SEMARANG, Jatengnews.id – Isu blackout atau pemadaman listrik berskala luas di Jawa Tengah (Jateng) memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Bukan hanya karena potensi gangguan pasokan listrik, tetapi juga dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga usaha yang bergantung pada listrik.
Sejumlah warga di berbagai daerah seperti Grobogan, Banjarnegara, Karanganyar, Tegal, hingga Kota Semarang mengaku sudah beberapa kali mengalami pemadaman listrik dalam beberapa waktu terakhir.
Mereka menilai yang paling merugikan bukan hanya padamnya listrik, tetapi minimnya informasi atau pemberitahuan sebelum pemadaman terjadi.
Warga Kabupaten Grobogan, Nai, mengaku pemadaman listrik di wilayahnya kerap terjadi berulang kali dalam sepekan. Kondisi tersebut membuat aktivitas rumah tangga dan pekerjaan menjadi terganggu.
“Kalau mati lampu sering, Mas. Siang sampai sore bisa terjadi tiga sampai empat hari berturut-turut. Dalam seminggu bisa beberapa kali, cuma jamnya berbeda-beda,” ujarnya kepada Jatengnews.id, Kamis (18/6/2026).
Menurut Nai, pemadaman yang berulang membuat masyarakat kesulitan mengatur aktivitas yang bergantung pada listrik. Ia juga mengaku mendengar keluhan serupa dari warga di daerah lain melalui media sosial.
Keluhan juga datang dari Roy, warga Kota Semarang. Menurutnya, pemadaman listrik yang terjadi tanpa pemberitahuan membuat masyarakat tidak memiliki waktu untuk melakukan antisipasi.
“Kalau mau ada pemadaman, seharusnya pelanggan diberi informasi lebih dulu. Kita tidak tahu kalau sedang ada bisnis, pekerjaan, atau kebutuhan lain yang sangat bergantung pada listrik. Tiba-tiba mati saja, lalu satu atau dua jam kemudian baru menyala lagi,” katanya.
Roy menilai informasi dini sangat penting karena banyak aktivitas masyarakat saat ini bergantung pada pasokan listrik dan internet. Mulai dari bekerja dari rumah, mengikuti rapat daring, wawancara kerja online, hingga menjalankan usaha kecil berbasis digital.
Hal senada disampaikan Muhammad Iwan, warga Karanganyar yang bekerja di sektor swasta. Ia mengaku pekerjaannya yang hampir setiap hari menggunakan komputer menjadi terganggu akibat pemadaman listrik yang terjadi tanpa pemberitahuan.
Menurutnya, pemadaman mendadak berpotensi menyebabkan pekerjaan tertunda, data hilang, hingga menurunkan produktivitas kerja.
“Saya berharap PLN bisa lebih komunikatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Apalagi pelanggan juga rutin membayar listrik setiap bulan,” tegasnya.
Muhammad Zaki, warga Banjarnegara, juga mengeluhkan hal serupa. Ia menilai konsumen berhak mendapatkan informasi lebih awal agar dapat menyesuaikan aktivitas ketika terjadi pemadaman.
“Semoga PLN bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen, terutama dalam hal penyampaian informasi pemadaman,” katanya.
Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, Manager Komunikasi PLN UID Jawa Tengah, Prayudha Fasya Perdana, menyatakan PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah terdampak guna menjaga stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan.
“PLN terus mengupayakan percepatan pemulihan kondisi operasi pembangkit agar pasokan listrik dapat kembali normal serta berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna memastikan proses penanganan berjalan optimal,” ujarnya dalam holding statement yang dirilis Kamis (18/6/2026). (01).
Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin


