BATANG, Jatengnews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun 2026 menghadirkan inovasi sederhana dan ramah lingkungan melalui pemanfaatan galon bekas sebagai Lubang Resapan Biopori (LRB) di Desa Posong, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang.
Program tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam membantu masyarakat mengatasi persoalan pengelolaan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik yang berasal dari aktivitas dapur.
Gagasan pembuatan biopori berbahan galon bekas ini berawal dari hasil pendekatan mahasiswa dengan masyarakat Desa Posong. Dalam proses tersebut, mahasiswa menemukan masih terbatasnya kesadaran sebagian masyarakat dalam mengelola sampah organik. Sampah rumah tangga, khususnya sampah dapur, masih kerap dibakar di halaman rumah karena belum tersedia sistem pengelolaan yang sederhana dan mudah diterapkan.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa kemudian mengonsultasikan gagasan program kepada Kepala Desa Posong, Wasono Bagyo. Program tersebut mendapat respons positif dan dukungan dari pemerintah desa karena dinilai dapat menjadi alternatif pengelolaan sampah organik yang mudah diterapkan masyarakat.
Melalui inovasi biopori galon bekas, sampah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang terurai secara alami dan berpotensi menjadi kompos. Selain membantu mengurangi sampah, lubang biopori juga memiliki manfaat ekologis lain, seperti meningkatkan aerasi tanah, membantu menyuburkan tanah, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air.
Keberadaan biopori juga dapat menjadi salah satu upaya sederhana untuk mengurangi genangan air ketika musim hujan. Dengan meningkatnya daya resap air ke dalam tanah, risiko genangan yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pun dapat ditekan.
Tidak hanya memberikan sosialisasi, mahasiswa KKN-R Tim II UNDIP juga mengajak masyarakat terlibat langsung dalam praktik pembuatan dan pemasangan biopori.
Sebagai luaran program, mahasiswa menyerahkan sebanyak 20 unit galon biopori kepada masyarakat Desa Posong. Galon tersebut didistribusikan sebanyak lima unit untuk masing-masing RT. Selain itu, sebanyak 30 buku saku panduan pembuatan biopori dari barang bekas turut dibagikan kepada warga sebagai media edukasi yang dapat digunakan secara mandiri.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Warga mengikuti simulasi pembuatan hingga pemasangan biopori, sehingga diharapkan tidak hanya memahami manfaatnya, tetapi juga mampu membuat dan mengembangkan teknologi sederhana tersebut secara mandiri.
Mahasiswa berharap penerapan biopori dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan Desa Posong.
Program ini juga diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai buruh tani. Selain membantu mengelola sampah organik, peningkatan kualitas tanah dan ketersediaan air melalui penerapan biopori diharapkan dapat mendukung lingkungan pertanian yang lebih baik.
Pelaksanaan program Lubang Resapan Biopori tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-R Tim II UNDIP, Suwandi, S.A.P., M.Si., turut memberikan arahan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan.
Perangkat Desa Posong juga berperan sebagai fasilitator dalam menjembatani koordinasi antara mahasiswa, masyarakat, dan berbagai pihak yang terlibat.
Kolaborasi tersebut semakin kuat dengan keterlibatan kader kesehatan, kader PKK, tenaga pendidik, Karang Taruna, hingga masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Antusiasme warga, termasuk anak-anak, menjadi salah satu energi positif dalam pelaksanaan program. Partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara bersama-sama melalui teknologi sederhana yang mudah diterapkan.
Ketua Karang Taruna Desa Posong, Abdul Mustakim, S.E., menyampaikan bahwa program biopori galon bekas memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mendorong pengelolaan sampah yang lebih bijak.
“Kegiatan ini sangat membantu masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah agar lebih bijak,” ujarnya.
Mahasiswa KKN-R Tim II UNDIP berharap inovasi biopori berbahan galon bekas dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat Desa Posong.
Dengan memanfaatkan barang bekas sekaligus mengolah sampah organik, inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi langkah sederhana menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
Program ini sekaligus menjadi bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dalam menerapkan ilmu dan inovasi yang mudah diadopsi dalam kehidupan sehari-hari, sejalan dengan semangat “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat.”
Seluruh mahasiswa KKN-R Tim II UNDIP turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Posong, perangkat desa, para kader, Karang Taruna, serta seluruh masyarakat atas penerimaan, dukungan, dan bimbingan selama pelaksanaan kegiatan.
Melalui kolaborasi dan semangat gotong royong tersebut, mahasiswa berharap kebiasaan mengelola sampah secara lebih bijak dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Posong.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





