SEMARANG, Jatengnews.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong calon pemimpin untuk tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, mengambil keputusan, serta mempertimbangkan aspek kemanusiaan.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelatihan soft skill bertema “Lead Beyond: Leadership Skills for the AI Era” yang diikuti mahasiswa Magister Manajemen Soegijapranata Catholic University (SCU) di Hotel Quest Simpanglima, Semarang, Sabtu (22/8/2026).
Ketua Panitia Pelatihan Soft Skill Mahasiswa Magister Manajemen SCU, Ecclesias Almatea, mengatakan perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat kemampuan kepemimpinan menjadi semakin penting.
“Di tengah perkembangan yang semakin cepat, kita tidak hanya dituntut untuk mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana tetap menjadi pemimpin yang mampu beradaptasi, mengambil keputusan, dan memberikan dampak bagi orang lain,” ujarnya.
Menurut Ecclesias, melalui pelatihan tersebut mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi AI, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
“Kami berharap peserta tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi AI, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan yang relevan dengan perkembangan teknologi saat ini,” katanya.
Materi dalam pelatihan tersebut disampaikan Founder Indaya & Kreazona Indonesia, Harry Xiao. Peserta yang mengikuti kegiatan juga tidak hanya berasal dari mahasiswa Magister Manajemen SCU, tetapi dari berbagai daerah di luar Kota Semarang.
Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Manajemen SCU, Prof. Dra. Maria Yosephine Dwi Hayu Agustini, MBA, PhD, mengatakan pelatihan soft skill merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap awal semester.
Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik atau hard skill, tetapi juga mengembangkan soft skill secara seimbang.
“Ini merupakan kegiatan rutin dari Program Studi Magister Manajemen. Setiap awal semester, kami memberikan kegiatan kepada mahasiswa agar mereka tidak hanya memiliki kemampuan dalam hal pengetahuan atau hard skill, tetapi juga mengembangkan soft skill,” jelasnya.
Ia menjelaskan, tema pelatihan ditentukan berdasarkan kebutuhan mahasiswa, terutama karena sebagian besar mahasiswa Magister Manajemen telah bekerja. Masukan mengenai berbagai kebutuhan di dunia kerja kemudian didiskusikan dan dikembangkan menjadi tema kegiatan.
“Pemilihan tema dalam kegiatan ini disesuaikan dengan kebutuhan yang dirasakan saat ini. Kami menjaring masukan dari mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa Magister Manajemen sudah bekerja. Jadi, kebutuhan yang mereka hadapi di tempat kerja seperti apa, kemudian didiskusikan bersama dan diangkat menjadi sebuah tema,” katanya.
Tidak hanya menentukan tema, kepanitiaan kegiatan juga diserahkan kepada mahasiswa. Langkah tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk melatih kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama.
“Kepanitiaan kegiatan kami serahkan kepada mahasiswa. Ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran bagi mereka untuk menerapkan kemampuan leadership dan communication skill dalam kegiatan sederhana seperti ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Harry Xiao menyoroti tantangan yang muncul di tengah euforia perkembangan AI. Menurutnya, semakin banyak teknologi baru yang mampu mengerjakan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia.
Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 280 juta penduduk, dengan sekitar 70 persen berada dalam kelompok usia produktif 15–64 tahun. Kelompok tersebut membutuhkan lapangan pekerjaan dan berpotensi menghadapi persaingan dengan teknologi AI.
“AI tetap perlu dipelajari. Tapi jangan lupakan sisi-sisi humanitasnya. Itu yang paling penting, untuk mempertimbangkan mempekerjakan orang atau robot,” kata Harry.
Menurut dia, keputusan seorang pemimpin tidak cukup hanya didasarkan pada angka dan laporan produktivitas. Ketika perusahaan hanya melihat aspek efisiensi, penggunaan teknologi atau robot memang dapat menjadi pilihan. Namun, pemimpin tetap harus mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia.
Harry mencontohkan, AI dapat membantu memberikan informasi, berbagai pilihan, hingga rekomendasi bagi seorang pemimpin. Namun, teknologi tersebut tidak dapat mengambil konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
“Seorang leader tidak hanya berpikir berdasarkan angka-angka. Integritas dan humanitas juga harus dipertimbangkan. AI bisa memberi informasi, opsi, dan rekomendasi, tapi tidak bisa mengambil konsekuensi yang harus ditanggung,” tuturnya.
Karena itu, menurut Harry, tanggung jawab tetap berada di tangan pemimpin ketika mengambil sebuah keputusan.
“Tanggung jawabnya tetap di tangan leader. Konsekuensinya ada di tangan leader, bukan di tangan AI,” tegasnya.
Pelatihan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa Magister Manajemen SCU untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan sekaligus memahami bagaimana memanfaatkan AI secara bijak tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pengambilan keputusan. (01).
Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara





