SEMARANG, Jatengnews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan setelah sempat berhenti selama masa libur sekolah, Senin (13/7/2026). Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis aktifnya kembali program tersebut mampu meningkatkan penyerapan daging ayam dan telur, sehingga harga di tingkat peternak tidak lagi mengalami penurunan tajam seperti beberapa pekan terakhir.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, MBG memang bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga komoditas peternakan. Namun, program tersebut memberikan kontribusi cukup besar terhadap penyerapan produksi ayam dan telur di Jawa Tengah yang saat ini mengalami surplus.
“Yang jelas MBG itu menyerap telur sama daging ayam. Jadi memang ada kontribusi yang lumayan menyerap telur sama daging ayam, tapi bukan satu-satunya,” kata Tavares saat ditemui gedung Gradhika Jateng, Senin siang.
Menurutnya, kondisi saat ini berbeda antara komoditas unggas dan sapi. Jateng justru mengalami kelebihan produksi telur dan daging ayam, sementara pasokan daging sapi masih terbatas.
“Untuk telur sama daging ayam itu kita over supply. Yang kurang itu daging sapi,” ujarnya.
Sebagai upaya meningkatkan serapan hasil peternak, Pemprov Jateng telah mengusulkan pola menu MBG yang memperbanyak penggunaan telur dan ayam. Dalam sepekan, menu MBG dirancang menggunakan telur selama dua hari, daging ayam dua hari, dan ikan satu hari.
Skema tersebut, kata Tavares, diharapkan mampu meningkatkan permintaan sekaligus menjaga harga jual di tingkat peternak maupun dapur penyedia MBG.
“Harapannya bisa menyerap lebih banyak dan harga tidak jatuh ke peternak. Minimal masuk sesuai harga produksinya,” katanya.
Ia menjelaskan, harga pembelian komoditas untuk kebutuhan MBG telah disepakati sekitar sebulan lalu. Telur dibanderol sekitar Rp28.000 per kilogram, sedangkan daging ayam sekitar Rp35.000 per kilogram. Sementara apabila pembelian dilakukan langsung dari peternak, harga ayam hidup berkisar Rp20.000 per kilogram.
“Kesepakatan itu sudah sekitar satu bulan yang lalu. Mestinya sekarang sudah mulai berjalan lagi seiring MBG aktif kembali,” ujarnya.
Tavares menuturkan, tantangan utama sektor peternakan Jawa Tengah bukan terletak pada produksi, melainkan pemasaran. Produksi ayam dan telur yang sangat besar membuat pemerintah harus terus membuka pasar baru agar harga tetap stabil.
Bahkan, belum lama ini Jawa Tengah mengirim sekitar sembilan ton produk peternakan ke Kalimantan Tengah untuk membantu meningkatkan serapan produksi.
“Kemarin saja kita kirim 9 ton ke Kalimantan Tengah untuk meningkatkan serapan. Makanya kadang masyarakat mengeluhkan harga karena produksi kita memang luar biasa,” katanya.
Ia menyebut populasi ayam pedaging di Jawa Tengah saat ini mencapai hampir 9 juta ekor. Sementara populasi ayam petelur mencapai lebih dari 8 juta ekor.
“Produksinya besar sekali. Yang sekarang kita atur adalah pemasarannya,” tandasnya.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N


