SEMARANG, Jatengnews.id – Keberadaan influencer jadi senjata promosi pariwisata yang efektif, tapi juga bisa jadi bumerang jika kontennya tidak sesuai fakta. Hal ini diakui beberapa pelaku usaha pariwisata.
Di era digital, influencer telah menjadi salah satu ujung tombak promosi pariwisata. Melalui unggahan di media sosial, informasi tentang hotel, destinasi wisata, kuliner hingga berbagai atraksi wisata dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat. Namun, di balik kekuatan tersebut, terdapat risiko besar ketika informasi yang disampaikan tidak sesuai fakta atau menimbulkan persepsi yang keliru.
Fenomena ini menjadi perhatian sejumlah pelaku industri pariwisata di Kota Semarang. Mereka mengakui kehadiran influencer mampu meningkatkan eksposur dan kunjungan wisata, tetapi konten yang bersifat berlebihan atau menyesatkan justru dapat merugikan pelaku usaha.
Event Manager Hotel Rooms Inc Semarang, Sherly Tamoly, mengatakan konten yang dibuat influencer, khususnya di bidang lifestyle dan pariwisata, selama ini cukup membantu meningkatkan okupansi hotel sekaligus memperkenalkan potensi wisata Kota Semarang kepada masyarakat luas.
Namun, menurutnya, tidak sedikit kreator konten yang menyampaikan informasi secara berlebihan sehingga memunculkan miskomunikasi di kalangan calon tamu.
“Sekarang influencer jumlahnya sangat banyak. Ada yang memang sesuai bidang dan keahliannya, ada juga yang sekadar ikut tren membuat konten. Yang disayangkan ketika informasi yang disampaikan menjadi misleading,” ujar Sherly, Rabu (03/06/2026).
Ia mencontohkan sejumlah konten ulasan fasilitas hotel yang dinilai terlalu dramatis. Padahal ukuran kamar, kualitas tempat tidur, hingga fasilitas pendukung lainnya telah sesuai standar yang ditetapkan manajemen. Narasi yang berlebihan justru membentuk ekspektasi yang tidak realistis di kalangan calon tamu.
“Kadang prolog atau cara penyampaiannya terlalu dilebih-lebihkan. Akhirnya netizen ikut berkomentar secara berlebihan dan muncul persepsi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya,” jelasnya.
Dampak yang lebih besar pernah dirasakan Hotel Rooms Inc Semarang saat pembangunan DP Mall yang terintegrasi dengan hotel tersebut berlangsung. Menurut Sherly, sebuah konten yang beredar di media sosial sempat menimbulkan kesalahpahaman hingga menyebabkan sejumlah tamu membatalkan reservasi.
“Ada konten mengenai pembangunan DP Mall yang membuat beberapa tamu membatalkan pemesanan kamar. Mereka mungkin mengira hotel tutup, akses parkir terganggu, atau operasional tidak berjalan normal. Padahal hotel tetap beroperasi seperti biasa,” katanya.
Kasus serupa juga terjadi di destinasi wisata heritage Lawang Sewu. Pada pertengahan Mei 2026, beredar konten viral di Instagram yang menyebut pengelola Lawang Sewu bersikap “anti kucing”, bahkan diklaim akan membuang kucing liar dan memecat petugas yang memberi makan hewan tersebut.
Informasi itu segera diklarifikasi oleh PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) selaku pengelola kawasan. Manager of Asset Operation KAI Wisata, Moedji Setiono, menegaskan tidak pernah ada kebijakan untuk membuang kucing maupun memberikan sanksi kepada petugas yang merawatnya.
“Kucing-kucing di Lawang Sewu bukan sekadar hewan liar. Mereka sudah menjadi bagian dari ekosistem kawasan dan memberikan suasana hangat bagi para pengunjung. Bahkan ada wisatawan yang datang karena menyukai keberadaan kucing-kucing tersebut,” ujar Moedji saat bertemu komunitas Cat Lovers Semarang pada 17 Mei 2026.
Sebagai tindak lanjut, pengelola Lawang Sewu bersama komunitas pecinta kucing sepakat menggelar berbagai kegiatan edukasi mengenai perawatan hewan hingga kontes kucing. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kesejahteraan hewan sekaligus mempertahankan nilai sejarah dan kenyamanan kawasan wisata heritage tersebut.
Sherly menilai para influencer perlu lebih fokus pada bidang yang benar-benar mereka kuasai agar informasi yang disampaikan lebih akurat dan bertanggung jawab.
“Kalau sesuai passion dan bidangnya, influencer akan lebih memahami materi maupun product knowledge yang sedang dibahas. Dengan begitu penyampaiannya tidak misleading dan tidak menimbulkan persepsi negatif di kalangan pengikutnya,” katanya.
Hal senada disampaikan Moedji. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara pengelola destinasi, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci agar informasi yang beredar tetap berdasarkan fakta.
“Intinya komunikasi dan keterbukaan. Dengan begitu fakta yang sebenarnya dapat tersampaikan secara utuh oleh influencer sehingga masyarakat tidak membangun asumsi liar terhadap suatu informasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kota Semarang, Andy Sigit Prabowo, yang juga bergerak di bidang usaha tour and travel serta umrah, mengakui keberadaan influencer sangat membantu promosi sektor pariwisata melalui berbagai platform seperti YouTube, Instagram, X, hingga TikTok.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya objektivitas dalam setiap konten yang dipublikasikan.
“Ketika narasinya tidak sesuai fakta, maka bisa disalahartikan oleh audience atau followers. Jangan sampai konten yang dibuat justru merugikan pihak lain, apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan banyak orang,” kata Andy.
Menurutnya, baik konten tersebut dibuat atas kerja sama berbayar maupun secara mandiri, semangat utama yang harus dijaga adalah membantu dan membangun industri yang dipromosikan.
“Baik sektor kuliner, destinasi wisata, ekonomi kreatif, maupun sektor lainnya, influencer seharusnya hadir untuk memberikan informasi yang akurat dan konstruktif sehingga mampu mendorong pertumbuhan industri, bukan sebaliknya,” pungkasnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, peran influencer memang semakin strategis dalam membentuk opini publik. Namun, seiring besarnya pengaruh yang dimiliki, tanggung jawab untuk menyampaikan informasi secara akurat dan berimbang juga menjadi semakin penting agar promosi yang dilakukan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat maupun industri pariwisata.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara


