BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau di Jateng Terjadi Agustus 2026, Waspadai Dampak El Nino

BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat agar mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini

SEMARANG, Jatengnews.id – Masyarakat Jawa Tengah diminta mulai bersiap menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino yang diprediksi masih bertahan hingga awal 2027.

BMKG menyebutkan sebagian besar wilayah Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, kebakaran hutan dan lahan, hingga penurunan produktivitas sektor pertanian.

Untuk mengurangi dampaknya, BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat agar mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang hemat air dan tahan terhadap kondisi kering.

Selain itu, pemerintah daerah juga didorong memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui optimalisasi waduk, embung, dan jaringan distribusi air bersih. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat selama musim kemarau.

Di sektor energi, BMKG merekomendasikan agar pengelola bendungan memastikan ketersediaan air tetap mencukupi untuk mendukung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sementara di bidang kesehatan, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi meningkatnya polusi udara yang dapat memicu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Secara nasional, BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung bertahap pada periode Juli hingga September 2026. Pada Juli, puncak kemarau diperkirakan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia.

Puncaknya terjadi pada Agustus dengan cakupan mencapai 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia, termasuk sebagian besar Pulau Jawa. Sementara pada September, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung di 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia.

BMKG juga memprediksi fenomena El Nino masih bertahan hingga awal 2027. Berdasarkan hasil analisis awal Juni 2026, peluang El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen, sedangkan peluang mencapai kategori kuat sebesar 62 persen. Meski demikian, dampak langsung El Nino terhadap Indonesia diperkirakan berlangsung hingga sekitar Oktober 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, Forkopimda, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah mitigasi serta adaptasi menghadapi musim kemarau dan dampak perubahan iklim.

Ia menegaskan, informasi iklim akan terus diperbarui agar dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mengambil langkah antisipasi guna meminimalkan risiko yang ditimbulkan selama musim kemarau berlangsung. (01).

Penulis: Shodiqin
Sumber: BMKG Ahmad Yani Semarang

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN