SEMARANG, Jatengnews.id – Pertumbuhan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Tengah (Jateng) belum sepenuhnya mencerminkan kondisi industri di tingkat perusahaan.
Di tengah nilai ekspor TPT Jateng yang mencapai USD1,65 miliar sepanjang Januari-Mei 2026, dua pabrik garmen justru menghentikan operasional. Dampaknya, sekitar 1.500 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dua perusahaan tersebut yakni PT Samwon Busana Indonesia di Kabupaten Jepara dan PT Victory Apparel di Kota Semarang.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng, nilai ekspor TPT pada Januari-Mei 2026 meningkat 5,88 persen dibandingkan periode yang sama 2025 yang tercatat USD1,56 miliar.
Namun, capaian tersebut masih sedikit di bawah periode Januari-Mei 2024 yang mencapai USD1,68 miliar.
Ketua Pokja Pengembangan Ekspor-Impor Disperindag Jateng, Nur Rahmi Sa’adah mengatakan, TPT masih menjadi komoditas ekspor nonmigas terbesar dari Jateng.
Setelah TPT, komoditas ekspor nonmigas terbesar berikutnya adalah alas kaki, kemudian barang dari kayu dan furnitur.
“Secara agregat kinerja ekspor TPT Jateng masih cukup baik,” kata Rahmi kepada awak media, beberapa waktu lalu.
Menurut Rahmi, berhentinya operasional dua pabrik garmen tersebut tidak otomatis menunjukkan industri TPT Jateng kehilangan daya saing di pasar ekspor.
Setiap perusahaan, kata dia, memiliki kondisi dan persoalan yang berbeda. Keberlangsungan usaha dapat dipengaruhi faktor internal, strategi bisnis, efisiensi, hingga tekanan eksternal.
Tekanan eksternal tersebut antara lain perlambatan permintaan, tingginya biaya produksi hingga persaingan di pasar global.
“Kami optimistis industri TPT Jateng masih memiliki daya saing. Terpenting adalah terus berinovasi, meningkatkan efisiensi, memperluas pasar ekspor, dan memanfaatkan berbagai fasilitas perdagangan internasional,” ucapnya.
Disperindag Jateng juga terus membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing ekspor. Salah satunya melalui penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA).
“Tentunya jika eksportir kita dapat memaksimalkan fasilitas SKA, maka dapat meningkatkan daya saing dengan negara lain yang memiliki produk sejenis dengan Indonesia, Jateng khususnya. Kami akan terus hadir sebagai mitra melalui pendampingan dan fasilitasi agar industri dapat terus berkembang dan menyerap tenaga kerja,” katanya.
Di sisi lain, persoalan yang dihadapi PT Samwon Busana Indonesia menunjukkan bagaimana tekanan pasar dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan perusahaan.
HR Manajer PT Samwon Busana Indonesia, Taufan Adi Susilo mengatakan, penurunan kinerja perusahaan mulai terasa signifikan pada 2023 hingga 2024.
Penurunan permintaan dan pemutusan kerja sama dari sejumlah pembeli menjadi salah satu faktor utama. Amerika Serikat yang selama ini menjadi pasar utama perusahaan disebut mengalami penurunan permintaan sekitar 30 hingga 40 persen.
“Bahkan ada buyer yang menghentikan order kepada kami,” kata Taufan kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).
Kondisi tersebut kemudian menekan kegiatan produksi perusahaan. Pelemahan nilai tukar rupiah juga turut meningkatkan tekanan terhadap biaya operasional.
Padahal, perusahaan telah berupaya mempertahankan kegiatan usaha dengan mencari pembeli baru. Tim pemasaran melakukan pendekatan dan lobi kepada sejumlah buyer.
“Tim marketing sudah berupaya melobi buyer, tetapi order tetap tidak mencukupi untuk menjalankan operasional perusahaan,” akunya.
Selama beroperasi, Samwon berfokus memproduksi kemeja untuk pasar ekspor Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.
Perusahaan juga sempat mencoba mengembangkan produk blus untuk memperluas pasar. Namun, langkah tersebut belum mampu mendongkrak permintaan.
Sementara itu, kondisi serupa terjadi di PT Victory Apparel di Kota Semarang.
Perwakilan manajemen PT Victoria Apparel, Fironikha Susyanti, tidak dapat memberikan keterangan mengenai kondisi perusahaan.
Ia mengatakan manajemen dilarang pemilik perusahaan memberikan informasi kepada media.
“Maaf, kami enggak boleh memberi pernyataan ke media,” kata Fironikha saat ditanya wartawan apakah dari pihak perusahaan ada yang ingin disampaikan seusai pertemuan dengan utusan Presiden, Senin (28/7/2026).
Berhentinya dua pabrik tersebut menunjukkan adanya jarak antara pertumbuhan ekspor secara agregat dengan kondisi yang dirasakan masing-masing perusahaan.
Nilai ekspor TPT Jateng memang masih tumbuh, tetapi sejumlah pelaku industri tetap menghadapi persoalan permintaan, biaya produksi, efisiensi, strategi bisnis, dan persaingan global.
Pada akhirnya, pertumbuhan ekspor belum otomatis menjamin seluruh perusahaan TPT mampu mempertahankan operasional maupun tenaga kerjanya.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N





