ini memiliki niat baik untuk melahirkan dokter yang siap kerja, proses pembentukannya tidak boleh menafikan aspek kemanusiaan. Pendidikan dan pengabdian tidak boleh ditebus dengan mengorbankan kesehatan, bahkan nyawa, para peserta didik.

Manajemen SDM sektor kesehatan harus bertransformasi ke arah yang lebih modern dan humanis. Pengelolaan tidak boleh lagi berfokus pada target produktivitas semata, melainkan harus mengintegrasikan kesehatan mental, keselamatan kerja, dan kesejahteraan tenaga medis. Rumah sakit perlu menerapkan sistem audit beban kerja yang transparan, menyediakan fasilitas konseling psikologis, dan merombak budaya organisasi agar lebih terbuka.

Saat ini, banyak dokter muda takut menyuarakan kelelahan mereka karena khawatir dicap tidak profesional atau lemah. Budaya pembungkaman ini sangat berbahaya karena mendeteksi masalah kesehatan secara terlambat. Padahal, umpan balik yang konstruktif dari bawah dapat menjadi mekanisme koreksi sistemik yang mencegah masalah kecil berkembang menjadi tragedi.

Pada akhirnya, tragedi dr. Myta Aprilia Azmi bukan sekadar kisah duka satu individu, melainkan cerminan dari bagaimana sistem memperlakukan tenaga kesehatan di Indonesia. Kualitas pelayanan kesehatan mutlak berbanding lurus dengan kualitas pengelolaan manusianya. Hanya tenaga medis yang sehat, terlindungi, dan dihargai yang mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Sudah saatnya dunia kesehatan Indonesia menempatkan kesejahteraan tenaga medis sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap regulasi. Sebab, di balik jas putih yang kerap dianggap sebagai simbol ketangguhan, ada manusia biasa yang juga membutuhkan istirahat, perhatian, dan perlindungan. (01).

Penulis: Najma Nicky, Mahasiswa S1 Program Studi Administrasi Negara Universitas Indonesia
Editor: Admin Jatengnews.id

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN