Dinkes Semarang Ungkap 16 dari 19 SOP SPPG MBG Dilanggar Usai Keracunan 707 Siswa

Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengatakan hasil evaluasi menunjukkan hanya tiga dari 19 Standar Operasional Prosedur (SOP) wajib yang dipenuhi oleh SPPG tersebut.

SEMARANG, Jatengnews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengungkap dugaan pelanggaran serius dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Semarang yang mengakibatkan 707 siswa dan guru mengalami gejala keracunan.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengatakan hasil evaluasi menunjukkan hanya tiga dari 19 Standar Operasional Prosedur (SOP) wajib yang dipenuhi oleh SPPG tersebut.

“Dari 19 SOP yang harus dipenuhi itu, hanya tiga yang ditaati. Sebanyak 16 lainnya tidak terpenuhi,” kata Hakam, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, salah satu pelanggaran yang ditemukan adalah proses memasak makanan yang dilakukan sejak pukul 21.00 WIB, sementara makanan baru didistribusikan kepada siswa sekitar pukul 09.00 WIB keesokan harinya.

“Masaknya terlalu dini, sekitar jam 9 malam, sehingga jarak dengan waktu konsumsi hampir 12 jam,” ujarnya.

Meski SPPG tersebut telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Hakam menegaskan sertifikat diberikan berdasarkan kondisi saat pemeriksaan. Pelaksanaan operasional sehari-hari tetap menjadi tanggung jawab pengelola.

Dinkes Kota Semarang masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diperkirakan selesai dalam sekitar satu pekan. Sampel yang diperiksa meliputi rendang, telur puyuh, tahu, dan daun singkong untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi bakteri seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), atau Bacillus cereus.

Berdasarkan analisis awal terhadap korban, sekitar 49 persen mengarah pada menu rendang sebagai makanan yang diduga bermasalah, disusul telur puyuh sekitar 40 persen, sementara sisanya mengarah pada menu daun singkong.

Dari total 707 korban, hingga Senin (3/8/2026) masih terdapat enam siswi yang menjalani perawatan di RS KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, dan Puskesmas Bangetayu. Salah satu pasien dirujuk dari puskesmas ke rumah sakit karena kondisinya melemah.

Penulis : M Kamal

Editor : Jaka N

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN