JEPARA, Jatengnews.id – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, PLN UIK Tanjung Jati B terus memperkuat kesiapan pembangkit listrik.
Salah satunya melalui pemeriksaan menyeluruh terhadap boiler Unit 2 PLTU Tanjung Jati B dalam rangkaian planned outage yang berlangsung selama 45 hari, sejak 28 Juni hingga 11 Agustus 2026.
Pemeliharaan tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan berbagai komponen pembangkit berada dalam kondisi optimal sebelum kembali menjalankan operasi. Pemeriksaan boiler menjadi salah satu pekerjaan penting mengingat peralatan tersebut memiliki peran vital dalam proses produksi listrik.
General Manager PLN UIK Tanjung Jati B, Andi Makkasau, mengatakan keandalan pembangkit merupakan bagian dari tanggung jawab PLN dalam menjaga kesinambungan pasokan listrik bagi masyarakat.
“Menjaga setiap peralatan pembangkit agar tetap andal merupakan bentuk pengabdian kami kepada negeri. Dalam semangat HUT ke-81 RI, seluruh tim bekerja dengan penuh ketelitian untuk memastikan Unit 2 PLTU Tanjung Jati B dapat kembali beroperasi secara aman, efisien, dan optimal,” ujar Andi.
Boiler merupakan peralatan utama yang menghasilkan uap bertekanan dan bersuhu tinggi untuk menggerakkan turbin. Dengan kondisi kerja yang berat, pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengetahui kondisi aktual komponen sekaligus mendeteksi potensi gangguan sejak dini.
Dalam pemeriksaan kali ini, tim PLN melaksanakan Boiler Predictive Program dan Remaining Life Assessment. Kedua kegiatan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi kondisi komponen sekaligus memperkirakan sisa masa pakainya. Hasil pemeriksaan kemudian digunakan sebagai acuan dalam menentukan langkah perbaikan maupun penggantian komponen.
Sejumlah bagian boiler juga menjalani retubing atau penggantian pipa. Pekerjaan tersebut mencakup lima panel Platen Superheater, lima panel Final Superheater, bagian Reheater, serta 29 titik wall opening.
Komponen tersebut memiliki fungsi penting dalam proses pengaturan temperatur dan kualitas uap sebelum digunakan untuk menggerakkan turbin. Dengan penggantian bagian yang telah memenuhi kebutuhan pemeliharaan, PLN berupaya mencegah gangguan sekaligus menjaga performa pembangkit dalam jangka panjang.
Tak hanya boiler, pemeliharaan juga menyasar sistem pendukung pembakaran. Tim melakukan overhaul terhadap tiga unit pulverizer serta pemeliharaan berkala pada tiga unit lainnya.
Pulverizer berfungsi menggiling batu bara menjadi partikel yang lebih halus sehingga pembakaran di dalam boiler dapat berlangsung lebih optimal dan merata. Kondisi peralatan tersebut turut menentukan efisiensi proses pembangkitan listrik.
Pekerjaan lainnya meliputi penggantian support bearing Air Heater A serta inspeksi dan penyetelan sistem Electrostatic Precipitator (ESP). Rangkaian pekerjaan ini dilakukan untuk memastikan proses pembakaran, perpindahan panas, hingga pengendalian emisi berjalan sesuai standar.
“Inspeksi boiler bukan sekadar melihat kondisi fisik peralatan. Data hasil pemeriksaan menjadi landasan bagi tim untuk menentukan perbaikan dan penggantian komponen secara tepat. Dengan pendekatan ini, pemeliharaan menjadi lebih terukur dan berorientasi pada keandalan jangka panjang,” jelas Andi.
Secara keseluruhan, planned outage Unit 2 mencakup 1.034 work order dengan melibatkan lebih dari 1.150 pekerja dan dukungan 30 perusahaan kontraktor.
Selain area boiler, pekerjaan pemeliharaan juga mencakup turbin, generator, circulating water system, peralatan listrik, hingga sistem kontrol dan instrumentasi.
Seluruh rangkaian pekerjaan menerapkan prinsip 5 ON, yakni On Safety, On Time, On Scope, On Quality, dan On Cost. Prinsip tersebut menjadi pedoman agar setiap pekerjaan berlangsung aman, tepat waktu, sesuai ruang lingkup, memenuhi standar kualitas, serta tetap terkendali dari sisi biaya.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian utama selama pelaksanaan planned outage. PLN bersama seluruh mitra kerja menargetkan zero accident, nihil kasus pertolongan pertama, tidak terjadi insiden keamanan, serta seluruh parameter lingkungan dapat terpenuhi.
Untuk mencapai sasaran tersebut, berbagai prosedur diterapkan, mulai dari safety induction, toolbox meeting, pemeriksaan alat pelindung diri, Job Safety Analysis (JSA), permit to work, inspeksi lapangan, hingga pengawasan khusus terhadap pekerjaan dengan risiko tinggi.
Setelah seluruh rangkaian pemeliharaan rampung, Unit 2 ditargetkan mampu kembali beroperasi dengan tingkat keandalan yang sama atau lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kapasitas operasi ditargetkan mencapai 660,8 megawatt atau lebih baik dengan tingkat efisiensi pembangkit yang tetap terjaga.
Andi menegaskan, pemeliharaan pembangkit menjadi salah satu bentuk kontribusi PLN dalam menjaga keberlanjutan energi nasional.
“Dirgahayu Republik Indonesia. Melalui pemeliharaan yang presisi dan budaya keselamatan yang kuat, PLN berkomitmen menjaga keandalan energi untuk mendukung aktivitas masyarakat, pelayanan publik, dan pembangunan nasional,” pungkasnya.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara


