Sekolah Rakyat Sragen Resmi Beroperasi, Pendidikan Gratis Buka Harapan Baru bagi Keluarga Miskin

Kehadiran sekolah berkonsep pendidikan gratis itu menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk memperoleh pendidikan yang layak.

SRAGEN, Jatengnews.id – Gedung permanen Sekolah Rakyat di Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, resmi mulai beroperasi dengan dibukanya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027, Selasa (14/7/2026).

Kehadiran sekolah berkonsep pendidikan gratis itu menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Peresmian gedung dilakukan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono serta Bupati Sragen Sigit Pamungkas.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Sekolah Rakyat dibangun sebagai bentuk keberpihakan pemerintah kepada masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan akibat kondisi ekonomi.

“Selain menyediakan pendidikan gratis, pemerintah juga akan melakukan evaluasi berkala terhadap kondisi ekonomi keluarga para siswa. Evaluasi tersebut dilakukan setiap tahun untuk memastikan program tetap tepat sasaran,” kata Saifullah Yusuf.

Ia menjelaskan, apabila kondisi ekonomi keluarga siswa telah membaik, pemerintah akan mendorong peserta didik tersebut melanjutkan pendidikan di sekolah reguler. Dengan demikian, kuota Sekolah Rakyat dapat diberikan kepada anak-anak lain yang berasal dari keluarga miskin ekstrem.

Data Kementerian Sosial menunjukkan hingga saat ini Sekolah Rakyat telah melayani 43.346 siswa yang terdiri atas peserta didik lama dan baru dalam 1.550 rombongan belajar. Jumlah tersebut meliputi 6.305 siswa jenjang SD, 11.186 siswa SMP, dan 11.077 siswa SMA. Gedung permanen Sekolah Rakyat di Mondokan, Sragen, diharapkan menjadi model nasional dalam percepatan penyediaan fasilitas pendidikan bagi masyarakat prasejahtera.

Di balik berdirinya sekolah tersebut, tersimpan harapan besar dari para orang tua yang selama ini kesulitan membiayai pendidikan anak.

Murni (39), warga Kabupaten Sragen yang bekerja sebagai pencari barang rongsokan, mengaku sempat cemas putrinya, Septiana Selfi Syafira, tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP karena keterbatasan ekonomi keluarga.

“Penghasilan suami saya sebagai buruh bangunan dan penebang tebu tidak menentu sehingga kebutuhan sehari-hari pun sulit dipenuhi. Saya sangat bersyukur karena melalui Sekolah Rakyat, putri saya dapat melanjutkan pendidikan tanpa dipungut biaya,” tuturnya.

Baginya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih masa depan yang lebih baik tanpa terbebani biaya pendidikan.

Penulis : Iwan Iswanda

Editor : Jaka N

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN